Story of The Week: Saenah

Cerita ini kutulis dengan emosi-emosi yang muncul setelah mendapati berita “Saeni” waktu itu, yang menjadi bola liar. Muncul artikel-artikel berita di internet yang beraroma busuk, tetapi aku tidak punya fakta yang bisa kupakai untuk meluruskan hal-hal, aku pun tak punya kapasitas untuk meluruskan orang-orang. Aku merasa sedih dan prihatin pada diri yang begitu lemah, sementara tidak suka kemiskinan dipermainkan.
Sebelum, selama, dan selepas salat dhuhur di hari kesekian Ramadan, benakku dipenuhi akan hal ini dan perasaan yang berkecamuk. Kuputuskan meninggalkan tesisku, dan menggunakan sisa waktu berada di perpustakaan untuk menulis cerita ini. Aku bukan penulis profesional, bukan cerpenis yang tulisannya akan dibaca orang; tetapi bagiku, menulis cerita bukan sekadar hobi dan kesenangan. Ini adalah cara lain menyampaikan pemikiran, tentang hal-hal yang tidak bisa kudekati dengan hanya berpikir menyambung data dan fakta saja, melainkan pula imajinasi dan perasaan-perasaan.
Aku tidak biasa memuat cerita-ceritaku di blog, tetapi kali ini aku membuat pengecualian. Inilah titik dimana aku menyadari aku memiliki jalan yang lain yang ingin kutiti. Bismillahi tawakaltu ‘alallah… Aku tidak tahu ke mana jalan ini akan membawaku. Mungkin ke tempat-tempat yang indah… dimana aku bisa berbuat, tidak cuma menulis cerita.
poverty
***
Saenah
Air mata itu hanya dibuat oleh, kalau bukan orang lemah, pemain sandiwara yang sangat ahli yang tidak butuh obat tetes mata lagi.
Di dunia tempatku tinggal, tidak ada lagi orang lemah. Setiap orang berjuang mendaki tangga-tangga pencapaian dan malu jika dilihat sebagai orang lemah. Hanya orang gila yang betah menjadi orang lemah.
Makanya, pengemis-pengemis dan gelandangan itu gila. Tidak punya otak. Jika mereka bisa berpikir, ketimbang minta-minta seratus, lima ratus rupiah, mereka bisa ambil linggis dan congkel pintu rumah orang. Mereka bisa mengumpulkan seluruh kaumnya dan melakukan menyerbuan malam untuk merampok satu rumah tanpa terdeteksi, dan menggunakan otaknya lagi untuk kabur dalam sekejap. Zap! Sayangnya, orang miskin itu ya orang bodoh juga. Makanya, mereka terus miskin.
Ya, karena kebodohannya itulah dia harus membangun ketahanan fisik duduk kaku berjam-jam dari siang sampai malam di depan toko swalayan, melihat pengunjung toko masuk dan keluar membawa barang-barang enak: es krim, roti, mie instan, gula, biskuit, buah kurma, terus-menerus memegangi gelas plastik jelek dengan sebelah tangan, sementara sebelah lainnya mendekapi tas hitam yang juga jelek, menahan pengabaian tanpa mampu tersenyum.
Karena kebodohan itu pula, dia yang lain harus membangun ketangguhan mental untuk melawan rasa malu dan penghinaan orang-orang yang menganggapnya tidak ada. Dia bertahan, sebelah tangan memegangi gelas plastik jelek, sebelah tangan lainnya menyeret anaknya yang masih kecil yang sehari-hari menyertainya menyayat hati orang-orang dengan kejijikan. Anak itu suatu hari mengencingi taman cantik di pusat kota. Pada hari yang lain, anak itu marah-marah sambil menendangi tulang kering ibunya kuat-kuat. Tidak peduli ibunya sudah keberatan menggendongi adiknya yang mulutnya sibuk dengan dot yang plastiknya sudah coklat karena selalu diisi teh.
Cuma orang bodoh pula yang rela mati demi zakat, berdesak-desakan dengan ribuan orang bodoh lainnya di bawah terik sinar matahari, di depan gerbang tinggi seperti pintu penjara yang tertutup, penjaga rumah orang kaya. Gerbang itu dibuka sedikit saja untuk mengizinkan masuk seorang demi seorang yang sebelumnya sudah bersikut-sikutan, injak-menginjak, teriak-meneriaki saingannya, takut tidak kebagian rezeki.
