Quotation Collection Part 45: Gifts of Ramadan

Mengumpulkan mutiara-mutiara Ramadan…ūüôā

 

underwater world

***

1# From Pak Quraish; Tafsir Al Mishbah, Pagi Ramadan 1437 H

7 Juni: Mereka (tentang para Islamis, fundamentalis, wahabi, salafi, dkk) seakan menyembah teks Al Quran, karena saking sakleknya pada teks. Tapi Pak Quraish bilang, mereka bukan orang yang keluar dari agama atau sesat, hanya terlalu ingin “menjaga kemurnian” teks sampai-sampai memberatkan.

16 Juni: Ambil hikmah dan pelajaran dari siapapun, dari mana pun: kebaikan, keburukan, batu, orang gila, bahkan pula orang kafir. Namun, tolak keburukan (pelajaran dan pengaruh buruk) dari siapapun.

22 Juni:

Apapun yang Anda taati itulah tuhan. Orang yang menaati nafsunya, ia menjadikan nafsu sebagai tuhannya.

Merasa cukup adalah kekayaan terbesar. Ada orang yang sudah kaya, tapi dia masih merasa kurang, itu yang miskin hatinya.

Jangan mengira bahwa bahwa kekayaan itu hanya kekayaan material. Ada kaya hati, kaya ilmu. Yang bisa didermakan tidak cuma kekayaan material.

 

23 Juni:

Di antara kepribadian ihsan adalah membalas keburukan/ kejahatan dengan kebaikan dan meminta sedikit atas hak, memberi lebih dari kewajiban.

Tujuan tidak menghalalkan cara (pencapaian yang haram). Jangan berbuat kerusakan dan adakan perbaikan: 1) memperbaiki apa yang rusak, 2) menambah nilai guna apa yang sudah baik.

Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan. Gunakan kehidupan duniamu sebagai kendaraan mencapai akhirat dengan meniatkan segala aktivitas sebagai ibadah.

Agama dan kemanusiaan adalah satu kesatuan pula. Terhadap orang yang berbuat jahat, bencilah kejahatannya, bukan orangnya. Berbuat baiklah kepada manusia sekalipun dia musuh dan kafir (kecuali jika mereka memerangimu, tidak menginginkan perdamaian).

 

24 Juni: Jihad itu luas, jangan membuatnya sempit (bahwa artinya hanyalah perang dan berkorban nyawa). Ijtihad (berusaha menggunakan akal untuk menemukan ketetapan agama) dan mujahadah (berusaha mengendalikan nafsu) juga jihad. Jihadlah dengan harta dan dirimu, dengan tenaga, pemikiran, waktu yang kau punya, untuk memerangi masalah-masalah kemanusiaan: penyakit, kemiskinan, kebodohan, dsb. Jangan mati sampai Allah sendiri yang memanggilmu. Allah tidak butuh kau berjihad untuk-Nya. Jihad itu untuk kebaikan dan kepentinganmu, manusia.

 

27 Juni:

Ilmu dalam pengertian Al Quran bukanlah sekadar pengetahuan. Ilmu adalah pengetahuan yang berfungsi sebagai petunjuk. Banyak orang berpengetahuan, tetapi tersesat. Itu pengetahuannya tidak menjadi ilmu.

Hikmah adalah ilmu ‘amaliyah dan amal ‘ilmiyah. Hikmah adalah ilmu yang diamalkan dan amal yang berlandaskan ilmu.

 

28 Juni:

Agama adalah jalan menuju Tuhan, jangan kau jadikan ia (agama) tujuan terakhir. Tujuan agama adalah Tuhan. Ada banyak jalan menuju Tuhan, ada yang sempit, ada yang lebar, ada yang lurus, ada yang berkelok-kelok. Semua menuju tempat yang sama, jangan mempertentangkannya.

Sikap Islam terhadap orang-orang musyrik (penyembah berhala) berbeda dengan sikapnya terhadap Ahlul Kitab (orang-orang Yahudi dan Kristen). Islam keras terhadap penyembah berhala, tetapi lembut kepada Ahlul Kitab. Kita sama-sama penyembah Tuhan, meski dalam syariatnya ada perbedaan. Islam jauh lebih dekat dengan Yahudi dan Kristen ketimbang agama apapun. Ingat Surah Ruum, ketika Romawi dan Persia berperang, Nabi dan umat Islam berpihak pada Romawi. Romawi yang Kristen menyembah Tuhan, sementara Persia menyembah api.

