Memahami Islamisme Bag. 2: Islamisme sebagai Nilai Personal

“Ingatlah, bahwa Islam bukan Allah meski dalam Islam ada Allah yang diposisikan sebagai Tuhan.”

— AM

***

Membedakan Islam dan Islamisme

Saya belajar tentang macam-macam nilai yang dianut manusia dan pengaruhnya pada sikap dan perilaku seseorang. Sesuatu menjadi nilai ketika sesuatu itu dianggap sebagai yang paling penting dan menentukan, seperti materialisme -> pandangan mementingkan materi di atas apapun. Ini sama seperti Islamisme -> pandangan mementingkan Islam di atas apapun. Akibat isme-isme di mana pun adalah pengabaian, peremehan, penolakan, atas hal-hal lain di luar apa yang dipentingkan tersebut.

Apa yang mengganggu saya selama ini, jika sebenarnya Islamisme merupakan suatu bentuk penyimpangan dalam Islam sebagai agama. Saya selalu ingat pada satu hadist tentang lima penjagaan Islam: Islam adalah agama yang menjaga AGAMA, JIWA, KEHORMATAN, AKAL, dan HARTA, yang mana semua itu adalah unsur-unsur kemanusiaan. Syariat Islam dan semua bentuk ibadah bertujuan untuk menjaga kelima hal tersebut.

Itulah Islam sebagai agama. Islam ada untuk menjaga manusia. Agamanya. Jiwanya. Kehormatannya. Akalnya. Hartanya.

Ketika Islam menjadi isme, Islam dianggap penting di atas apapun, di mana orang-orang yang menganut paham ini jadi menempatkan dirinya sebagai penjaga Islam, bukan lagi khalifah yang mengemban tugas menjaga kemanusiaan oleh Tuhan dengan Islam yang diturunkan sebagai cahaya bagi manusia. Di mana letak penyimpangannya? Pertama, karena orang-orang ini sudah menuhankan sebuah paham, yang mana itu berupa keyakinan religius. Kedua, karena orang-orang ini sudah menyerobot tanggung jawab Allah sebagai Pemelihara dan Penjaga Islam yang sebenarnya.

Akhirnya, dapat saya mengerti mengapa para Islamis memiliki semacam keangkuhan dan bertindak semacam Tuhan. Ini mungkin hal yang tidak disadari, dan tentu tidak diakui secara sadar: menganggap diri sebagai kaki dan tangan Tuhan membuat mereka “menjadi Tuhan”. Inilah kesyirikan yang tersembunyi, yang membuat mereka menjadi Fir’aun masa kini yang mengatakan dirinya tuhan lantaran rasa berkuasa mereka, bahwa mereka adalah kesayangan Tuhan, bahwa Tuhan menyukai semua yang mereka lakukan “demi Islam”.

Adakah orang-orang yang demikian melakukan apa yang diperintahkan Islam untuk dengan Islam menjaga agama, jiwa, kehormatan, akal, dan harta manusia? Allah telah “mengikhlaskan” bahwa manusia akan berbeda-beda dalam agama dan keimanan, tetapi mereka ingin kesamaan dan menjadi momok orang-orang yang berbeda keyakinan. Allah menjadikan pembunuhan sebagai kejahatan terbesar, tetapi mereka dengan tidak takut membunuh manusia yang tidak tahu apa-apa dalam jihad-jihad mereka. Allah mendorong manusia untuk menggunakan akal, belajar, dan berpikir, tetapi mereka memasok pikiran orang dengan doktrin, keyakinan-keyakinan palsu, dan membenci siapapun yang mengkritisi mereka; mencap semua yang berpemikiran berbeda sebagai kafir atau sesat.

Inilah Islamisme. Akhirnya, saya bisa membedakan antara Islam dan Islamisme. Alhamdulillah, Allah membuat saya belajar psikologi dan membuat saya sampai di sini.

 

History of Islamism

 

***

Apa yang ingin saya tahu?

  1. Sejarah dan latar belakang Islamisme. Secara psikologis, ingin membuktikan hipotesis inferiority complex.
  2. Detail Islamisme, mulai dari ideologi sampai praktik-praktik di lapangan
  3. Psikologi Islamisme dan dampak-dampaknya dalam kehidupan, baik yang positif dan negatif
  4. Telaah kritis Islamisme dari perspektif agama Islam itu sendiri
  5. Bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim di abad ini? Kondisi-kondisi apa yang perlu diperhatikan?

 

One thought on “Memahami Islamisme Bag. 2: Islamisme sebagai Nilai Personal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s