Diari Tesis Bag. 10: Apa Materialisme dan Antimaterialisme Itu Part 1

Aku tengah mengalami kesulitan. Entah apa sebabnya, aku merasa tidak mengerti apa yang sebenarnya kucari lewat penelitianku tentang antimaterialisme ini. Pertanyaan penelitiannya memang sederhana: seperti apakah sikap hidup yang tidak materialistis itu? Namun, ketika semua hal sudah dijalani, termasuk proses analisis data yang menguras tenaga dan pikiran itu, jawaban yang kuperoleh tidak sederhana. Aku menduga, mungkin pertanyaan penelitianku kurang fokus atau terlalu lebar. Kini aku harus bergelut dengan sedemikian banyak temuan yang tidak tahu harus kuapakan untuk dijadikan jawaban yang konklusif.

Melakukan penelitian kualitatif sama seperti bermain puzzle yang lebih sulit. Ketika bermain puzzle biasa, tugas kita hanyalah menyusun kembali keping-keping puzzle yang lepas dan berantakan menjadi seperti gambar aslinya. Keping-keping itu, kita amati potongan gambar yang ada padanya dan kita tahu, kira-kira ini letaknya di sini dan di situ. Lalu, satu demi satu kita rangkai keping-keping itu ke bingkainya, dengan bantuan pola-pola yang diberikan di permukaannya. Kita juga mendapatkan bantuan dari mencermati bentuk keping-keping puzzle. Jika sisi yang bergelombang hanya ada tiga dan satunya rata, maka itu keping itu pasti untuk bagian pinggir gambar. Hubungan antarkeping kita tahu dari tampak lahiriahnya karena keping yang satu pasti berpasangan dan cocok dengan keping lainnya.

Ketika meneliti secara kualitatif, prinsipnya sama adalah menyusun keping-keping temuan menjadi sebuah gambar. Hanya persoalannya, yang membuatnya lebih sulit, pertama, keping-keping temuan itu bukan hal yang sudah disediakan pabrik, melainkan kita konstruksi sendiri berdasarkan data pengalaman subjek kita.

Kedua, gambar yang jadi acuan pun bukan hal yang sudah ditentukan dari awal. Tidak ada bahkan yang namanya gambar acuan. Mau membentuk gambar apa temuan-temuan kita itu adalah kreativitas peneliti yang melihat kira-kira keping-keping itu akan membentuk gambar seperti apa. Baik keping-keping temuan dan gambar besarnya adalah hasil konstruksi peneliti.

Ketiga, semua tergantung kemampuan memahami dan penafsiran peneliti. Dari data yang sama, dua peneliti yang berbeda dapat membuat keping-keping temuannya sendiri untuk ia susun membentuk gambar kesukaannya sendiri, sesuai pemahaman dan penafsirannya sendiri. Itu kalau penelitinya ada dua. Kalau penelitinya cuma satu, tetapi jika dari waktu ke waktu pemahaman dan penafsirannya berubah, maka temuannya pun akan berubah!

Keempat, data tidak bersifat material yang punya properti fisik yang tetap, yang hubungan antara satu dan lainnya dapat diketahui hanya dari memperhatikan bentuk. Satu keping temuan dapat memiliki seribu wajah; kompleks. Antara satu dan lainnya, korespondensinya tidak satu-satu, melainkan membentuk macam jaring laba-laba di mana semua hal dapat saling terhubung atau dihubung-hubungkan. Satu kata, satu frasa, satu kalimat, dapat memiliki berbagai makna, makna yang dalam, dan juga luas. Dunia kualitas, semakin digali ya semakin dalam.

Harus ada titik di mana peneliti berkata pada dirinya sendiri, “Sudah, cukup.”

Jadi, tebaklah apa persoalanku. Aku tidak mudah berkata cukup pada diriku sendiri. Karena aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan. Keping-keping temuan sudah semua di tanganku, akhirnya setelah empat bulan bekerja. Sekarang, pekerjaanku menuntutku untuk kreatif karena ada gambar yang harus kuciptakan. Aku sudah membuat beberapa gambar, tetapi belum ada satupun yang membuatku puas. Gambar-gambar itu berubah dari waktu ke waktu; dan itu berarti bongkar pasang keping-keping temuan.

Mengapa bisa tidak puas begini. Aku sadar, akarnya adalah ketidakmengertianku sendiri. Dan kini, aku jadi bertanya-tanya, apa sebetulnya mengerti itu. Mengerti itu jika: 1) kau tahu APA, 2) kau tahu MENGAPA, dan 3) kau tahu BAGAIMANA. Aku belum mendapatkan jawaban yang pas untuk tiga macam pertanyaan itu.