Kandungan Al Quran adalah mukjizat bagi akal manusia. Islam datang sebagai syariat terakhir, sesuai dengan perkembangan kecerdasan umat manusia akhir zaman yang telah maju. Al Quran tidak berisi petunjuk yang detail untuk setiap perilaku, melainkan nilai-nilai sebagai prinsip pegangan berpikir, berperilaku, dan menyelesaikan masalah, KECUALI untuk hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal.

Dalam berdiskusi, hendaknya sama-sama bertujuan mencari kebenaran, bukan kemenangan sendiri. Jangan berdiskusi hanya ingin pendapatnya sendiri didengar, tetapi tidak mau menerima orang lain berpendapat. Jika pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan, akhirilah dengan damai dan serahkan kepada Allah yang Mahatahu apa yang benar.

1 Juli: Orang yang menjalankan agamanya dengan baik akan bersahabat meskipun mereka berbeda agama. Itu karena setiap agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian.

3 Juli:

Berkelompok itu dibolehkan. Tapi, termasuk bentuk kemusyrikan: Mengagung-agungkan kelompok sendiri (politik, ideologi, keagamaan, sosial, dll) dan merasa benar sendiri; menyalahkan, melecehkan, menganggap sesat, dan mengkafirkan kelompok lain.

Pengikut Syi’ah itu muslim. Jika Anda tidak setuju, tenanglah dan serahkan persoalan ini kepada Allah.

5 Juli: Kemenangan mencapai tujuan dapat dicapai dengan kesabaran (menahan hawa nafsu) dan keistiqomahan (ketegaran menjaga konsistensi upaya).

 

2# From Arya Mahendra (Kyrie Eleison) yang sangat amat misterius; Kritik untuk diri yang beriman

“Jangan takut berpikir bila tidak semua bagian dari Islam [saat ini] adalah baik. Jujurlah, itu lebih utama dibanding fanatik kebenaran-kebenaran. Sebab, jujur adalah karakter kesucian hati nurani, sedangkan kebenaran-kebenaran hanyalah konsep di atas kertas.”

“Pemurnian agama yang salah fatal adalah membuat hukum-hukum aturan hasil ijtihad untuk mempersempit hukum yang sudah nash kemudian membuat hukum baru menurut ijtihad mereka. Pemurnian agama (Islam) yang sebenarnya haruslah Islam ini dibersihkan dari hukum-hukum ijtihad yang membawa kaum muslim pada konflik, baik itu berupa gagasan yang mengada-ada (bid’ah dhalalah) maupun perseorangan yang semakin mudah memainkan ayat-ayat Al Qur’an untuk menjalankan hawa nafsunya, kemudian orang bodoh membenarkan dan mendukungnya.”

“Jangan takut untuk meragukan Islam bila itu muncul dari hati nurani dan akal sehat anda, sebab itu adalah proses penyelarasan antara ajaran Islam dengan diri anda dan nilai fitrah kemanusiaan. …¬†Islam sama seperti agama lain yang tak luput dari penyimpangan, terlebih di era informasi yang sangat terbuka dan cepat ini. Apapun bisa terjadi mulai dari salah informasi sampai kesengajaan manipulasi karena ambisi kelompok tertentu. …¬†Ragukanlah Islam agar agama ini lebih hidup dengan dialektika berjalan anda. … Manusia makhluk dinamis, dia selalu berubah menurut perjalanan sejarah peradaban yang telah ada. Sedangkan dogma dan doktrin tidaklah hidup, itu hanyalah teks yang penah ditulis manusia abad sebelumnya. Antara teks dan manusia dengan kondisinya saat ini harus terjadi keselarasan. …¬†Inilah pentingnya meragukan Islam ketika saat ini Islam semakin menjadi arogan dikarenakan hal-hal yang eskatologis. Antara lahiriyah dan batiniyah Islam tidaklah cocok karena berfokus pada hal yang lahiriyah saja sehingga simbol-simbol agama menjadi Tuhan itu sendiri.”