Bodoh, bodoh, bodoh! Jangan minta-minta! Kerja, bodoh! Mengemis itu bukan kerja! Dasar penyakit sosial! Orang miskin penyakit!
Sst! Satu orang dari mereka rupanya mendengarkan umpatan dalam hati orang-orang kaya mulia itu, malu pada dirinya sendiri. Ia meninggalkan kerumunan orang bodoh, dan pergi entah ke mana. Tahun-tahun berlalu, baru-baru ini saja aku tahu kalau ia menjadi orang terkenal dari berita-berita di koran dan televisi. Gara-gara warung makan miliknya digrebeg petugas karena buka di siang bolong di bulan Ramadan dan ia menangis.
Tempe dan ikan goreng, sayur dengan kuah santan pedas, semur ayam, makanan-makanan yang entah apa namanya. Isi baskom-baskom itu dituang tanpa ragu ke dalam kantong plastik bening baru, digotong bersama teman-temannya dari warung lain ke kantor penguasa daerah. Tak ada pengadilan untuk mereka, tidak ditanya mereka untuk apa sebenarnya mereka dimasak. Tanpa ba-bi-bu, ke dalam sebuah lubang besar di tanah halaman belakang rumah gedung istana penguasa itu mereka semua dibuang. Bau bumbu menguar ke udara…
Siang hari, berekor-ekor kucing datang ke rumah besar itu, menyelinap di pagar-pagar dan rumpun-rumpun teh-tehan penghias taman, mencari sumber bau yang enak itu.
Mengendus-endus, mereka mengira ada perjamuan makan besar di rumah besar. “Mungkin pak walikota sedang mengundang orang-orang miskin untuk makan bersama?”
“Bukan,” kata burung gereja yang bertengger di kabel listrik menyela. “Itu husnuzon yang jelek sekali, Cing.” Buruk gereja itu dengan malas merentangkan sayap dan mengepak-ngepakkannya. “Mana ada orang miskin menjejakkan kaki ke taman yang indah ini. Mereka penghuni jalan-jalan dan pasar-pasar dan kampung-kampung kumuh. Bukan istana ini.”
“Lalu bau ini?”
“Itu bau makanan haram,” jawab burung gereja.
“Haram? Ini ikan.” Kucing mengendus-endus lagi. “Ini tempe. Ini sapi. Ini telur puyuh. Ini tahu…” Hidungnya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Ia tidak salah.
“Haah… salah sendiri mereka begitu enak sehingga menjadi setan manusia-manusia yang sedang puasa. Karena itu mereka jadi barang haram. Coba mereka seperti tahi, atau air bekas cuci. Mereka tidak akan dihukum seperti ini. Mereka dibuang sia-sia ke lubang itu. Cuma karena mereka enak dan menggoda.”
Kucing mengejar teman-temannya yang segera lari mendahuluinya. Teman-temannya mengeong-ngeong di tepi lubang tanah yang penuh berisi makanan. Mereka saling melempar pandangan sedih. Tidak bisa dimakan… Terlalu dalam. Bisa-bisa mereka tenggelam dalam kuah yang enak itu. Kucing pun terduduk. Ia ingin pergi ke pasar saja, siapa tahu ada makanan sisa orang-orang dari warung untuknya. Siapa tahu ada tulang-tulang ikan untuknya.
“Pasar bahkan tidak ada lagi.”
Kucing mengangkat kepalanya. Ia mendekat ke sumber suara dan menemukan lubang tikus werok di sudut taman.
“Mulai hari ini rumah makan di pasar semua harus tutup. Tidak akan ada makanan sampai nanti malam, sisa orang-orang berbuka yang kekenyangan dan tidak sanggup menghabiskan makanan yang mereka beli.”
Mata kucing berbinar-binar. Perutnya lapar dan ada tikus besar di hadapannya.
“Eit, tunggu dulu,” kata tikus. “Di antara kaum kita sudah ada perjanjian damai sejak manusia menguasai tempat kita, bukan? Kalian tidak akan memburu kami lagi dan kita sama-sama mencari rezeki dari sisa-sisa manusia.”
