Story of The Week: Kucing

Sudah lama sekali tidak menulis cerpen. Sedikit melankoli ketika merenungkan kucing. Kutahan lapar sampai selesai menuliskannya.
***

KUCING

Aku heran dengan banyaknya kucing di lingkungan tempat tinggal budhe, datang dan pergi mengunjungi rumah kami. Ada yang hitam seram seperti kucing setan. Ada yang abu-abu gendut dan tampak penyakitan. Beberapa berbulu oranye yang biasa dan sama sekali tidak menarik. Ada yang hitam putih, oranye putih, hitam-putih-oranye. Semuanya kucing liar, tapi pernah datang kucing mahal dengan leher berkalung lonceng. Punya tetangga, entah dari rumah yang mana. Sombongnya, kucing yang di-“pus, pus” tak menoleh sedikit pun.

Aku ke Jogja bukan hanya untuk belajar psikologi, tetapi secara tidak kurencanakan maupun kuinginkan, juga untuk melakukan studi terhadap kucing. Dapat delapan jam sehari atau bahkan lebih sampai jauh tengah malam dan bahkan menjelang subuh, aku duduk di depan laptop untuk bekerja. Kamarku ada di lantai dua, sebuah kamar tambahan yang sejajar dengan atap dan terpisah dari rumah utama. Di depan kamarku ada beranda yang luas dan terbuka tempat jemur pakaian, tempat favoritku untuk mengamati langit, fajar dan senja. Jendela kamar satu-satunya adalah jendela nako yang sudah dol, tepat di sebelah kanan meja belajarku.Jendela itu sering tetap kubuka sampai malam untuk meringankan suhu panas dalam kamar yang berdinding kayu. Setiap duduk bekerja, menoleh ke kanan sedikit saja, aku mendapatkan pemandangan terbuka dan pemandangan kucing berlalu-lalang di depanku. Begitulah awalnya.

Ada sejumlah “ketergangguan” yang disebabkan oleh kucing yang menarik perhatianku dan membuatku jadi pengamat kucing…

Pertama, ada seekor kucing jantan berkali-kali mengencingi sudut kamarku, tepatnya pada kardus tempatku menyimpan koran-koran dan barang-barang tak berguna lagi. Menjijikkan! Ketika sedang buang hajat semacam itu, kucing itu berani sekali dan tidak mau pergi sebelum selesai. Aneh sekali. Aku mengkhawatirkan rak sepatuku, karena kucing ini kencing berpindah-pindah, kalau tidak di sudut itu, ia kencing di tempatku menaruh payung dan gayung tak terpakai. Oh baguslah. Mungkin kucing seperti singa, perlu menandai wilayah kekuasaannya? pikirku. Tapi yang jelas, jika kucing itu datang lagi, sebelum ia sempat mengangkat kaki belakangnya, aku ambil langkah lebih dulu dengan cepat-cepat keluar kamar dan meneriakinya, mengancamnya dengan kakiku yang seakan-akan hendak menendangnya. Aku tidak perlu mempelajarinya lebih jauh lagi. Sudah cukup aku menoleransi kebiasaan “buruk” buang air sembarangan ini demi keingintahuanku.

Kedua, ada saat-saat dua pasang jantan dan betina datang dan melakukan ritual kawin, menggerung-gerung dengan suara serak di atas atap sampai dapat empat jam lamanya non-stop! Atau antara dua jantan memperebutkan satu betina! Atau antara dua jantan berkelahi untuk alasan yang tidak aku mengerti apa! Ya Tuhan, mengapa tidak langsung terkam saja, dan berhenti membuat kebisingan? Pernah akhirnya sampai kusiram air, yang akhirnya malah terpercik ke diri sendiri, atau kusenteri mata mereka biar pergi. Aku berseru-seru bodoh, “Hus! HUS!” yang tidak digubris oleh mereka. Ingin sekali aku bisa bahasa kucing! Apakah kucing juga saling menggoda atau saling memaki satu sama lain setiap kali mereka berinteraksi seperti itu? Apa ya yang mereka bicarakan… Sambil menikmati udara malam yang dingin, sering aku jadi berakhir duduk di beranda, mengamati mereka.