 

3# From Nouman Ali Khan; Ramadan Exclusive Tafsir Surat Al Baqarah; Miraculous Quran

Day 1: Quran is not a miracle for the eyes, but for the ears and not for every ears of man. Quran is miracle for those who ponder and reflect it, constantly seek for direction from it, like a person who go astray in the desert, needing direction and water badly.

Day 4:¬†“Politics influences people, politics influences religious people too and corrupts them when religion becomes a business and a competition.”

“Don’t focus on what’s been lost. Focus on what’s been given.”

— Essence of Surat Al Kautsar

Day 6: “The mistake of religious class: When you see the religious educated people, and a person give sermon to them, they act arrogantly refuse that person, thinking they now better. They use religion as business, as a tool for political goals.”

Day 8: Islam is not just a philosophy, it changes life.

“Allah swt is owner of all children of Adam. They sin, do good deeds or bad deeds, shirk or tauhid, put all that aside, the children of Adam is children of Adam at the end of the day. When Ibrahim prayed [in baitullah], he prayed for all of them. … We call our selves the religion of Ibrahim as. So lets go back to principle of Ibrahim as: Concern for all humanity.”¬†—¬†as response to “Orlando Shooting”

Day 13:¬†Embrace awkward moment is part of being teacher. Don’t get bothered so easily.

Day 14: Be careful. Some of arrogant people described in the Quran are people who serve religion; who live in religious realm. People who are educated in deen. Quran supposed to humble you, to bring you down, but many muslim learn it for pride.

 

Day 18:

“Don’t sell God’s ayats for little gain; small & cheap price. Jangan kamu tukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit/ rendah.”

Muslims today barely understand it. It is about the use and the tafsir of the ayat which ignore or deliberately hide the meaning of the ayat for the sake of personal benefits, to gain popularity, to get people appreciation, for political campaign, etc.

People who have power (financial, political, religious power) dictate what ayat should be taught/ talked and not; and give up the lesson of Quran.

 

Day 19:

Through the Jews (and other) in Quran, Allah talks to us, Muslims; to teach us that the bad habits of previous ummah befall to Muslims too. One of those bad habit is related to our relationship with Kitab Allah.

1) We read Quran, memorize it, recite it beautifully, without knowing its meaning; what actually we saying.
2) While not knowing the meaning of Ayats, we rely on the preaches of religious leaders and follow them blindly, without knowing what we actually follow.
3) Not knowing ourselves the religous teachings (which is right, which is wrong), we are easily turn to be radical in thinking. We are prone to manipulation, not knowing what actually we do.

Tragedy in Muslim ummah: Only small population in the ummah learn religion, tafseer and meaning of Quran deeply; and they are “burdened” by a duty to lead so many blind unknowledgable muslims.

Lets make more and more muslim educated in Quran; do not let them to follow teachings blindly without understanding. Let them know Quran with their own eyes, and feel its meaning with their heart.

 

Day 20: Corrupt religious leader:¬†“You command people to be religious, virtuous, and good, but you failed to fulfill it yourself. You set high standards, so good and so holy, for people to be good, but you don’t apply those yourself. You make people feel low and bad of themselves because of the high standard you preached.”

Day 21: Quran is not just a book. It is something that can open your eyes to see reality better. Quran is miracle, but only for those who reflect it. It is not a free miracle.

Day 23:

Human’s greed brings people down. You’re only ended up humiliating yourself if you indulge your greed.

The history of Bani Israil is reminder that the same things (would) happen in current ummah. Learn the mistake from the past to avoid it and fix nowadays ummah.

“I am not a scholar, I am a student at best.”

Day 24: When you believe in Allah, you believe His is absolutely fair and merciful, even though you see injustice is dominant reality in the earth.

Day 25:¬†If you don’t have trust on people (that they have potential to be good and taqwa), all you can do is yell, scream, and humiliate people.

Day 26:

In most situation regarding what is right and wrong, the problem is not in the reality of black and white, but in your heart. When the truth is absolutely clear in your eyes, you still turn away and reject it just because you don’t like it. The problem lies in your heart which is so hard worse than rocks.¬†The harder your heart, the more impossible for anything to go inside.

Not everybody is drawn to the same thing. Some are drawn to Islam by reasons/ intellectual experience. Some other are drawn by something that touches, shakes, hits their heart/ emotional experience. … People come to Islam with different reasons.

