Diari Tesis Bag. 11: Mari Persiapan Semhas! ^_^/

My Thesis

 

Jika ditanya, takut atau tidak, jawabanku adalah tidak. Aku justru excited! Akhirnya seminar hasil juga. It is very much rewarding to reach this point, finally. Setelah proses penelitian, analisis data, dan penulisan hasil yang panjang, memusingkan dan melelahkan itu, akhirnya aku dapat sampai pada saat di mana hasil penelitianku akan dibaca dengan kritis dan akhirnya diakui. Ahaha… aku berharap dibantai oleh dosen-dosenku di ruang ujian nanti😀

Aku yang sekarang mengerti apa arti sidang-sidang seperti ini. Ini bukan ajang menjatuhkan atau meremehkan mahasiswa. Sidang-sidang ini adalah cara yang dibutuhkan untuk menguji validitas temuan. Bagi orang yang bercita-cita jadi ilmuwan dan menghasilkan sebuah teori, ini adalah titik terpenting untuk mencapai karya yang lebih baik. Aku ingin melihat apa yang ternyata kulewatkan dan tidak kupertimbangkan. Aku ingin ditanya, aku ingin pengetahuanku soal topikku dieksplorasi, aku ingin bisa memberikan sesuatu.

Aku nangis. Rasanya sangat berterima kasih dan bersyukur… Hampir satu setengah tahun hanya bersama data sejak ia masih rekaman dan data kasar, lalu proses coding yang bertahap-tahap, pembacaan berulang yang tidak terhitung lagi, asumsi-asumsi yang runtuh, bongkar pasang puzzle dinamika psikologis, hari-hari kebingungan dan tidak tahu harus berpikir dan menulis apa, hari-hari tidur yang dimimpikan adalah tesis, hari-hari dengan kegetiran melihat teman lulus satu demi satu, dikejar-kejar ibu dan dosen pembimbing yang terus bertanya kapan selesai…

Andai ada yang bisa merasakan yang kurasakan. Pengalaman mengerjakan tesis bukan hanya pengalaman dan latihan intelektual, tetapi juga spiritual. Banyak saat di mana yang kulakukan hanya melihat langit dan bilang, “Allah, tolong… Aku nggak tahu ini harus diapakan lagi, aku nggak tahu harus bagaimana…” Semua akhirnya selalu bisa diterobos. Dinding-dinding yang tebal ternyata bisa dilewati. Alhamdulillahirabbil’alamin…

Malam ini aku punya agenda penting untuk persiapan seminar hasil. Mari kita mulai saja, apa yang kira-kira ingin kusampaikan di ruangan nanti. Aku membayangkan di depanku ada Bu A, Bu M, dan Pak A, serta teman-teman sekalian…

***

Latar belakang dan permasalahan penelitianku sebetulnya sederhana. *Akhirnya pula aku bisa melihatnya secara sederhana; berasa review puluhan artikel penelitian tentang materialisme itu telah tertransendensi… Permasalahan yang dihadapi dunia psikologi telah konklusif bahwa orientasi hidup yang materialistis terbukti memberikan dampak negatif di berbagai aspek kehidupan, mulai dari well-being personal, kehidupan keluarga dan relasi sosial, prestasi dan performa kerja dan belajar, sampai persoalan-persoalan ekonomi dan lingkungan. Orang tidak dapat dibiarkan lagi menjadi materialistis sehingga kebutuhan riset saat ini adalah membangun strategi untuk mencegah dan mengatasi materialisme yang destruktif, salah satunya dengan mencari tahu apa yang dapat melawan materialisme atau antimaterialisme.

Tujuan penelitianku sederhana: sekadar mengeksplorasi seperti apa sikap hidup yang tidak materialistis yang dengan itu aku bisa membangun konsep antimaterialisme. *Geli aku kalau mengingat, sebenarnya tidak bijak memulai penelitian dengan pertanyaan “seperti apa”. Itu tidak spesifik dan tidak jelas batasannya. Digali sedalam apa, setelusuri ke mana pun, yang namanya eksplorasi tidak akan menemukan titik akhir. Ya, ini kesalahan pertamaku yang kusadari betul sekarang. Hasilnya terlalu luas dan dalam, yang konsekuensinya harus kutanggung selanjutnya.