Aku bertanya, mengapa bisa aku tidak mengerti. Aku bukan tidak tahu, tetapi aku tidak mengerti. Kukira sebabnya adalah isi kepalaku terlalu berantakan, kacau, seperti isi laci yang semrawut sehingga barang-barang hilang di dalamnya. Dengan tulisan kali ini, aku ingin membongkar, menuang keluar semua isi laci itu, lalu kutata kembali satu per satu isinya di dalamnya.

***

Aftina, apa sih antimaterialisme itu?

Antimaterialisme itu sikap hidup yang menolak materialisme. Materialisme itu paham yang meyakini bahwa materi (berupa uang, harta benda, kekayaan, dan barang-barang) adalah hal yang sangat penting/ paling penting dalam hidup. Mengapa materialisme itu ditolak? Itu karena materialisme adalah keyakinan yang merugikan jika dijadikan pandangan hidup dan prinsip-prinsip yang membentuk sikap terhadap kehidupan.

Pertama, materialisme itu mempengaruhi sikap seseorang terhadap kehidupan yang dijalaninya. Orang yang materialistis jadi mementingkan materi, mengutamakannya di atas apapun, menjadikannya prioritas, pusat perhatian, orientasi, dan tujuan utama pencapaian-pencapaiannya. Akibatnya, ia mengabaikan hal-hal lain yang juga penting dalam hidup, seperti Tuhan, agama, keluarga, teman, hubungan sosial, kemanusiaan, lingkungan, intelektualitas, dan sebagainya.

Kedua, karena materi penting bagi dirinya, ada tidaknya materi menjadi masalah besar dalam hidupnya. Kebahagiaan hidupnya tergantung pada materi. Rasa aman dan tenteramnya tergantung pada materi. Ia takut kekurangan, takut kemiskinan, takut kehabisan, takut kehilangan. Padahal, keberadaan materi tidak abadi. Materi itu datang dan pergi, bisa hilang. Akibatnya, orang yang materialistis jadi tidak bahagia, terutama karena ia dibebani pula oleh dampak-dampak pengabaiannya terhadap hal-hal yang nonmaterial yang pasti menimbulkan masalah.

Ketiga, materialisme sebagai keyakinan yang bersumber dari dunia eksternal berkorespondensi dengan hasrat material yang inheren dalam diri seseorang. Nilai materialisme mendukung pelampiasan hasrat material yang seharusnya dikendalikannya. Materialisme menanamkan etika bahwa yang memiliki materi (memiliki yang banyak, yang bagus, dan yang mahal) adalah yang baik, yang sukses, yang mulia di antara orang-orang. Sikap ini mendorong keserakahan (memiliki sebanyak-banyaknya) dan kekikiran (memberi sesedikit-sedikitnya), sikap berlebihan dalam membelanjakan uang dan menggunakan barang-barang demi kepuasan dan kesenangan pribadi, juga persaingan dengan orang lain dalam pemilikan materi.

Tunggu. Bagaimana kita tahu seseorang itu materialistis? Dan juga… kukira sebenarnya kita tidak bisa bersikap munafik. Materi itu memang penting. Kalau aku kerja buat cari uang, apakah itu berarti aku materialistis? Kalau kamu menabung biar uangku banyak, apakah aku materialistis? Aku tidak merasa yang kulakukan itu merugikanku.

Ya. Pertanyaan bagus. Ini awalnya juga problem bagiku. Sebagai peneliti yang juga manusia, aku tahu pentingnya uang dan barang-barang bagi hidupku. Jadi, bagaimana bisa kecenderungan kita pada materi ini merugikan? Tapi, dari subjek-subjekku aku belajar untuk membedakan bahwa ada “materialisme yang bisa diterima” dan ada “materialisme yang beracun”.

Materialisme yang beracun?

Hu um. Materialisme yang beracun. Jadi begini. Sebelum membahas tentang materialisme, ada baiknya kita bahas sedikit tentang hasrat material yang ada di diri setiap orang. Suka, butuh dan ingin materi adalah hal yang natural. Kita menganggap materi itu penting juga adalah natural, karena kita memang membutuhkannya. Materi itu penunjang dan pemelihara hidup kita; tanpa materi kita bisa mati. Materi juga jadi alat kita untuk mencapai tujuan-tujuan kita, pendukung kita untuk mewujudkan keinginan-keinginan kita. Karena kita butuh materi, dan karena kalau kita tidak memilikinya kehidupan kita kacau dan kita tidak bisa menjalankan tugas kita dengan baik, maka kita mencarinya, berusaha memilikinya, menyimpan, dan menjaganya baik-baik.