 

Day 27: The scholars can be wrong. Ironically, their opinions sometimes become the religion itself. Corrupt scholar is the root of corrupt nation/ ummah.

 

4# From Othersūüôā

“… semua manusia memiliki pemikiran fasis. Manusia selalu berpotensi menjadi bengis ketika dihadapkan pada kondisi seperti ketimpangan ekonomi, perbedaan kepentingan, atau mengejar kemewahan.¬†… di Indonesia … Rasa solidaritas sebagai bangsa diam-diam dipisahkan oleh sentimen primodialisme, yaitu suku dan agama. Fasisme muncul di masyarakat yang pikirannya tertutup atau kehilangan ide serta makna hidup.¬†Fasisme juga dapat dideteksi saat ada keinginan mengembalikan negara¬†sebagai satu-satunya referensi masyarakat dalam berkehidupan. Semangat demokrasi perlahan ditumpulkan, sementara kekuatan pemerintah diperuncing.”

— Rocky Gerung, dalam “Fasisme Bangkit Saat Elite Abaikan Rakyat”, Kompas 6 Juni 2016, h. 4

 

“… fasisme masa kini muncul karena partai politik mangkir dari tugasnya sebagai corong aspirasi rakyat (1); para intelektual yang tidak mampu mencerdaskan bangsa (2); institusi pendidikan yang tidak lagi melahirkan bangsa terdidik (3); pelaku bisnis yang kian tamak dan eksploitatif (4); peran media yang semakin tumpul dan tidak kritis (5); serta moral elite pemetintah yang tergerus perilaku korup (6).¬†… fasisme muncul ketika kesadaran masyarakat dipersempit oleh kepentingan-kepentingan politik para elite pemerintah, pelaku bisnis, dan partai politik. Manusia kian diperbudak hasrat kekuasaan. Fasisme digambarkan sebagai suatu keadaan ketika partai politik lebih mengedepankan urusan perut ketimbang nalar.”

— Rob Riemen, dalam “Fasisme Bangkit Saat Elite Abaikan Rakyat, Kompas 6 Juni 2016, h. 4

 

“Fasisme adalah suatu drama tentang manusia yang digerakkan oleh hasrat.”

— Laurens Sipahelut

 

Dunia adalah tanah pengasingan manusia
dari kampung asalnya yang bernama surga.

— Hazrat Inayat Khan

 

“Ketika agama sudah jadi sekadar kegiatan budaya, maka hasilnya adalah festival. Peribadatan jadi perayaan, doa jadi nyayian. Di sana ada keramaian, kemeriahan, bunyi-bunyian, tarian, sajian kuliner, pameran busana dan aksesori, serta simbol-simbol warna dan benda.”

— Kurnia JR, “Sebulan Kemustahilan”, Opini Kompas, 6 Juni 2016, h. 6

 

Tabir utama yang menghalangi manusia menyaksikan Tuhan adalah fanatisme agama.

— Al-Ghazali, “Kimia Kebahagiaan”

 

“Fear favours the demagogue. History sides with the cautious.”

— Gary Younge, “Orlando shooting exposes so many of America‚Äôs faultlines”, on theguardian.com

 

“… most terrorists are not psychopaths or sadists, much as we would like to believe. Instead the majority are ordinary people, shaped by group dynamics to do harm in the name of a cause they find noble and just. Critically, those group dynamics involve all of us: our overreaction and fear … can beget greater extremism, thereby fueling a cycle … termed ‚Äúco-radicalization.‚ÄĚ

— Scientific American Magazine, 13 June 2016, “Special Report: Psychology of Terrorism”

 

“…makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam.”

“Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya.”

— Ibn Athaillah

 

“Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”

— Imam Malik r.a.

 

“Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.”

— Ibn Arabi

 

The ability to not have an ego in the game at hand and not make the mission, goal or success, “about me”, but rather about everyone else. To use your power only when the moment is required -not flaunting it for all to see.

— On becoming a sniper, from Quora

 

“You compare yourself with your own self from past. That is the only one worth comparing.”

— Nouman A. Khan

 

“Kejayaan-kemajuan Islam terhalang-terdinding oleh mentalitas-karakter.”

— Muhammad Iqbal

 

“People take different roads seeking fulfillment and happiness. Just because they’re not on your road does not mean they are lost.”