“Lapar…”
“Berpuasalah, sama sepertiku. Mari tidur siang saja.”
Kucing pun ikut merebah di sebelah tikus. Kepalanya terkulai ke tanah. “Apa guna kita berpuasa… Tuhan tidak memberi kita pahala apapun.”
“Andai kita punya otak yang cukup besar sehingga kita bisa mengolah makanan, rumput tentu bisa jadi daging. Aku tak bisa makan sampah lagi. Aku seperti makan dosa manusia yang mubazir. Mengapa harus kita yang menyelesaikan masalah-masalah manusia? Kau tahu berita tentang ayam? Gara-gara manusia, dia makan temannya sendiri.”
“Benarkah?”
“Benar. Ayam bodoh sekali. Dia tidak kenal bentuk tulangnya sendiri. Dia menotoli daging yang melekat di tulang temannya sendiri yang disembelih kemarin, dimasak, dan tak habis dimakan. Andai dia tahu, tidakkah dia akan menangis dan memuntahkannya?”
“Kita hewan tidak menangis…”
“Tidak. Kita menangis, di dalam hati kita. Manusia tidak bisa mendengar itu, tetapi Tuhan bisa. Ah, semoga Tuhan mendengar kita benci keadaan ini.”
“Aku lapar.”
“Nanti malam kami akan melakukan aksi rahasia. Kami akan menggerong tanah sampai ke sumur makanan itu. Mari nanti kembali lagi ke sini. Kami bisa berbagi dengan kalian.”
Bau kecut dan busuk memenuhi udara malam yang panas, sekalipun sumur makanan sudah ditutup beberapa waktu yang lalu. Orang-orang yang berlalu-lalang di dekat situ memenceti hidung mereka, mual. Kipas angin dinyalakan untuk meredakan penderitaan orang-orang yang tarawih bersama di pendopo kantor istana walikota. Semua memencet hidungnya, tidak khusyuk salatnya.
“Kurang dalam lubangnya itu…”
“Memangnya itu liang kubur?”
“Waktu operasi tadi pagi saya bawa pulang seplastik. Sayang. Makanan enak dibuang. Bisa buat buka. Sudah lama anak-anak tidak makan enak.”
“Nyolong…”
“Nggak to ya. Gimana lagi? Daripada dibuang. Biasa beli, mahal, ini dapat gratis.”
“Tetap saja nyolong.”
“Daripada mubazir, temannya setan. Ayo, milih yang mana?”
“Sampai masuk berita ya yang tadi pagi itu?”
“Iya nih. Kasihan sebenarnya. Lihat mbah-mbah itu nangis, nggak tega saya. Kan saya juga punya ibu. Tapi kalau perintahnya begitu, bagaimana lagi?”
“Ssst! Ceramah, ceramah. Diam.”
“… hadirin sekalian … Bulan Ramadan bulan yang mulia. Pintu neraka ditutup, setan-setan dirantai. Rahmat dan ampunan Allah melimpah. Pahala ibadah berkali-kali lipat. Sungguh rugi orang yang tidak puasa, padahal ini ibadah wajib. Orang-orang banyak yang tidak mengerti dan melakukan maksiat dengan terbuka. Tidak menghormati bulan puasa, mereka makan di siang hari, di muka umum. Warung-warung, restoran-restoran buka. Mereka terus mencari keuntungan, tidak sadar maksiat apa yang sedang mereka perbuat, mereka membantu orang-orang yang tidak puasa.
“Sebagai pemerintah, pemimpin daerah ini, bapak-ibu sekalian yang bekerja untuk masyarakat, punya kewajiban untuk menjaga bulan puasa dan menertibkannya. Takutlah kepada Allah yang nanti akan menanyai kita, apa yang kita lakukan ketika bulan-Nya dilecehkan mereka yang durhaka? Amar makruf nahi munkar adalah kewajiban setiap muslim. Kita telah berusaha sebaik-baiknya, tetapi usaha apapun sedikit atau banyak pasti menuai kontroversi.