Hal yang seperti itu, sampai derajat tertentu, kita materialistis juga, tetapi materialistisnya kita bisa diterima. Sebabnya adalah karena dasar kita adalah kebutuhan kita, ada kondisi kekurangan yang nyata-nyata perlu kita tutupi agar hidup kita tetap berjalan dengan baik, sesuai dengan peran kita apakah itu sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, siswa, pekerja, dan sebagainya, atau pula hamba Tuhan. Materialisme yang seperti itu berdampak positif. Kita menginginkan materi demi tujuan-tujuan hidup kita yang lebih besar, bukan demi materi itu sendiri, hasrat-hasrat atau kepuasan diri kita semata.

Dari situ, apakah bisa menebak seperti apa materialisme yang beracun?

Aku sepertinya tahu. Aku tahu. Materialisme yang beracun itu materialisme yang kita ingin materi itu demi kepuasan diri kita saja, cuma keinginan-keinginan kita saja, bukan kebutuhan, kan?

Cukup benar, tetapi belum sepenuhnya tepat. Ingat bahwa materialisme membuat kita mengabaikan hal-hal lain selain materi? Tapi, coba dipikir, mengapa cuma materi yang kita perhatikan?

Mengapa? Karena materi penting bagi diri kita.

Nah, itu! DIRI. Ada sesuatu dalam materialisme yang sesungguhnya juga dipentingkan selain materi, yaitu diri kita. Diri. Ego. Apakah kamu tidak merasakan bahwa pengejaran-pengejaran kita pada materi sebetulnya adalah pengejaran-pengejaran kita akan kepentingan-kepentingan diri kita? Materialisme itu berkorespondensi dengan hasrat material yang merupakan properti dari kedirian kita.

Orang materialistis adalah orang yang sangat mementingkan materi. Tapi sebetulnya, bersama dengan itu, ia juga sangat mementingkan dirinya sendiri; kehendak-kehendaknya, keinginan-keinginannya, kepentingan-kepentingannya yang ingin diwujudkannya dengan materi. Dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh materialisme sebetulnya bukan merupakan akibat dari nilai materialisme yang dianutnya semata, tetapi juga merupakan akibat dari egoismenya. Ego dirinya yang butuh materi. Orang yang sangat materialistis selalu dikenal sebagai seorang yang sangat egoistis. Ia mementingkan hasrat-hasratnya sendiri, kepuasannya sendiri. Ia mementingkan dirinya sendiri, semaunya sendiri. Ia memaksakan kehendak, tidak mau diatur dan tidak mau tunduk pada apapun, karena ia menganggap bahwa dirinya yang paling penting. Aturan Tuhan, hukum, norma sosial, dan moralitas adalah nomor sekian karena yang penting adalah dirinya dan hasrat-hasratnya.

Materialisme yang beracun adalah materialisme yang egoistik ini. Seorang yang materialistis-egoistis, hasrat-hasrat materialnya menjadi dorongan yang merusak, kerugian yang ditimbulkannya luas, tidak lagi terbatas pada dirinya sendiri. Egoisme itu yang membuatnya mengabaikan aturan dan bahkan tega mengorbankan orang demi materi yang diinginkannya. Dengan dukungan egoisme inilah hasrat-hasrat material yang didorong oleh nilai-nilai materialistis menjadi lebih mungkin terwujud ke kenyataan dalam bentuk perilaku-perilaku yang materialistis yang memuaskan hasrat material.

Akan beda ceritanya ketika seseorang materialistis, tetapi dia masih ingat orang lain dan Tuhan, dengan yang cuma fokus pada dirinya sendiri. Pada orang pertama, ketidakegoisannya membuat dia merasa bersalah jika melampiaskan hasratnya sehingga merugikan orang lain atau berusaha patuh pada aturan demi tidak merugikan orang lain. Demi orang lain, dia pun berupaya menahan hasartnya. Pada orang yang kedua, masa bodoh. Ketidakegoisan menunjukkan bahwa meskipun materi penting, di atas materi masih ada hal lain yang lebih penting.

Yang dilawan oleh antimaterialisme adalah materialisme yang egoistik ini. Materialisme yang beracun.

Kenapa bisa ada ya orang yang beracun atau egoistis begitu?

Sebenarnya banyak faktornya mungkin. Tapi yang kutahu, ini persoalan pendidikan dan bagaimana seseorang diasuh oleh keluarganya. Dari subjek-subjekku, aku belajar tentang bagaimana bisa mereka jadi tidak egoistis. Mereka hidup bersama keluarga, merasakan penderitaan bersama keluarga misal karena masalah ekonominya dan masalah-masalah lainnya, merasakan kasih sayang orangtua dan mengetahui kerja keras dan pengorbanan orangtua demi diri mereka dan saudara-saudara mereka, dan diajarkan agama, salah satunya untuk suka menolong orang dan mau berbagi, tidak materi yang dipunya dimakan sendiri.

