Memahami Islamisme Bag. 5: Kritik Islamisme

Self-love

 

Sebuah status di Facebook:

Mengapa sistem khalifah dan negara Islam saat ini ditolak adalah agaknya berkaitan dengan hal ini:

“Di antara bentuk-bentuk konstitusi (…) ‘yang benar’ ialah pemerintahan satu orang (atau dapat pula sekelompok orang) demi kepentingan umum. … Bentuk konstitusi yang ‘salah’ atau ‘menyimpang’ (…) ialah tirani, pemerintahan seorang manusia (atau sekelompok manusia) demi kepentingannya sendiri.”

— Aristoteles, pengantar “Politik”, h. xxiii

Rumusan sistem khilafah sebagian perlu dikritisi dan ditinjau kembali. Namun, sekalipun ia sudah benar pada akhirnya, persoalan tidak selesai begitu saja. Apakah orang Islam (Islamis) saleh siapapun dia siap menjadi pemimpin semua, melindungi semua, dan berpihak pada kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok Islamnya sendiri?

Dugaanku, tidak. Tidak akan siap. Ada cela dalam ideologi yang meyakini superioritas diri dan menanamkan kebencian pada pihak lain. Ideologi yang demikian tidak membawa keadilan dan keselamatan.

***

Maksudnya:

Begini, mas-mas dan mbak-mbak ya budiman. Pertama, mengenai konteks saya menuliskan ini. Saya sedang mempelajari “Politik”-nya Aristoteles. Buku tersebut tidak berbicara tentang ideologi apapun, melainkan pendekatan rasional terhadap pemerintahan dan etika berpolitik.

Kedua, saya tertarik sekali pada satu pemikirannya, yang sebetulnya sudah saya tulis di status yang lain, setelah status ini. Izinkan saya menyalinnya di sini:

Belajar pada pemikiran politik Aristoteles, jadi tersadar bahwa banyak orang terjebak dalam bentuk dan mengabaikan esensi/ tujuan. Dalam kasus bentuk pemerintahan, orang banyak berdebat soal manakah bentuk yang benar.

Bukan masalah siapa yang memerintah dan apakah bentuknya berdasarkan itu, apakah satu (monarki), segelintir (aristokrasi), atau banyak orang (Polity).

“… ketika Satu, atau Segelintir, atau Banyak orang memerintah untuk kepentingan umum, konstitusi yang mereka jalankan pastilah konstitusi yang benar. Di sisi lain, konstitusi yang diarahkan kepada kepentingan pribadi Satu orang, Segelintir orang, atau Banyak orang, pastilah merupakan penyimpangan.” 1279a25

Ketiga, berdasarkan pengetahuan itu, saya mencoba memahami Islamisme dan sistem Khilafah yang diajukannya, dan mengkritisinya.

***

 

Aristoteles memiliki pemikiran yang kuat dalam politik dan etika politik. Pemikirannya berdasarkan atas pengamatan yang tajam atas kondisi masyarakat dan sistem pemerintahan di Yunani saat itu, yang sedikit banyak mirip juga dengan kondisi saat ini. Polis-polis (negara kota) Yunani diatur berdasarkan sistem politik yang berbeda, sama seperti negara-negara modern saat ini.

Uniknya, Aristoteles tidak mempermasalahkan apa bentuknya, apakah itu monarki (kepemimpinan satu orang), aristokrasi (kepemimpinan segelintir orang), atau Polity (kepemimpinan banyak orang). Yang ia khawatirkan sekali adalah penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan, yaitu jika kekuasaan itu digunakan untuk melayani kepentingan satu orang, segelintir orang, atau pula banyak orang. Penyimpangan monarki adalah tirani. Penyimpangan aristokrasi adalah oligarki (kepemimpinan segelintir orang kaya). Penyimpangan polity/ pemerintahan konstitusional adalah demokrasi (kepemimpinan rakyat/ orang-orang miskin).

Kekuasaan itu bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan, melainkan untuk kepentingan umum (common good). Konstitusi apapun, bentuk pemerintahan apapun, sistem apapun, yang dibuat demi kepentingan umum, adalah benar. Idealisme Aristoteles adalah seperti itu, yaitu pemerintahan di mana orang-orang dari golongan apapun dapat mengambil bagian, sesuai kapasitas masing-masing.

Aristoteles sadar bahwa yang seperti itu tidak mungkin. Ia kemudian memberi resep menjalankan pemerintahan: berpeganglah pada hukum yang berlaku (karena hukum dapat mencegah orang dari menyorongkan kepentingan pribadinya), bersikaplah yang moderat (apapun masalahnya, buatlah kebijakan yang bersifat merukunkan), dan campuran (negara terbaik ada unsur-unsur aristokrasi dan demokrasinya, bukan aristokrasi atau demokrasi murni, karena kelebihan yang satu dapat melengkapi kekurangan yang lain).

Bagaimana kemudian pemahaman tersebut berkaitan dengan Islamisme dan sistem Khalifah adalah…

Pertama, saya sejauh ini gagal menangkap detail sistem Khalifah yang difavoritkan mas-mas dan mbak-mbak semua yang menganut Islamisme.

1) Apakah cenderung berbentuk monarki dan dinasti-dinasti, mengulang sejarah Islam di masa lalu? Apakah aristokrasi? Atau demokrasi?