— Dalai Lama

 

“Keangkuhanmu adalah sebab kehancuranmu.”

“Saruman percaya bahwa hanya kekuatan besar yang bisa mengalahkan kejahatan. Tetapi aku justru menemukan yang sebaliknya. Hal-hal kecil dalam keseharian orang biasa … kasih sayang …”

— Mithrandir, The Hobbit

 

“Korupsi dalam sistem pendidikan berarti uang lebih menentukan ketimbang talenta dan kerja keras.”

“Semua dosen lebih suka formulasi kalimat yang ceroboh ketimbang kalimat curian.”

— Mason C. Hoadley, Guru Besar Emeritus Sejarah Asia Tenggara dan Indonesia Lunds Universitet, Swedia

 

“Is Blind Harry true? I don’t know. I know that it spoke to my heart and that’s what matters to me, that it spoke to my heart.”

— On Randall Wallace’s defense for Braveheart’s script

 

“… di dunia ini tidak ada orang jahat, melainkan orang yang sedang berproses menjadi orang baik.”

— Gus Dur

Fathurrahman Ghufron, “Puasa dan kesadaran resiprokal”, Kompas, 30 Juni 2016, h. 7

 

“Prinsip dasar negara sekuler adalah pemisahan antara agama dan negara. Agama diakui, tetapi harus dipisahkan dari negara agar tidak dimanipulasi untuk kepentingan politik. Demikian sebaliknya, untuk menghindarkan terjadinya manipulasi politik untuk kepentingan agama. … prinsip negara sekuler adalah dunia, pembangunan dunia, tetapi sama sekali tidak mengabaikan agama. Ini sangat berbeda dengan sekularisme. Sekularisme hanya mementingkan dunia yang transendental tak ada, tak mendapat tempat.”

— Trias Kuncahyono, “Istanbul 2016”, Kompas, Minggu, 3 Juli 2016

 

“Yang paling buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi yang tidak dapat belajar (learn), melepaskan apa yang pernah dipelajari (unlearn), dan belajar ulang (relearn).”

— Alvin Toffler

 

“Friendship isn’t about who you’ve known the longest. It’s about who walked into your life, and never left and said ‘I’m here for you’ and proved it.”

— Alfathri Adlin

 

5# From Meine Senex & Meine Puer

“Setiap hal ber-tapi. Jika kamu fokus pada tapi itu, kamu tidak akan maju.”

***

“Allah menguji orang yang beriman, dalam keinginannya akan kebenaran dan usahanya hidup dengan cara yang benar, dengan kebaikan dan keburukan dalam tubuh umat Islam sendiri dan dirinya sendiri.”

“Maafkanlah kebodohan orang, semoga Allah mengampuni kebodohanmu. Dalam kebodohan ada ketercerahan; dalam ketercerahan ada kebodohan yang baru.”

***

You cannot promote humanity by hating and attacking people you hate because you think they are stupid, inhumane, and evil.

Love should not stop in theory and lack of practice.

***

Mempelajari akidah lepas konteks bahwa tujuannya adalah akhlak. Mempelajari syariah juga lepas konteks bahwa tujuannya akhlak. *Masalah umat Islam, masalahmu dan aku

***

“Berbuat salah tidaklah menjadikanmu jahat. Apa yang terjadi setelahnyalah yang membuatmu jadi pengikut setan atau bukan.”

Berbuat salah, tetapi tidak mau introspeksi dan evaluasi diri
Berbuat salah, tetapi terus merasa benar dan menolak peringatan
Berbuat salah, tetapi bersikap angkuh dan tidak mau minta maaf
Berbuat salah, tetapi tidak mau mengakui dan memperbaiki
Berbuat salah, tetapi justru menuduh pengingat memfitnah
Berbuat salah, tetapi terus mengulang berbuat salah
Berbuat salah, tetapi mengatakannya sebagai benar

Apa lagi?

***

Sebuah paham tidak hanya tentang doktrin; ia tentang cara berpikir dan mentalitas. Syukur Allah menciptakan manusia berkembang bertambah tua. Ada banyak hal yang diberikan oleh pertambahan usia dan kelemahan fisik pada akhirnya.

Jangan tidak mau diperingatkan, wahai diri ūüôā Tidak ada pengampunan tanpa perbaikan. Tidak ada perbaikan tanpa kesadaran apa kesalahan. Tidak ada kesadaran apa kesalahan tanpa introspeksi. Tidak ada introspeksi jika matamu terus pada kesalahan orang lain.