Aku memilih penelitian eksploratif karena dua alasan. Pertama, antimaterialisme tidak dapat diderivasi dari teori-teori materialisme yang sudah ada. Teori materialisme sebagai orientasi nilai individual hanya menyiratkan orang yang tidak materialistis adalah orang yang rendah dalam pengukuran materialismenya. Dikatakan ia memiliki tujuan-tujuan hidup yang lebih tinggi dari materi, tidak menjadikan materi kunci kebahagiaan, dan ukuran kesuksesan (menginsyaratkan dianutnya nilai-nilai hidup yang lain), tetapi lantas apa tujuan, sumber kebahagiaan, dan ukuran hidup baiknya? Sebagian pertanyaan tersebut dijawab oleh teori kedua yang memandang materialisme sebagai aspirasi finansial. Orang yang tidak materialistis lantas adalah orang yang tidak mengaspirasikan materi (*ini tidak masuk akal), dan menjunjung tinggi aspirasi-aspirasi intrinsik, seperti afiliasi, rasa komunitas, dan penerimaan diri. Basis teori tersebut adalah teori motivasi, bukan teori nilai. Kedua, tentu saja, sebagai orang Indonesia dan muslim, aku tahu teori-teori tersebut mengandung bias budaya karena dikembangkan di Barat. Macam aspirasi-aspirasi intrinsik yang orientasinya kepuasan dan kesenangan (enjoyment) pribadi, itu sangat antroposentris dan individualistis.

*Geli keduaku, di titik ini. Jelas ini kebodohan keduaku sebagai peneliti yang terlambat paham paradigma penelitian yang kupakai, yaitu konstruktivisme sosial. Paradigma ini mengakui peran peneliti sebagai koproduser data dan interpretasi-interpretasinya yang sedikit banyak pasti mengandung subjektivitas, tetapi anehnya, aku takut keislamanku mempengaruhi hasilku. Apa yang kulakukan awalnya adalah membangun asumsi bahwa antimaterialisme ini tidak ada hubungannya dengan spiritualisme atau hal-hal yang sifatnya ruhaniah. Argumenku adalah aku tidak mau terjebak dalam dikotomi materi-spirit. Mungkin ini keputusan yang bagus sebagai epoche, tetapi akibatnya kurasakan ketika menganalisis data, aku buntu menghadapi data yang mengungkapkan aspek keruhanian. Akhirnya, aku tak bisa menutup mata lagi, spiritualitas memang bermain, sekecil apapun perannya itu. Bahkan partisipanku yang ateis pun bisa bersyukur (!) dan merasa puas dengan hidupnya. Dari pengalaman ini aku bisa merasakan apa itu temuan dari data. Asumsi yang kubuang akhirnya kupungut lagi. Ini bahkan bukan asumsi lagi. Ini temuan yang berbasis data.

Metode penelitian yang kugunakan adalah grounded-theory. Ini adalah mimpi yang terwujud, atas rahmat Allah aku bisa. Sejak awal mendaftar S2, aku sudah bertekad mau mencoba pendekatan ini. Entah mengapa, aku ingin ahli dalam metode penelitian kualitatif. Dulu S1 sudah fenomenologi (dan membuatku menelan buku-buku metode penelitian fenomenologi), kali ini harus berbeda demi mengasah kemampuan. Tentu saja masih ada cacatnya, tetapi aku sedikit banyak merasakan metode penelitian yang powerful untuk membangun teori ini. Di masa depan aku ingin bisa metode yang lebih kompleks lagi. Mungkin jika berkesempatan S3, aku ingin menguji temuan kali ini dengan penelitian kuantitatif. Aku ingin mencoba SEM!😀 :D Di kesempatan selanjutnya aku ingin jago statistika sampai yang termutakhir! Ya Allah, kabulkanlah… Kabulkanlah…

***

Lanjut pada temuan.

