Memahami Islamisme Bag. 3: Islamisme dalam Islamisasi Ilmu (Psikologi)

1# Sering berpikir tentang proyek Islamisasi ilmu, tepatnya pada gagasan menjadikan Al Quran sebagai sumber inspirasi penyelidikan ilmiah yang cenderung menganut keyakinan Bucailleism bahwa Al Quran adalah kitab sains.

Banyak mahasiswa muslim pegiat Psikologi Islam terjebak di dalam pemikiran itu, sehingga salah satu pendekatan pengembangan Psikologi Islam adalah mencari ayat Al Quran mana yang kira-kira, mirip-mirip, menyiratkan teori-teori psikologi modern, dan kemudian membuat klaim: Itulah Al Quran, segala pengetahuan ada di sana lebih dulu ketimbang apa yang ditemukan orang-orang modern.

Satu contohnya yang populer adalah “ayat behaviorisme” tentang pengkondisian (lihat QS Al Maidah ayat 4). Pernah seorang dosen kudengar sampai berujar, kurang lebih, bahkan sebelum Pavlov, Al Quran sudah menyatakannya. Atau ayat-ayat “life span development” (lihat QS Al Hajj: 5; Al Mu’min ayat 67).

Prinsipnya: lihat ilmu dengan Al Quran, pas atau tidak; jangan sampai dibalik prosesnya, lihat Al Quran dengan ilmu, pas atau tidak.

2# Satu bentuk pendekatan lainnya adalah dengan berusaha membuktikan kebenaran Islam dan Al Quran, membuktikan keampuhan ayat ini dan itu untuk mengobati gangguan ini dan itu, keampuhan ibadah ini dan itu untuk mengatasi ini dan itu, dan dihasilkanlah (harapannya) terapi-terapi religius, terapi-terapi yang Islami. Ini menghasilkan artikel-artikel dan buku-buku macam keajaiban puasa, keajaiban salat, keajaiban dzikir, keajaiban membaca Al Quran.

Mereka tidak mempertimbangkan bahwa terapi religius cenderung terbatas pada permasalahan-permasalahan psikologis-spiritual individual, tidak bisa dipakai untuk solusi permasalahan psikologi kelompok dan persoalan-persoalan yang makro dan lintas bidang ilmu. Dan dengan itu, mengklaim universalitas psikologi Islam, bahwa psikologi Islam adalah “mazhab kelima” psikologi yang paripurna.

3# Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan dekonstruksi “psikologi Barat”, mencari-cari cacat dan cela paradigma-paradigma psikologi yang dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat. Buku andalannya adalah Dilema Psikolog Muslim dari tahun 70-an.

Terlalu fokus ke sana sampai-sampai tidak melihat bahwa hampir 50 tahun berlalu sejak buku itu diterbitkan, dan pembicaraan mengkritik psikologi melulu soal paradigma psikoanalisa dan behaviorisme klasik yang hampir obsolet, sudah mulai ditinggalkan. Karena terlalu terpaku pada itu pula, terabaikan perkembangan terbaru dalam psikologi yang sudah memunculkan paradigma kognitif, evolusioner, neurosains yang didukung teknologi canggih, psikologi kritis; tidak memperhatikan bahwa psikologi abad 21 ini sudah inklusif dan sensitif pada konteks dan budaya, termasuk budaya masyarakat muslim.

4# Pendekatan lain adalah menggali khazanah ilmu nafs klasik dari “zaman keemasan Islam” di abad 10-13 untuk membangun teori-teori psikologi Islam. Dengan literatur asli yang sudah langka, literatur-literatur ini diperlakukan seperti Al Quran, harus sebaiknya dibaca oleh orang yang bisa berbahasa Arab agar tidak salah dipahami, sehingga tentu hanya segelintir orang yang bisa. Dan apakah kembali ke masa lalu lebih berharga daripada menghadapi masa depan dengan masalah-masalah pelik yang mungkin tidak bisa dipecahkan dengan teori-teori kuno?

5# Pendekatan lain adalah dengan menggali khazanah sufisme. Tetapi, entahlah apakah ini akan diakui sebagai ilmu dan apakah bisa diaplikasikan ke orang umum bukan sufi karena sifatnya yang eksklusif. Selain itu, apakah ini juga dapat diterima oleh semua kalangan muslim dan tidak dianggap nyeleneh?

***

Setidaknya ada lima pendekatan itu yang kudeteksi, dan semuanya sebenarnya intinya satu, berhubungan dengan gagasan besar mengembalikan kembali kejayaan peradaban Islam dan kalahkan barat. Pemikiran kaum Islamis dari kelompok intelektual psikologi. Supremasi Ilmu-ilmu Islam, Kejayaan Peradaban Islam dan Ilmu Pengetahuannya, Kesesatan Ilmu Barat, dan sebangsanya.