***

Lebih aman hidup bersama non-Muslim yang memahami ajaran agamanya ketimbang bersama Muslim yang bodoh tentang Islamnya.

***

Ada dua hal yang tetap kau butuhkan karena kau akan selalu mengalaminya, meskipun kau punya ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya: kebebasan dari rasa takut dan kesedihan. Obat terbaik ketakutan dan kesedihan (bukan psikologi *grinning*, tapi) mengikuti petunjuk agama.

***

KESALAHAN MUSLIM DALAM MENGAMBIL MANFAAT DARI SEJARAH MASA LALUNYA

Kita banyak yang tidak tahu keseluruhan sejarah Islam. Kita hanya tahu sedikit-sedikit, itu pun yang bagus-bagus saja. Macam masa kenabian, empat khalifah, tiga tahun Umar II, Islamic Golden Age, Kerajaan Ottoman – tamat. Kita tidak melihat bahwa ada hal-hal memalukan (dan mengerikan) yang terjadi sepanjang sejarah, yang penting sebagai pelajaran untuk berendah hati.

Kita mengklaim sejarah itu milik kita, padahal itu adalah milik orang-orang terdahulu. Kita sebut kebesaran itu milik kita, adalah diri kita, membuat kita yang hidup di masa kini bersikap begitu arogan, menyalahkan pihak-pihak yang membuat kebesaran itu berakhir, terjebak dalam inferioritas (low self-esteem as defeated Muslim), dan terbakar api kebencian di dalam hati.

Belajarlah dari sejarah tidak hanya dari yang baik-baik, tapi juga yang buruk-buruk. Bukan untuk mencari kejelekan dan menjelek-jelekkan Islam, tetapi untuk belajar dari kesalahan-kesalahan Muslim di masa lalu dan belajar tidak mengulanginya di masa kini.

***

There is always big minds behind a sentence. We cannot reach it without knowing the owner, understanding his life, his goals, and his circumstances. We need to see with his eyes, hear with his ears… to understand what this world for him, and thus what this world for us after reading his sentence.

But, who needs that big minds? Who feels the need to explore the unseen world inside his head where he spent all time pondering and talking to God? We don’t care that. When we read a sentence, we situate it in the court with our own concerns, our benefits, and interest as the Judge.

People need reality so bad as basis of living and deciding, but reality is actually unaffordable by any means. People are suffiecient with shallow things. They are already satisfied with it, and continue living bearing the risks of unknowing the things completely. Phenomenology is a bullshit, isn’t? Unpracticable in everyday living.

***

Agama menyempit ketika makna hal-hal dalam ajaran agama menyempit/ berubah sempit. Namun demikian, yang lebih besar persoalannya adalah agama juga menyempit bersama dengan sempitnya hati yang ada di dalam dada; begitu sempitnya sampai tak bisa menerima kelapangan ajaran agama, luasnya ilmu Tuhan, dan kasih sayang-Nya.

***

Sering yang kau butuhkan bukan banyak, tetapi cukup ilmu yang bermanfaat dan dapat kau amalkan. Bagaimana ilmumu akan bertambah, serahkan kepada Tuhanmu yang Mengetahui apa kebutuhan dirimu yang ingin baik.

***

What is considered “human” is often about what is similar, resemblance, and close to our selves. That is why differences are poison in almost every relation, and thus kindness is not universally applicable if human are let to decide by himself what is human.

Religion comes above every human to highlight a definition that, despite of differences, we are all human as sons and daughters of Adam. Kindness is inclusive to almost every person in every situation except those who arealready specifically condemned by God because they are poisons to mankind.

Religion is not for God, but for the benefits of mankind. Religion is for every human who wants to be kind.

***

Bagi orang-orang yang bodoh, mudah berkata solusinya adalah mendidik mereka. Namun, bagi orang-orang berpengetahuan yang salah, apa yang bisa dilakukan? Sometimes we are accused as wrong is not because we are really wrong, but because we are low.