1# Sikap Hidup Tidak Materialistis

Bagaimana detailnya terlalu banyak untuk diceritakan di sini. Tapi intinya, orang yang tidak materialistis itu tiga:

Pertama, dia menganut nilai-nilai hidup yang berorientasi transendensi diri dan materialisme yang moderat. Nilai-nilai transendensi diri itu adalah integrasi tiga nilai, yaitu nilai religius, nilai sosial, dan nilai ekonomi untuk kesejahteraan. Dalam keyakinannya, orang yang tidak materialistis memiliki pemaknaan tentang nilai penting materi yang berimbang (tidak berlebihan), mengutamakan pandangan-pandangan hidup nonmaterial (Tuhan, keluarga, kemanusiaan, relasi yang harmonis, keseimbangan lahir batin), dan bersikap moderat dalam menginginkan, memiliki, dan menggunakan materi.

Kedua, dia mengaspirasikan hal-hal yang nonmaterial di atas materi, yaitu takwa kepada Tuhan, bakti pada orangtua (filial piety), kebermanfaatan diri pada sesama, relasi sosial yang harmonis, dan hidup cukup lahir dan batin. Ia tetap mengaspirasikan materi, tetapi ia menjadikan materi itu sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih besar tersebut di atas. *Omong-omong, sebetulnya temuan ini melampaui gagasan “materialisme instrumental” atau “materialisme awal” yang dianggap sebagai materialisme yang dapat diterima. Pada dua materialisme itu, materi dianggap sebagai instrumen, tetapi baru sebatas instrumen untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang kebanyakan adalah fisik; macam manusia memang butuh materi untuk hidup dan bertahan. Mungkinkah ini materialisme yang tercerahkan???   o.O   Oh, tidak. Aku lupa memasukkan pemikiran ini dalam bab pembahasan. Baru terpikir sekarang!

Ketiga, dia hidup secara sederhana dan dermawan pada orang, dan lebih penting dari dua hal itu, ia senantiasa mengendalikan hasrat materialnya. Tiga hal ini harus integral dalam diri seseorang baru ia dapat dikatakan benar-benar tidak materialistis, karena ada orang dermawan yang hidupnya bermewah-mewah dan ada pula orang sederhana tetapi menderita karena tidak bisa menemukan kebahagiaan dari berbuat baik pada orang, sementara dirinya tidak puas dengan hidupnya yang pas-pasan. Tiga cara hidup inilah yang membawa seseorang pada kesejahteraan dan kebahagiaan.

“Sebuah definisi yang lebih baik akan berupa, ‘cukup bagi suatu kehidupan yang sederhana dan murah hati’, karena jika kualitas-kualitas ini dipisahkan, kemurahan hati akan disertai oleh kemewahan, dan kesederhanaan disertai oleh penderitaan. Hanya itulah satu-satunya kualitas yang diinginkan dalam pemanfaatan kekayaan; orang tidak dapat, misalnya, [disebut] menggunakan kekayaan dengan hati yang lembut atau semangat yang gagah; tetapi orang dapat menggunakannya baik dengan jiwa yang sederhana maupun dengan murah hati. Oleh karena itu, kualitas-kualitas ini harus termasuk di dalam penggunaan kekayaan.” 1265a 28

— Aristoteles, “Politik”, h. 61

 

2# Masih ada tiga lagi, tapi aku capek menceritakannya sekarang…

Aku hanya sekarang membayangkan, kira-kita apa ya kata dosen-dosenku…

Mungkin, “Mbak, penelitianmu ini melebar ke mana-mana. Tidak fokus.” Akan kujawab, “Sebenarnya bukan tidak fokus. Saya fokus di sikap hidup tidak materialistis. Tetapi ternyata di perjalanan saya menemukan hal-hal lain yang tidak terduga dan saya tidak bisa mengabaikan hal tersebut karena hal tersebut penting. Temuan utamanya adalah sikap hidup tidak materialistis, tetapi saya juga menemukan ternyata materialisme itu ada dua jenis yang masing-masing punya karakter dan memberikan dampak yang berbeda. Saya juga menemukan detail bagaimana proses pengendalian hasrat material. Soal faktor-faktor pengaruh memang saya akui masih dangkal karena dukungan datanya relatif kurang, tetapi bagi saya itu adalah awal bagi penelitian selanjutnya.”