Ketiga, pernah ada kejadian kucing mati di plafon membuat rumah selama seminggu berbau bangkai. Itu membuatku menyadari satu hal, betapa seringnya aku melihat kucing hidup, tetapi tidak pernah melihat kematian mereka. Kucing-kucing hidup pasti akan menjadi kucing-kucing mati. Tapi, di mana kucing-kucing itu mati? Dan apa yang terjadi pada mereka ketika mati? Ini sungguh-sungguh persoalan. Di pemukiman padat yang semua tanahnya sudah disemen, tidak ada tanah yang bisa dijadikan tempat menguburkan bangkai binatang apapun. Aku bertanya pada budhe, apa jadinya kucing yang mati di plafon setelah berhasil dievakuasi oleh tukang yang akhirnya dipanggil budhe? Jawabnya, dimasukkan dalam tas kresek dan dibuang ke tempat sampah. Glek, memang tidak ada cara lain, aku menelan ludah. Itu… menjijikkan dan berbahaya. Sungguh berat pekerjaan tukang sampah di kota. Selama ini aku hidup, setahuku tukang sampah yang berkeliling di kompleks hanya menangani sampah rumah tangga yang tidak mungkin termasuk bangkai di dalamnya! Aku tidak bisa membayangkan sampah mamalia besar yang sudah berbelatung, selain tikus atau ayam yang biasa ada di rumahku di Semarang.

Keempat, kucing-kucing memang sebagian adalah maling. Berkali-kali ikan goreng atau lauk-pauk yang susah-susah dimasakkan ibu dari Semarang digondol oleh mereka yang berhasil menyelinap dan naik ke meja makan. Aku selalu mengikhlaskan karena itu rezeki mereka, tetapi terkait gangguan yang terakhir inilah budhe jadi senang bercerita tentang kesukaannya meng-“grujug” kucing-kucing nakal dengan air panas. Sebetulnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana beliau melakukannya. Apakah begitu ada kucing beliau langsung lari ke dapur mengambil termos dan mengejar kucing itu? Aku dengarkan saja cerita itu tanpa mempercayainya. Cuma yang jelas, sikap budhe terhadap kucing benar-benar negatif. Sering sekali ketika aku duduk cantik di kamar dengan tugas-tugas, kudengar “Hayo! Hayo!” budhe dengan galaknya untuk mengusir kucing.

Nah, jika keempat yang pertama berfokus pada kucing dan masalah-masalah yang ditimbulkan mereka, yang kelima adalah, yang paling unik, adalah perubahan sikap budhe yang jadi “pencinta” kucing pada pertengahan tahun lalu. Awalnya aku aneh, kok ada kucing di rumah, tetapi tidak budhe “hayo-hayo!” seperti biasa. Pernah akhirnya aku yang berinisiatif mengusir, tetapi budhe justru melarang, “Biarkan saja. Itu memang biar di sini.” What? “Buat mengusir tikus.” Haha… I see.

Selain masalah kucing, sebenarnya budhe juga punya masalah dengan tikus. Tikus-tikus got menimbulkan masalah serupa dari nomor satu sampai empat sama seperti kucing, mulai dari kencing di dapur yang membuatku mengkhawatirkan leptospirosis, mengacak-acak tempat sampah, membuat keributan di atap, melubangi dinding kamarku yang cuma dari kayu, mati di mana-mana karena akhirnya kami berinisiatif meracun mereka, dan jadi maling yang lebih menjengkelkan karena bisa bersembunyi di korden.

“Sebenarnya njelei, ada tikus dan kucing di rumah… Kalau disuruh milih ya tidak milih dua-duanya. Tapi kalau ada kucing, tikusnya kurang.” Itulah sebabnya, akhirnya budhe memelihara seekor kucing liar di rumah. Kucing betina yang manis, berbulu hitam putih yang banyak putihnya. Oleh cucu budhe, kucing ini dinamai “Blacky”. Haha… Dasar bocah PAUD, asal saja memberi nama, menurutku. Tapi, okelah. Akhirnya Blacky menjadi anggota keluarga kami. Ia diberi “kamar” oleh budhe di dua gudang besar di belakang rumah. Di situ ia punya piring sendiri yang dua kali sehari budhe taruh nasi dan gereh. Blacky si kucing liar cepat menjadi kucing rumahan manja. Tidak dibiarkan masuk ke dalam rumah, tetapi sering sekali ia tiduran di kursi plastik kesayangan budhe yang ada bantal duduknya, tempat budhe leyeh-leyeh saban sore dan budhe tidak mengusirnya. Kucing ini selain bertugas menjaga rumah dari tikus, juga menjadi mainan cucu budhe. Awalnya aku tak mau menyentuhnya karena ada tanda-tanda ia berkutu dan sakit kulit, dan mungkin saja akan menyebarkan virus tokso. Tapi, lama-lama, jadi sayang juga. Caranya mengeong itu, lho. Manis sekali.