“Jangan takut pada manusia. Takutlah kepada Allah. Apa yang kita lakukan, menegakkan hukum-Nya, sudah benar. Jika masyarakat tidak diingatkan dan dibiarkan semaunya sendiri, mereka akan terbiasa bermaksiat kepada Allah… Allahu akbar!”
Ceramah itu terbawa angin melintasi halaman dan sampai di telinga kucing yang berjalan santai keluar pagar rumah penguasa sambil menjilat-jilati moncongnya. Ia menyeberang jalan raya yang ramai, menyusuri tepi jalan, berbelok ke kanan dan ke kiri seakan-akan sudah terpateri sebuah peta di dalam kepalanya, dan setelah beberapa lama, ia berhenti di pasar yang sepi. Di depan sebuah warung ia merebahkan diri dan meringkuk, tidur.
Biasanya malam-malam begini, Bu Saenah dan ibu-ibu pemilik warung lain keluar untuk membuang berember-ember makanan sisa ke tempat sampah. Tapi, malam ini, sungguh tidak biasa…
Kucing tak peduli lagi apakah warung Bu Saenah terus tutup atau akan buka lagi. Ia girang, warung-warung yang lain akhirnya kembali buka di malam-malam kemudian. Ia bersama teman-temannya mengerubungi tempat sampah seperti biasa. Tak ada yang dibutuhkannya selain ini.
“Masuk berita itu sumber rezeki apa bukan?” Leyeh-leyeh sambil mengipas-ngipas dirinya dengan koran, seorang pria merokok. Sesekali ia menyeruput kopi. “Katanya sumbangan orang sampai 200 juta lebih. Hebat ya, orang negara ini! Buat dibagi-bagi ke pemilik warung yang kemarin dagangannya disita ya? Bagi-bagi juga ke saya dong nanti…” Tertawa, sambil menjentikkan rokok di tangannya dan menjatuhkan abunya ke asbak.
“Iya, kalau jadi!” Pemilik warung merengut.
“Kalau jadi?”
“Iya, kalau jadi!” Sambil melap piring-piring basah, ia mengadu. “Ketahuan Saenah ini istrinya Alek. Siapa orang yang mau nolong istri bandar togel nomor satu di kota ini?”
Pria itu tergelak semakin keras. “O dasar Nasar, Nasar. Dia lapor ke polisi ya? Dengki saya kira. Masa bandar judi dikasih derma! Lha dia beli togel kalah terus uangnya dimakan Alek!”
“Tapi kan korban petugas bukan cuma Saenah. Lha yang lain, yang nggak pake nangis? Memang saya punya warung dua, ibu sebelah punya dua juga. Memang orang nggak bakal bantu orang yang sudah kaya, tapi kita-kita ini kaya dari mana? Orang luar itu nggak tahu susahnya buka warung. Pajaknya, pungutannya, harga bahan-bahannya, ongkos yang bantu-bantu. Ramadan gini yang beli sepi, orang-orang berduit makan perginya ke restoran. Masjid-masjid kasih makanan gratis ke orang-orang. Kalau bukanya cuma malam, gimana balik modal? Gimana dapat untung? Siapa juga yang masih mau makan murahan di pinggir jalan begini? Cuma orang yang kayak kamu saja, kere, ngutang terus!”
Tertawa lagi. “Kita kan teman…”
“Apa saya balik jualan yang dulu itu lagi ya?”
“Jualan tuak?”
“Iya.”
Lagi-lagi tertawa. “Woo setan kamu. Lebih baik kasih makan orang nggak puasa! Lebih baik kasih makan orang nggak punya uang kayak saya!”
“Semprul!” Sambil melempar serbet.
Tiba-tiba cepat sekali, sebuah ambulan lari di jalan depan warung seperti dikejar setan, dan diikuti beberapa mobil yang sama ngebutnya. Sirinenya kencang sekali. Dua orang itu buru-buru keluar untuk mencari tahu. Orang-orang di sekitar juga tampaknya ingin tahu. Ada apa? Ada apa?
Besoknya baru ketahuan beritanya di koran-koran. Pak walikota masuk rumah sakit. Kena stroke karena makan kambing waktu buka. Berkah pemilik warung! Tidak pernah ada operasi lagi sejak saat itu, sampai hari-hari menjelang lebaran.