2) Benar, ideologi yang dianut tentu Islam, tetapi bagaimanakah sikapnya terhadap diversitas masyarakat yang terdiri atas bergolong-golongan manusia? Apakah sistem Khilafah mendukung pemeliharaan kepentingan umum, atau hanya peduli pada golongan Muslim?

3) Banyak pemikiran yang berkembang seputar gagasan Khilafah. Ada yang mengacu pada bentuk-bentuk pemerintahan khulafaurrasyidin, tetapi pada zaman siapakah Khilafah yang benar? Ada yang mengacu pada zaman keemasan Islam, Umayah, Abbasiyah, Ottoman. Tetapi, Maududi yang menulis “Khilafah dan Kerajaan” saja menolak kerajaan (monarki). Banyak Islamis menolak demokrasi, karena anggapannya demokrasi tidak Islami.

Jadi, akan seperti apakah sistem Khilafah ini yang secara internal tubuh muslim sendiri masih saling dipertentangkan. Jika secara internal masih belum beres, bagaimana menawarkannya kepada dunia?

Nah, pemikiran inilah yang melatarbelakangi saya menulis: Rumusan sistem khilafah sebagian perlu dikritisi dan ditinjau kembali. Oleh muslim.

Lanjut pada persoalan kedua, mengapa saya menulis: Namun, sekalipun ia sudah benar pada akhirnya, persoalan tidak selesai begitu saja. Apakah orang Islam (Islamis) saleh siapapun dia siap menjadi pemimpin semua, melindungi semua, dan berpihak pada kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok Islamnya sendiri?

Ini persoalan politik, sosial, dan psikologis. Ada kecenderungan natural dalam diri manusia untuk mencintai diri sendiri, mengunggulkan diri sendiri, melindungi diri sendiri, mengutamakan kepentingannya sendiri, dan yang seperti itu. Karena itu, kemampuan untuk berkorban demi orang lain yang bukan orang lain, bekerja demi kepentingan tidak hanya diri sendiri, butuh usaha ekstra.

Saya ingat satu firman Allah:

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [QS Al Maidah: 8]

Hal-hal itulah yang membuat saya menjawab sendiri pertanyaan saya dengan: Tidak akan siap. (Dan, tidak akan mampu.)

Saya mencermati ideologi Islamisme, keyakinan-keyakinan seperti apa yang ada di dalamnya. Pertama, para Islamis senantiasa ditanamkan keyakinan bahwa muslim itu superior, yang mana itu mengarah pada sikap mencintai diri yang berlebihan. Kedua, para Islamis senantiasa pula didorong untuk membenci pihak selain dirinya, yaitu Yahudi dan Nasrani, atau muslim-muslim lain yang tidak semazhab; atau ditanamkan rasa terancam dan rasa akan dihancurkan oleh pihak lain. Hal-hal itu berpotensi pada ketidakadilan dan sikap mementingkan kelompok sendiri. Jika sudah berpotensi mementingkan diri sendiri, kepentingan umum tentu adalah prioritas paling belakang.

Dua hal itulah cela dalam ideologi Islamisme. Dan, itu terbukti berkali-kali dalam kehidupan dan menjadi masalah yang seharusnya menjadi perhatian bersama: Ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi dalam hati/ kalbu umat.

Saya membayangkan dunia di masa depan (tenang saja, mungkin masih 100 tahun lagi 🙂 ), ketika globalisasi semakin massif, masyarakat semakin bercampur dan multikultur, tidak jelas lagi batas negara; ketika perubahan-perubahan sosial akhirnya memancing perubahan konstitusi, sistem dan bentuk negara… Akan jadi seperti apa muslim yang terus mementingkan dirinya sendiri, yang ingin berkuasa sendiri, unggul sendirian? Akan jadi seperti apa anak cucu para Islamis yang oleh orangtuanya ditanamkan sikap cinta diri sendiri dan membenci pihak lain? Generasi yang seperti itu tidak akan diterima untuk memimpin dunia yang besar.

***

Saya muslim, saya mencintai agama saya. Saya meyakini bahwa muslim adalah umat terbaik, BUKAN HANYA KARENA IDENTITASNYA MUSLIM, tetapi karena ia ber-amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang thoyyib dan bergaul dengan manusia dengan sebaik-baiknya. Jika orang di dunia dijejer, tentu muslim (seharusnya) adalah khalifatullah fil ardh; wakilnya sebagai pemakmur bumi. Saya senang dengan para Islamis, program-program sosialnya sangat bagus. Tetapi, saya tidak senang dengan para Islamis, karena manuver-manuver politiknya buruk. Mengapa manuver politiknya buruk? Menurut saya, karena pemikiran politiknya tidak berkembang dan tidak pas dengan tuntutan zaman, selain ambisi berkuasa yang berkobar-kobar. Mengapa pemikiran politiknya tidak berkembang? Karena mereka takut dan sudah berprasangka bahwa pemikiran yang baru pasti memusuhi atau berlawanan dengan Islam.

Ada satu buku yang saya baca, dikatakan bahwa politik adalah bidang yang paling tidak berkembang dalam khazanah pemikiran Islam. Dan sayang, banyak Islamis yang tidak mengkhawatirkan ketertinggalan itu karena sudah puas dan sudah cukup dengan pemikiran yang sudah ada, sudah kenyang dengan keyakinan bahwa Islam itu benar. Benar, Islam itu benar, tetapi penerapannya jadi salah jika pemahaman dan penerapannya buta konteks, situasi, kondisi, dan ZAMAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s