Sejak ada Blacky di rumah aku jadi belajar membedakan antara mana kucing jantan dan mana kucing betina dari wajahnya. Ternyata kucing jantan punya wajah yang lebih bundar dan galak, sementara kucing betina punya wajah yang mungil. Selain itu, namanya kucing betina, cepat atau lambat juga akhirnya membawa kucing jantan ke rumah. Benar saja. Bersama dengan menetapnya Blacky di rumah, sering datang seekor kucing jantan tua ke rumah. Budhe sering bilang, “Mungkin itu suaminya.” Ahaha… masa. Tapi mungkin benar, karena tak lama setelah itu si Blacky hamil. Dan suaminya tetap datang, hanya kucing jantan itu yang datang, membuatku berpikir bahwa mungkin kucing menerapkan monogami.

Dari waktu ke waktu perut Blacky makin besar dan akhirnya ia melahirkan pada Desember tahun lalu. Itulah waktunya di Facebook aku mendapatkan banyak “laporan” dari teman-teman yang menceritakan lahirnya anak-anak kucing. Sepertinya kucing punya musim kawin dan musim melahirkan. Aku tidak tahu kapan tepatnya Blacky melahirkan anak-anaknya, tetapi sepertinya pada waktu aku tidak di Jogja karena pulang ke Semarang. Balik-balik ke Jogja, di gudang tahu-tahu saja ada kardus berisi anak kucing tiga ekor. Mungil-mungil. Lucu sekali.

“Budhe, kucingnya sudah melahirkan!” Aku senang dan budhe pun senang. Budhe bahkan menceritakan soal kekagumannya pada Blacky. Ia cerita bagaimana Blacky pandai mencari tempat untuk melahirkan. Beberapa hari sebelumnya, budhe melihat Blacky mondar-mandir seperti kebingungan. Belakangan ketahuan dia melahirkan di gudang, di dalam kardus yang “dia persiapkan sendiri” lengkap dengan alas koran dan perca. Wah, bagaimana bisa?

Sejak ada anak-anak kucing itu, aku punya hiburan selain musik, film-film, tesis, dan naskah cerita di laptop. Tiga anak kucing itu, dua jantan, satu betina. Satu berbulu hitam putih yang mukanya seperti pakai topeng. Satu berbulu hitam, oranye, dan putih yang merata. Satu berbulu hitam, oranye, dan putih yang dominan. Beberapa kali sehari aku jadi punya kebiasaan mengecek anak-anak kucing itu di gudang, iseng saja. Pas tidak ada induknya, aku duduk berjongkok di samping kardus, mengamati dalam diam sambil mengelus-ulus kepala mereka. Ya Tuhan, kecil sekali. Tulang-tulangnya terasa di jari-jariku. Rasanya rapuh sekali. Matanya masih terpejam dan dikotori kotoran mata kuning. Belum bisa bersuara.

Cuma, pas induknya datang, aku cepat-cepat berdiri dan mundur beberapa langkah. Kucing betina ternyata jadi galak sekali sehabis melahirkan. Jahat sekali, seperti tidak kenal aku, padahal sebelumnya sering bermanja-manja padaku dan minta makan.

Calm down, calm down,” kataku menenangkan, mencoba berbicara padanya. “I just want to see the kittens. They are so adorable…” Aku sering menjadikan kucing teman berbicara dengan bahasa Inggris untuk melatih kemampuan berbicaraku dalam bahasa Inggris.

“Grrrrrr…”

Okay, okay.”