Meski begitu, warung Saenah tidak pernah buka lagi.
Masjid-masjid ramai orang yang mengaji, beribadah, dan membayar zakat. Antrean panjang mengular sampai ke halaman masjid. Pertama kalinya pembayaran zakat seperti ini. Walikota benar-benar berhasil membuat warga patuh menunaikan kewajibannya. Para amil berwajah sumringah. Dengan uang yang terkumpul, banyak orang fakir dan miskin yang tertolong kali ini. Mereka sudah punya cita-cita membuat pelatihan, memberi pekerjaan, uang untuk pendidikan anak-anak miskin, kesehatan, rumah singgah… Mereka memuji Allah setinggi-tingginya, luar biasa bersyukur.
Keramaian tiba-tiba hening. Kepala-kepala menoleh dan dilanjutkan bisik-bisik. Nek Saenah berjalan pelan-pelan mendekati mereka dan ikut mengantre. Kepalanya tunduk dalam sekali, matanya takut bertemu mata orang. Selama ini orang tidak tahu siapa sebenarnya dia, perempuan tua sendirian yang tinggal di rumah batako sejak tahun lalu. Rupanya dia masih punya suami, bandar judi lagi. Rupanya dia orang kaya, tapi pura-pura miskin seperti itu. Buka warung di bulan puasa, kena operasi petugas, menangis air mata buaya, diliput wartawan, membuat orang-orang bodoh kasihan dan susah-susah mengumpulkan derma. Penipu.
Antrean menipis, menipis, menipis. Sampai tinggal beberapa orang terakhir, termasuk Saenah. Tiba giliran Saenah. Saenah bersimpuh di lantai masjid yang dingin di hadapan petugas penerima zakat, tanpa bicara disodorkannya saja beberapa lembar uang. “Ini zakat saya.”
Petugas zakat saling berpandangan, lalu sama-sama memandang uang kertas warna biru yang berlembar-lembar. Ini uang apa? Halal atau tidak? Mereka saling berpandangan lagi dan bertanya tanpa suara, hanya dengan mata. Apa hukumnya menerima zakat dari istri penjudi? Mereka sama-sama memandangi Saenah, rambut putihnya, muka bulat tembam, kulit keriput, raut kelelahan, baju yang tidak disetrika. Orang miskin atau orang kaya?
Saenah langsung pergi. Petugas itu menyendirikan uang Saenah. Tidak tahu itu harus diapakan. Mereka harus bertanya pak kyai dulu.
Burung gereja yang bertengger di dahan pohon menyaksikan semua itu. Ia yang semula tidur membuka sebelah matanya dan memandang sebelah mata orang-orang itu. Allah tahu apa yang tidak mereka tahu. Burung gereja itu bangun sempurna, merentangkan sayapnya, dan terbang mengikuti Saenah ke rumahnya. Ia hinggap di atap, melihat Saenah masuk dan pergi istirahat.
Ada cerita yang diceritakan turun-temurun di antara para burung gereja, tentang seorang wanita yang mengguncang langit dengan tangis dalam hatinya. Ia dulu orang kaya dari menikah dengan laki-laki kaya karena orangtuanya ingin ia hidup enak, tidak miskin seperti mereka. Celaka, tidak dilihat apa kerja laki-laki itu, wanita itu dan anak-anaknya bertahun-tahun hidup dengan uang haram sampai tidak ada setetes pun darah mereka yang tidak haram. Celaka, laki-laki itu kemudian bangkrut dan kemiskinan menghampiri mereka. Celaka, wanita itu akhirnya terlempar ke jalanan, membawa anak mengemis ke mana-mana sampai anaknya besar. Anaknya jadi nakal dan meninggalkan dia, ia tetap mengemis dari rumah ke rumah, dari toko ke toko.
Ramadan adalah bulan kesukaannya karena di bulan itulah rezekinya meningkat. Orang-orang lebih murah hati, di mana-mana makanan gratis, dan zakat dibagi-bagi. Ia tidak peduli harus berdesak-desakan, terinjak-injak, dan setiap tahun menjadi bagian dari orang-orang yang diberitakan berebut zakat. Senangnya mendapat selembar uang biru di tangan. Itu tidak pernah dipakainya karena sayang sampai akhirnya terkumpul banyak, enam ratus ribu.