Hidup yang kaya pengalaman hidup bersama itulah yang membangkitkan jiwa sosial yang merupakan antitoksin egoisme. Ketika mereka mau materialistis, mereka tidak jadi melakukan itu adalah karena mereka tidak ingin menyusahkan keluarga. Mereka kasihan pada orangtua yang mencari uang; sangat tidak bermoral jika uang tersebut mereka pakai buat foya-foya dan sebagainya. Mereka ingin bekerja dan mendapatkan uang pun sebagian untuk orangtua atau keluarga mereka, untuk menjadi anak yang berbakti seperti yang diperintahkan Tuhan. Jadi, di atas materi, masih ada hal yang lebih penting, yaitu keluarga dan Tuhan.

Hmm… Jadi, orang yang materialistis itu selain dia mementingkan materi, juga mementingkan diri sendiri.

Ya. Kita mementingkan materi itu jika pertama, kita merasa materi sangat penting dan sangat menentukan bagi diri dan hidup kita. Kedua, jika kita menganggap materi itu sumber kepuasan dan rasa aman diri kita. Maksudnya, kita baru bisa senang, merasa puas, dan tenang jika ada materi di tangan kita. Ketiga, jika kita menjadikan materi sebagai ukuran kehidupan yang baik, ukuran kesuksesan kita, dan ukuran kemuliaan diri di tengah masyarakat. Keempat, jika kita menganggap dan menjadikan materi sebagai alat utama untuk meraih keinginan-keinginan kita tentang hidup yang baik.

Kita materialistis itu kalau kita merasa akan jadi orang gagal yang hidupnya susah dan tidak punya masa depan, kalau tidak punya harta, kalau kita miskin; kalau kita menganggap uang itu segala-segalanya, kalau dengan uang itu semua masalah bisa selesai. Kalau kita merasa kehormatan dan harga diri kita jatuh kalau kita kehilangan kekayaan; kalau kita sedih sekali jika tidak bisa memiliki. Kalau kita merasa diri kita jelek kalau kita tidak bisa pakai barang bagus. Itu dari kriteria yang materialistis

Kalau dari yang egoistis, kita materialistis jika demi uang kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, kita tega mengorbankan orang lain demi mendapatkannya. Jika karena uang kita bisa memutuskan hubungan dengan orang lain. Jika demi pekerjaan dan uang yang dihasilkannya kita mengabaikan keluarga, mengabaikan ibadah, mengabaikan kewajiban sosial. Selanjutnya, bayangkanlah sendiri.

 

Hmm… I see it now. Materialistic people is thus very disgusting. 

Yes. Kamu akan membenci mereka terutama jika kamu pernah menjadi korban mereka. Apakah itu berupa pelecehan karena gayamu terlalu sederhana dan tidak mengikuti tren, atau karena barang-barang milikmu murah, atau berupa kejahatan. Ada subjek saya yang sampai dibuat sedih sekali karena uangnya digelapkan oleh temannya. Ia ditipu. Ada subjek saya pula yang cerita bagaimana temannya menipu orangtuanya karena uang sakunya yang seharusnya buat sekolah ia pakai untuk belanja. Padahal temannya itu dari keluarga tidak mampu. Begitulah, materialisme egoistik.

Aftina, diskusi kita sudah panjang sekali. Kamu sudah nulis sampai dua ribu kata lebih! Tidak capek?

Tidak. Senang sekarang. Pikiranku sudah lebih jelas. Sebagian isi laci sudah mulai kutata. Bagaimana kalau kita lanjutkan ini besok. Kita sama sekali belum membahas tentang antimaterialisme.

Setuju. Eh, boleh kutahu, kenapa sih kamu meneliti tentang materialisme dan antimaterialisme ini?

Ahaha… jadi malu. Ini sebenarnya karena aku sendiri punya masalah dengan materialisme dalam diriku sendiri. Apa kamu tidak pernah merenungkan ketidakbahagiaanmu yang salah satu sebabnya adalah persoalan materi? Juga, Allah kan memerintahkan kita untuk hidup sederhana, suka sedekah, dan tidak cinta dunia. Aku ingin tahu sebenarnya apa maksud Allah memerintahkan demikian. Aku tidak percaya bahwa perintah-perintah Tuhan tidak memiliki makna bagi psikologi.

Sip. Besok pagi disambung lagi ya.

See you!

***

Alhamdulillah… terima kasih teman imajinasi, alias diriku sendiri. Selama ini butuh teman diskusi, tetapi tidak pernah punya. Tidak masalah. Aku bisa menciptakan teman untuk berdiskusi dalam kepalaku sendiri😀😀 Ahaha.

Soal tesisku… Apa sebaiknya aku menuliskannya secara lebih natural seperti ini ya? Sepertinya ide bagus, pemecah kebekuan dan kebuntuan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s