Kucing itu masuk ke dalam kardus. Menjilat-jilati bulu anak-anaknya yang sudah terkontaminasi sentuhanku. Dia lalu menyusui anak-anaknya dan ikut tidur bersama anak-anaknya. Sayang sekali dia.

Suatu hari, aku kaget. Lho, Blacky dan anak-anaknya tidak ada lagi di kardus. Aku jadi merasa bersalah. Apa mereka pergi gara-gara aku terlalu ikut campur? Cuma akhirnya, aku tahu, ternyata mereka cuma pindah tempat ke gudang sebelah. Tempat tinggal mereka sekarang di sudut tempat tidur tingkat besi yang teronggok, berdebu di gudang, tertumpuk-tumpuk dan tertutup aneka barang. Budhe kemudian menceritakan sebuah mitos, “Kata orang, kucing tidak berhenti memindahkan anak mereka sampai sembilan kali. Kalau sudah sembilan, baru berhenti.”

Aku buktikan, mitos itu salah. Kucing itu pindah karena merasa terganggu, dalam kasus Blacky, adalah olehku. Setiap kali mencuci pakaian di belakang rumah dan menunggu ember penuh air, aku pasti mampir melihat anak-anak Blacky. Blacky kuhitung hanya memindahkan anaknya empat kali. Satu kali lagi ke sudut gudang yang lain, satu kali lagi ke gudang sebelumnya. Tidak sempat sampai sembilan kali karena akhirnya anak-anak kucing itu jadi besar dan tidak bisa digotong-gotong lagi.

Januari, Februari, Maret, April, Mei… Bersama dengan perjuanganku menyelesaikan tesis, anak-anak itu semakin besar. Senang sekali mengamati bagaimana akhirnya mereka belajar berjalan dan mengeong. Akhirnya, mereka belajar menjelajah. Gudang tidak cukup, mereka pergi ke tempat cuci pakaian, gudang sebelah, dan betul-betul keluar dan menikmati kebebasan di halaman rumah, dan hidup bersama kami. Budhe senang dengan anak-anak kucing. Kadang kulihat, beliau duduk mengamati mereka. Melihat anak-anak kucing itu bermain, kata beliau, jadi ikut senang. Budhe sering mengajak cucunya untuk melihat kucing itu, dan cucunya kegirangan.

Anak-anak Blacky belajar makan. Ternyata, kucing lahir sama seperti manusia: tidak ada giginya! Meski tidak punya gigi, ketika sudah lebih besar, mereka tetap menelan ikan dan nasi. Anak-anak Blacky melompat-lompat kesana-kemari, bahkan bisa berdiri dengan dua kaki belakangnya saja, berakrobat! Manjat sana, manjat sini. Sama seperti anak manusia kecil yang juga mencoba ini dan itu. Mereka mengamati air bekas cucian yang mengalir, bermain dengan sapu, mencakar-cakar apapun di gudang, kaget dengan binatang lain. Dan, mereka sangat curiga pada manusia. Tidak seperti Blacky yang berangsur-angsur jadi baik lagi, anak-anak ini sulit sekali diambil hatinya. Untungnya mereka jinak. Kadang aku jahil, kutangkapi mereka, atau kusodok-sodok dengan lidi.

Anak-anak Blacky belajar bertarung. Whoa… saling bernyerang satu sama lain, mencakar, beguling-guling. Mereka berusaha menyerang tali apapun, plastik apapun, atau berusaha mengalahkan ekor ibunya yang dikibas-kibarkan sembai ia duduk malas memejamkan mata. Memanjat-manjat tubuh ibunya. Berebut dengan makin kasar susu ibunya. Tendang sana, seruduk sini. Dan ibunya, tampak sayang dan menjaga sekali. Setiap anaknya kusentuh, selalu ia lalu menjilat-jilati mereka. Mungkin aku bau, menurut hidungnya.

Ternyata ibu kucing pun tidak pasif. Suatu hari kulihat Blacky mengajari anak-anaknya bertarung dan memanjat. Aku kagum sekali. Setiap ada makanan, ibunya memberikannya pada anaknya dulu. Itu interaksi yang menyentuh hati. Setiap malam mereka tidur bersama, kini, melingkar berdekatan di atas keset di depan pintu ruang tengah. Gara-gara kebiasaan ini, pernah suatu hari aku menjepit kepala salah satu anaknya dengan pintu. Aku menyaksikan bagaimana ibu kucing langsung melompat siap menyerangku begitu mendengar anaknya menjerit kesakitan. Aku pun kaget sekali dibuatnya.