Pada tahun itu ia ingin meminta zakat lagi, tetapi di jalan ia tak sengaja bersitatap dengan seorang entah siapa yang sedang asyik makan makanan cepat saji di restoran mahal yang bagian kacanya tembus pandang, orang kaya yang isi hatinya terpantul jelas di wajahnya, melukiskan raut-raut merendahkan. Islam. Miskin.
Entah kenapa tiba-tiba ia merasa malu. Dilepasnya jilbab pink kusam yang selama ini menutup rambutnya dan disembunyikannya dalam tas hitam yang tidak pernah lepas darinya. Ia duduk di pinggir pintu masuk restoran itu, mengemis. Awalnya niatnya hanya menunggu waktu sampai acara pembagian zakat dan buka puasa bersama miskin dan yatim dimulai di masjid dekat restoran di sore hari. Tapi, sampai waktunya lewat ia tak beranjak dari situ. Adzan maghrib menyadarkannya. Ia bangkit dan justru meninggalkan tempat itu, meninggalkan teman-temannya.
Entah dari mana ilham dia dapatkan, dari mana pertolongan itu datang, ia memilih menggunakan tabungan yang sangat disayanginya untuk berdagang. Awalnya cuma jadi pengasong di terminal, lalu punya warung super kecil di tepi jalan tempat para supir angkutan senang beristirahat, lalu ia mulai jualan nasi, sampai akhirnya bisa buka warung makan di pasar, sampai akhirnya ia bisa memperkerjakan satu orang, dan membuka cabang di tempat lain untuk mempekerjakan adiknya. Suaminya masih ada, tetapi ia anggap sudah mati. Ia tidak mau ambil apa-apa lagi dari laki-laki itu.
Cita-citanya adalah tidak lagi jadi pengemis zakat. Tapi baginya aneh rasanya, orang miskin membayar zakat. Ia merasa terbelenggu masa lalunya dan merasa aneh dengan suatu keadaan yang baru bahwa akhirnya ia jadi orang kaya meski bukan kaya sekali. Ia merasa lebih baik menunggu sampai lebih kaya lagi. Namun rupanya, mungkin karena ia ragu, Tuhan mengujinya dan dibuat usahanya seret. Pada saat ia insyaf dan berniat untuk berzakat esok hari, petugas datang ke warung makannya dan membawa pergi semuanya.
Ia benar-benar tidak tahu kalau pedagang makanan dilarang berjualan di siang hari Ramadan. Ia dibuat kaget setengah mati melihat sumber hartanya pergi. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa bergerak. Air matanya menetes. Dalam hati ia hanya bertanya: Mengapa ia ditakdirkan jadi orang bodoh yang tidak tahu agama dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya?
Ia pulang dengan tubuh lemas. Cita-citanya terbang ke langit. Ia tidak mau melakukan apa-apa lagi, hanya di rumah memohon ampun.
Selama waktu ia mengasingkan diri, ia tidak tahu bahwa air matanya menjadi berita di seluruh negeri dan ada orang yang bahkan menggalang dana untuk membantunya memulai usaha lagi. Ia tidak tahu para ulama besar sampai berbicara dan presiden negerinya pun memutuskan mencabut aturan-aturan yang salah satunya menyebabkan kesialan para pedagang miskin di bulan Ramadan.
Ia hanya ingin membersihkan jiwanya. Dibukanya lemari, dirogohnya amplop yang disimpannya di bawah baju-bajunya. Uang enam ratus ribunya yang terakhir ia punya. Ia ambil separuhnya dan ia bawa pergi entah ke mana.
Ia tidak kembali lagi ke rumahnya dan membuat orang sekampungnya ribut. Keesokan harinya ia ditemukan, menjadi korban tabrak lari pemuda yang keliling kota dengan sepeda motor untuk takbiran, senang Ramadan berakhir dan besok akan berpesta di hari kemenangan.
Mengingat cerita itu, burung gereja bertanya-tanya, mungkinkah wanita itu hidup kembali?
Yogyakarta, 19 Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s