Mungkin… “Ini kesimpulannya jelek. Coba diperpadat jadi cuma satu atau dua paragraf saja.” Aku, “Oke, Pak!” “Ini sarannya tidak sesuai dengan manfaat yang diharapkan yang ditulis di bab satu.” Aku, “Oke, Pak!” Tapi, aku menambahkan, “Sebetulnya saya masih ragu-ragu bahwa penelitian ini bisa memberikan kontribusi praktis. Sifat penelitian ini masih eksplorasi. Validitas eksternalnya belum beruji, ia sebagai konstruk psikologis pun belum valid. Jadi, sebelum diterapkan atau digunakan untuk menjelaskan fenomena pada konteks yang berbeda, sebaiknya ada penelitian lanjutan. Yang saya tulis di tesis masih mengarah, jujur saya, Pak.”

Mungkin… Terkait pengembangan alat ukur. “Antimaterialisme ini konsep psikologis yang unidimensional, bidimensional, atau multidimensional?” Jawabku, “Ini multidimensional. Ia bukan unidimensional karena ia bukan konsep yang spesifik dan hanya punya satu gejala. Meski demikian, setiap elemennya sebenarnya dapat dibuat alat ukur tersendiri yang sifatnya unidimensional, misal nanti skala nilai antimaterialisme, indeks aspirasi, atau skala kemampuan mengendalikan hasrat.”

Selanjutnya, mungkin tentang pembahasan. Apa ya… “Bagaimana kamu menjamin kredibilitas penelitianmu? Kan kamu memasang tiga kriteria, yaitu goodness of fit, validasi eksternal, dan refleksivitas.” Kujawab, “Untuk yang pertama, saya melakukan itu ketika proses analisis data tahap coding awal. Saat itu, untuk menggunakan kode, saya sebisa mungkin menggunakan istilah yang digunakan oleh partisipan. Jika istilah itu tidak ada, saya gunakan kata-kata saya sendiri yang sebaik mungkin menggambarkan apa yang dipaparkan partisipan. Saya tidak menggunakan jargon-jargon psikologi. Kalaupun ada yang sepertinya jargon psikologi, saya menggunakan itu sebagai istilah yang umum, seperti: aspirasi, kebutuhan, kebahagiaan. Saya mengecak kesesuaian ini berkali-kali dan ada kalanya saya menggantinya dengan lebih pas atau fit.”

“Untuk yang kedua, saya akui ada persoalan. Saya sudah memaparkan itu di bagian keterbatasan penelitian, yaitu ada beberapa hal yang tidak saya cek dengan triangulasi pihak ketiga, terutama untuk data tentang faktor pengaruh yang melibatkan peran orang lain. Selain itu, saya tidak pula melakukan triangulasi metode, misal melengkapi data wawancara dengan observasi. Alasannya adalah saya sudah mendapatkan data wawancara yang besar dan jika observasi hanya sebagai pelengkap, saya tahu itu kurang berguna. Jadi, observasi tidak saya lakukan sejak awal. Selain itu, banyak data yang saya butuhkan adalah pengalaman internal partisipan yang hanya partisipan yang tahu. Jadi, tidak ada gunanya bertanya pada orang lain untuk mengecek kebenarannya. Kebenaran saya cek dengan membandingkan data partisipan satu dengan lainnya, apakah konsisten dan menunjukkan kecenderungan yang sama. Ini saya lakukan lewat prosedur constant comparison.”

“Untuk yang ketiga… Saya ambil data tujuh bulan lamanya, analisis data enam bulan lamanya. Itu waktu yang benar-benar panjang dan saya gunakan sebaik mungkin untuk berefleksi tentang temuan-temuan saya. Saya tahu bahwa penelitian grounded theory butuh waktu lebih dan tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Dalam proses refleksi banyak yang saya kerjakan, mulai dari memikirkan data, merevisi macam-macam hubungan antardata, membuat catatan-catatan yang berkembang dari waktu ke waktu, mengkritisi pemikiran dan tulisan saya sendiri. Hasilnya bagaimana adalah apa yang ada pada tesis saya itu.” Sip.