Ketika usia anak-anak Blacky mulai lima bulan, sepertinya Blacky mulai mengajarkan kemandirian. Blacky mulai meninggalkan anak-anak mereka, entah kemana, meski kemudian datang lagi untuk menyusui mereka. Mereka mulai Blacky ajak berkunjung ke rumah tetangga sebelah, membuatku berpikir, meskipun budhe memelihara Blacky, Blacky sebetulnya tidak merasa dipelihara oleh budhe. Dia bebas ke mana-mana. Waktu Blacky meninggalkan anak-anaknya semakin lama semakin lama. Anak-anaknya sering bertiga saja sendirian di rumah, tetapi kemudian mulai tidak pulang kalau sudah main ke tetangga. Di rumah sebelah memang ada apa sih? Aku melongokkan kepalaku mencari tahu, tetapi tidak dapat yang kuinginkan. Mungkin ibu sebelah juga sayang pada Blacky dan anak-anaknya.

Suatu ketika aku melihat Blacky mengajak anak-anaknya jalan-jalan di atap… bersama-sama di bawah sinar bulan.

Aku tidak tahu bagaimana kucing-kucing yang awalnya punya ibu dan saudara-saudara menjadi kucing-kucing liar sendirian. Karena Blacky dan anak-anaknya sering tidak di rumah lagi, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi sehingga aku tidak bisa menelusurinya. Cuma setelah bulan keenam aku jadi sering melihat Blacky tanpa anak-anaknya, atau anak-anaknya tanpa Blacky. Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan melihat mereka yang dulu lagi, karena rasanya semua berubah menjadi “kejam” dalam sekejap. Blacky seperti bukan lagi seorang ibu, pada waktunya. Dua anak Blacky yang jantan akhirnya sudah pergi entah ke mana, tak pernah pulang. Kini, tinggal si anak perempuan sendirian yang masih bertahan ngintil ibunya.

Kucing seperti terprogram untuk melupakan dan membenci anaknya sendiri. Blacky tidak lagi berbagi makanannya untuk anaknya yang telah besar. Jika kuberi makan, Blacky makan sendiri dan anaknya mengeong-ngeong lapar dibiarkannya. Blacky dan anaknya pernah kulihat bersaing demi makanan. Pernah anaknya menjulurkan satu kakinya untuk mengambil telur yang kuberikan, Blacky menyeringai dan mendesis padanya, membuat anaknya takut dan pergi. Seakan anak itu adalah saingan atau musuhnya.

Mungkin anaknya itu masih mau menyusu, atau mungkin sekadar dekat pada ibunya. Aku lihat anak itu mencoba dekat-dekat ibunya, tetapi Blacky mencakarnya. Aa… jangan, kataku dalam hati. Sungguh, aku tidak tahu dengan fitrah seperti apa Tuhan menciptakan kucing.

Malam ini aku duduk bersama laptop dan tesisku. Aku menoleh ke kanan, keluar jendala. Aku melihat Blacky dan anak perempuannya. Blacky sepertinya sudah hamil lagi. Anak perempuannya mengikutinya di belakangnya, tetapi lalu Blacky memutar kepalanya dan memandangnya dengan dingin, seperti berkata, “Jangan ikut. Diam di situ.”

“Ngeong…” katanya anaknya, cuma sekali, seakan ia benar-benar takut pada ibunya.

Anak kucing itu pun berbalik, pergi menempuh jalannya sendiri. Mungkin hanya tunggu waktu sampai anak itu pun melupakan Blacky.

Blacky menghilang di balik pagar. Tanpa penyesalan. Tanpa kesedihan. Tanpa drama. Melanjutkan hidup, mungkin dengan suami barunya, dan anak-anak barunya.

Aku melanjutkan tesisku, sambil memikirkan rencana besok pulang ke Semarang demi ibu yang sudah bertanya dan adik yang sudah menunggu.

 

Yogyakarta, 2 Juni 2016

 

Cats

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s