Ilmu memang tidak mungkin bebas nilai, tetapi nilai-nilai itu tidak semua aspeknya sehat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kecenderungan sebagian kalangan muslim saat ini adalah menjadikan ilmu pengetahuan budak agama, bahwa fungsi ilmu yang utama adalah membuktikan kebenaran dan mendukung supremasi agama bahwa Islam itu yang paling benar dan satu-satunya yang benar.

Tujuan ilmu pengetahuan seperti sekadar untuk membuat orang berseru, “Wah, ajaib, subhanallah.” Ketika dikata mukjizat nabi adalah Al Quran yang menggugah rasionalitas (salah satu kualitas insani yang membuat manusia makhluk-Nya yang sempurna), kini sebagian orang Islam justru berpikir terbalik, menggunakan Al Quran untuk berburu “mukjizat”, terpukau ada lafaz Allah di awan, di batu, di daun, dan yang seperti itu.

Mereka yang sungguh-sungguh ilmuwan mungkin dapat memahami bahwa keyakinan semacam itu, tidak sepenuhnya tepat; karena ilmu pengetahuan sifatnya tentatif sehingga kebenarannya saat ini yang dipandang membenarkan Islam, dapat berubah. Mereka pun berhati-hati dan membatasi klaim-klaim mereka. Tetapi, orang Islam awam, yang sudah berhenti belajar, dan cuma tahu tentang strategi-strategi dan pergerakan politik, tidak akan berpikir sepanjang dan sedalam itu, dan menggunakan bahan apa saja yang ada agar orang terkagum-kagum pada khazanah keilmuwan Islam dan mendukung gerakan mereka. Bahkan sampai ada yang menciptakan hoax untuk menyuburkan iman (!)

Ada pula kecenderungan memfalsifikasi teori-teori dan terapan ilmu masa kini, bukan dengan hasil penyelidikan ilmiah terbaru, melainkan dengan ayat-ayat dan hadist-hadist. Ada yang menolak bahwa zaman prasejarah dengan segala dinosaurus, manusia purba dan peradabannya itu ada, bahwa fosil-fosil itu bohongan, karena Allah menurunkan Adam dan Hawa sudah sebagai manusia sempurna. Ada yang menolak sistem politik modern yang merupakan hasil evolusi pemikiran manusia yang berusaha memecahkan masalah politiknya dari masa ke masa, karena Allah menghendaki sistem khilafah. Ada yang menolak sikat gigi karena nabi bersiwak dan siwak dianggap lebih sehat dan direstui agama.

Pemikiran sebagian muslim saat ini telah mandeg. Pengetahuan adalah apa-apa yang cocok saja dengan Al Quran dan Hadist. Ilmu yang diakui dan dianggap penting hanyalah ilmu agama, yang akan membawa manusia ke surga. Ketika ajaran agama harus diamalkan dengan ilmu, banyak yang menganggap bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama, bukan ilmu lainnya yang diperintahkan Allah untuk juga dikembangkan dengan cara memperhatikan alam semesta, masyarakat manusia, dan diri manusia sendiri. Ketika ada hadist tinta ulama lebih berharga daripada darah syuhada, ulama itu dianggap hanya ahli-ahli agama, bukan orang-orang yang menggunakan penglihatan dan akalnya.

Jika di tanya apa guna ayat-ayat Allah yang ada di alam, jawabnya adalah itulah bukti kebesaran dan petunjuk akan keberadaan Allah. Tetapi, apakah benar terasa kebesaran dan keberadaan Allah di dalam hati mereka? Sekarang ini, hampir tidak ada lagi manusia seperti Ibrahim, semua telah puas dan mengimani begitu saja bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan itu esa, karena kitab berkata demikian dan memerintahkan manusia percaya demikian agar selamat. Mereka tidak berpikir lagi, dan karena itu tidak merasakan dan mengalami rasa kebersatuan dengan Tuhan dari menyadari betul bahwa semua adalah milik-Nya, bahwa semua persoalan ada di dalam Genggaman-Nya.

Manusia tidak akan merasakan kekerdilan diri di hadapan Tuhan sampai ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan alam semesta yang diciptakan-Nya tak bertepi. Jika manusia lebih banyak menunduk untuk membaca kitab, bagaimana ia akan pula mengarahkan pandangannya untuk mengamati dunia, dan memikirkan ciptaan Allah yang dirusak, memikirkan jalannya kehidupan yang kacau balau karena perbuatan dirinya sendiri?

Andai orang banyak tahu bahwa kebenaran itu adalah ketika ilmu yang diperoleh dari kitab dan yang diperoleh dari mengamati alam, merenungkan masyarakat, kehidupan, dan eksistensi diri, saling bergandengan tangan sebagai tiga sahabat yang sama-sama berjalan menuju Tuhan.

 

Human and Universe 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s