Lainnya. Mungkin tentang… Aku membayangkan ini akan ditanyakan Bu M. “Di pembahasan, kamu membahas temuan dengan teori nilai, tetapi di bab tinjauan pustaka, kamu tidak menulis tentang teori nilai. Apa tidak sebaiknya kamu tambahkan teori itu?” Aku, “Itu betul, Bu. Waktu saya membuat bab dua, saya benar-benar tidak terpikirkan bahwa hasil saya akan sangat berkaitan dengan nilai. Nilai saya bahas sedikit sekali di bagian teori sikap, sebagai salah satu faktor pembentuk sikap. Saya kira sudah cukup seperti itu. Selain itu, saya juga merasa perlu berhati-hati agar saya tidak tahu terlalu banyak sebelum penelitian. Itu untuk berjaga-jaga agar saya tidak memiliki asumsi yang bisa merugikan. Saya perlu memiliki awal yang segar. Tapi, bagi saya memang penting untuk saya tambahkan setelah ini. Kan semua sudah selesai :)”

Apa lagi ya… “Apa yang membuat penelitian kamu berbeda?” Jawabku, “Penelitian saya tidak sepenuhnya berbeda. Jikalau ada yang berbeda, sebenarnya itu menambahkan apa yang sudah ada. Seperti yang sudah saya paparkan, teori nilai materialisme kurang di bagian ia tidak mengeksplisitkan nilai-nilai apa yang menunjukkan seseorang tidak materialistis. Ia mengisyaratkan nilai agama dan sosial. Tapi, saya menemukan bahwa nilai antimaterialisme tidak sesederhana itu, bukan sekadar nilai yang berlawanan dengan materialisme, melainkan integrasi nilai-nilai transendensi diri dan itu bisa lebih dari dua nilai religius dan sosial. Selain itu, dalam antimaterialisme pun terkandung materialisme yang moderat sampai rendah. Jadi, bukan sama sekali anti materialisme.”

“Pada teori aspirasi finansial, teori tersebut membatasi apa yang materialistis pada aspirasi-aspirasi yang sifatnya ekstrinsik. Yang saya temukan, materialisme tidak berdiri sendiri melainkan disertai egoisme yang karena itulah seseorang dapat mengabaikan sosial dan Tuhan demi materi, atau memanfaatkan sosial dan agama demi materi. Selain itu, aspirasi-aspirasi nonmaterial pun bukan hanya berupa aspirasi-aspirasi yang intrinsik. Takwa pada Tuhan dan bakti pada orangtua adalah tujuan yang ekstrinsik, tetapi bermanfaat. Ingin hidup cukup lahir batin, itu ekstrinsik, tetapi secukupnya.”

“Terakhir mungkin, teori materialisme yang ada tersebut baru menjelaskan materialisme sebatas nilai dan aspirasi, sementara saya menyelidiki sampai aspek motivasional (hasrat material) dan perilakunya. Saya kira ini masukan yang penting karena mengatasi materialisme tentu bukan hanya menurunkan dianutnya nilai materialisme, tetapi juga mengubah perilaku. Nah, teori ini kurang wawasan tentang perilaku materialistis dan tidak materialistis. Ada disebutkan soal kesederhanaan dan kedermawanan, tetapi tidak tentang pengendalian hasrat material.” Sip.

Apa lagi? “Bagaimana kamu menghadapi bias partisipan yang mayoritas perempuan, muslim, dan dari keluarga menengah?” Ahhh… “Itulah, Pak, Bu. Saya tidak sengaja dapat partisipan yang seperti itu. Bagaimana ceritanya sudah ada dalam tesis. Memang ini kemudian jadi bias karena temuan saya menggambarkan dunia kehidupan mereka yang mayoritas. Karena itu, saya menyarankan agar siapa yang ingin menggunakan penelitian saya tidak serta-merta menggunakannya sebelum diuji transferabilitas dan generalibilitasnya, baik dengan penelitian kualitatif atau kuantitatif. Terutama ini jika menyangkut partisipan atau subjek baru yang beragama berbeda. Ini karena antimaterialisme sangat dipengaruhi oleh keyakinan religius dan filsafat moral.”

Apa lagi? “Tesismu terlalu tebal… Bisa tidak cuma 150 atau 200 halaman saja?”

-_- Apakah itu mungkin dibahas di seminar nanti???

***

Agenda besok adalah membaca seluruh tesis dari awal sampai akhir🙂 dan menyelesaikan materi presentasi.

 

Syukur alhamdulillah. Ya Allah, semoga semua baik-baik saja. Berikan hamba kesehatan dan pikiran yang jernih🙂 Terima kasih untuk semuanya😀

2 thoughts on “Diari Tesis Bag. 11: Mari Persiapan Semhas! ^_^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s