***

Dalam komunikasi (internet terutama), sering kita terjebak dalam permainan persepsi dan interpretasi yang tidak terkendali karena kita terlanjur berpresumsi dan berprasangka :)¬†Mari belajar juga mengendalikan dua hal dalam kepala kita itu yang membuat kita berimajinasi: “mendengar” apa yang sebenarnya tidak terdengar, “mengetahui” apa yang sebenarnya tidak kita ketahui, “menebak” apa yang sebenarnya tidak ada, “merasakan” apa yang sebenarnya tidak ada dasarnya :)¬†Mari kita biasakan mencari kejelasan dengan bertanya, “Apa maksudnya?” pada orang yang menulis atau mengatakan hal yang tidak kita senangi atau tidak kita setujui.¬†Siapa tahu kita ternyata membenci sesuatu yang sebenarnya baik baik dan berguna bagi kita; atau dalam kasus yang lain, kita terlalu cepat menyenangi sesuatu yang sebenarnya buruk dan tidak berguna. Kebanyakan prasangka itu tidak baik; dan bersikap reaktif atas hal-hal tanpa tahu duduk perkaranya juga tidak baik.

***

Beruntung kau lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim. Tidak kau minta, Islam diberikan dengan gratis, tanpa kau harus berkorban sedikit pun. Beruntung pula kau hidup dalam keluarga yang taat. Tidak kau cari, pendidikan Islam dihadirkan pula dengan gratis.

Betapa bersungguh-sungguhnya orangtuamu agar kau bisa salat, bisa mengaji, bisa puasa, dan sebagainya. Kau sampai dimarahi, dihukum, ditakut-takuti, agar menurut. Kau dibelikan buku-buku, diajak berdiskusi ini dan itu, ditunjukkan contoh ini dan itu, disekolahkan kesana-kemari agar kau menjadi muslim. Agar kau tidak beragama berbeda dari mereka.

Tapi, setelah waktu berlalu, di titik mana akhirnya kau mulai menjadi seorang muslim?

Ada perbedaan besar antara menjadi muslim karena kebiasaan, karena kebutuhan, dan karena kesadaran; karena keluarga dan teman-temanmu, karena dirimu sendiri, dan karena Tuhan.

***

Terkait harta, ilmu, dan apapun yang bisa dimiliki… kesombongan orang yang berpunya, kesombongan orang yang berpengetahuan, hanya dirasakan oleh orang yang memandang dirinya lebih punya, lebih tahu, lebih layak, lebih benar…

Kesombongan itu perkara hati yang tersembunyi di dalam dada, dari mana kau bisa tahu kesombongan orang itu jika itu bukan bersumber dari bisikan kesombonganmu sendiri? Periksalah dirimu sendiri, perhatikan keadaan dirimu, yang membuatmu bisa merasa demikian dan tidak menyukainya.

Ada banyak hal yang tidak kita sadari tentang diri kita. Emosi-emosi kita ada bukan tanpa tujuan. Ia tak bisa berkata-kata seperti pikiran yang pandai mendebat dan berdebat bahkan dengan dirinya sendiri. Ia tak terdengar, tetapi paling jujur menyampaikan keadaan dirimu jika kau pandai menafsirkannya.

Kenalilah dirimu. Kejahatan bermain lewat emosi orang-orang yang tidak sadar keadaan dirinya, yang hanya tahu apa yang ia tahu, tetapi merasa tahu segalanya, merasa telah menangkap setiap fakta, sementara dirinya tertipu dirinya sendiri.

***

Menulis cerita adalah pekerjaan mencari dan menciptakan jalan. Masalah utamanya bukan di awal dan di akhirnya, tetapi di pertengahannya. Cerita terbaik ada pada perjalanannya. Perjalanan dapat mengubah awal juga akhirnya.

***

Tidak ada kesabaran sejati tanpa pengetahuan tentang hal yang membuatmu harus sabar itu.

***

Ada orang yang meninggalkan islam untuk mencari dan menemukan Islam; hijrah dari islam yang kecil menuju Islam yang besar. Seperti itulah pencarian Kebenaran, tak pandang siapa dari agama apa, termasuk muslim.

Namanya juga pencarian, tersesat diperjalanannya tentu ada. Bagi orang yang niatnya tidak tulus, Islam menjadi labirin yang berliku. Bagi orang yang niatnya bersih, Islam adalah jalan lurus yang luas dan mudah dilalui.

Semoga Allah merahmati pencarianmu.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s