Teman Seperjalanan Hidup

Muslim yang jadi teman-teman saya di Facebook dan di luar sana, setelah saya perhatikan dan pikir-pikir, dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis orang. (Dapat terjadi percampuran lebih dari dua, meski tetap ada satu yang dominan).
 
1) “Look back and get experience”. Senang melihat dan belajar dari masa lalu Islam, dan mendapatkan keyakinan akan Islam dari imajinasi kebesarannya di masa lalu itu. Mereka story teller-agitator yang hebat. Cuma, karena pengetahuan sejarah peradaban Islam sempit, penglihatan mereka terbatas pada beberapa abad yang gemilang yang diikuti masa kegelapan, serta lupa bahwa Allah Mahaadil dan Mahakuasa, mereka banyak diliputi pesimisme, kepedihan, kesedihan, dan kemarahan. Tulisan-tulisan mereka bergaya romantis, berisi nostalgia, yang lalu diikuti ironi “muslim kok nasibnya…” Belajar dari pengalaman jatuh, terpuruk, dan dijajah bangsa asing, hasrat mereka adalah kembali bangkit dan jaya di masa depan, mengalahkan pihak-pihak luar yang menghancurkan dan menjadi ancaman Islam dan muslim.
 
2) “Look around and find reality”. Punya pandangan dan persepsi yang tajam tentang apa yang terjadi di tubuh masyarakat Muslim saat ini, dan menangkap masalah-masalah apa yang terjadi. Mereka problem finder dan kritikus yang luar biasa. Persoalannya, mereka mendapati realitas yang bermasalah ada pada diri sesama mereka sendiri, tetapi sialnya tidak sadar-sadar akan kesalahan yang ada pada diri sendiri itu. Mereka mendorong introspeksi yang tidak disambut. Kemarahan mereka disertai kekecewaan, kekesalan, rasa sebal, muak, dan jijik pada sesama muslim yang bodoh dan buta realitas. Cuma karena tidak sabar, mereka sering bersikap sarkastis dan satiris; berbicara dengan gaya menyindir dan mengejek. Cita-cita mereka sebetulnya hanya ingin saudara-saudara mereka tercerahkan dan mencapai kemajuan dengan cara yang terhormat, lewat ilmu pengetahuan, kepribadian dan akhlak mulia, dan kepedulian pada kemanusiaan dan koeksistensi dengan umat lain, yang menjadi kebutuhan hidup di era modern.
 
3) “Look within and find themselves”. Mereka adalah orang yang sangat memperhatikan diri. Mereka berusaha menghindarkan diri dari kekacauan dunia, mencari posisi yang bersih dan suci, dan fokus memperbaiki/ menyempurnakan diri sebagai langkah pertama untuk memperbaiki orang lain. Mereka menjauhi politik, tidak memihakkan diri pada kubu manapun, dan tidak senang dan tidak tahan melihat perdebatan-perdebatan tentang masalah umat yang menurut mereka tidak berguna. Mereka “mengasingkan” diri dari arus utama yang panas dan bergolak, menekuni tasawuf/ ilmu-ilmu agama, memperkuat ibadah, dan asyik belajar di majelis-majelis dengan harapan kelak bisa berbuat sesuatu. Cuma karena sikap seperti itulah, di satu sisi mereka menjadi orang-orang yang apatis-tidak peduli pada menghadapi isu-isu terkini dan bicara yang bagus-bagus saja, yang aman-aman saja, dan mengeluhkan orang-orang yang “berbuat keributan”. Di sisi lain, mereka menjadi ustadz-ustadzah yang ingin sekali memperbaiki orang-orang; the idealistic-preachers.
 
4) “Look forward and see hope”. Ini dia orang yang sejauh ini baru bisa kubayangkan saja karena yang seperti ini belum (atau sebenarnya sangat amat jarang) ada di sini. Ia yang memetik pelajaran dari masa lalu secara berimbang, memeriksa keadaan masa kini secara objektif tanpa terganggu bias dan mengajak orang lain untuk sama-sama melihat dan menghadapi masa depan dengan optimisme. Ia yang menghargai semua orang dan usaha-usaha mereka, memahami keadaan dan keterbatasan mereka, dan percaya setiap orang ada dengan tujuan dan keberadaannya tidak sia-sia, ibarat kepingan puzzle yang cantik pada tempatnya. Ia yang tidak mengeluhkan siapapun dan apapun, mencintai semua.
 
Bayangkan perjalanan dengan kereta ekonomi yang panjang dan melelahkan dan dirimu ada bersama dengan orang itu. Ia tahu kau lelah dan hampir habis kesabaranmu di dalam ular besi panas, bau, berkursi keras. Melupakan ketidaknyamanannya sendiri, tidak ada yang dilakukannya selain bersemangat menunjukkanmu pemandangan indah di luar kereta dan hal-hal menarik yang ia tahu agar kau bisa menikmati keadaan, dan tetap bersabar; agar perhatianmu teralihkan dari sebab yang membuatmu masuk ke kereta ekonomi, dari ketidaknyamaan yang sedang dirasakan yang membuatmu mengkritik seluruh kereta dan sistem transportasi, dan dari siksaan ketidakpuasan yang diberikan oleh pikiran-pikiran tentang perjalanan yang ideal dan sempurna.
 
Dia, si penghibur dan penenang hati, membuatmu lupa pada dirimu dan realitasmu yang dekat, membuatmu melihat realitas yang jauh dan luas di luar tempurung duniamu, lalu mampu memuji Tuhan.
 
***
Di luar itu, sebenarnya ada kategori yang terakhir. Mereka yang dengan bijak memutuskan tidak peduli sekali pada masa lalu, masa kini, dan masa depan agama. Mereka orang-orang yang paling bahagia karena tidak ada beban berat di pundak mereka dan hidup dengan hati ringan tanpa persoalan agama yang pelik. Mereka bergembira bersama hal-hal yang menyenangkan hati mereka: hidup yang damai, keluarga yang utuh, anak-anak yang sehat dan jadi besar, kemajuan pekerjaan dan karier, harta benda yang akhirnya dimiliki, menikmati kuliner, jalan-jalan ke tempat wisata, pergi ke luar negeri…
 
Mereka mencukupkan melaksanakan yang wajib dari ibadah, belajar dari agama yang paling penting saja dari ulama-ulama yang populer dan mudah ditemui di TV, melakukan apa saja yang bisa dilakukan, tidak mencari yang sulit-sulit, dan berpegang pada prinsip moral yang paling mudah dimengerti. Cita-cita mereka sederhana: hidup sejahtera lahir batin, selamat dunia akhirat.
 
Iman mereka tidak diuji dengan polemik dalam dunia agama, melainkan dengan masalah dalam kehidupan keseharian. Mereka hidup dengan beragama; tidak terpikir untuk memperjuangkan agama, mengkritik agama, atau mengeluhkan agama. Mereka bekerja keras untuk hidup tanpa mengetahui teori jihad, berdoa pada Tuhan dengan cukup pengetahuan Satu Tuhan yang Maha Menolong. Mereka tidak terpikir untuk berlomba-lomba menjadi yang paling alim, menjadi ahli ibadah, atau apapun. Mereka hidup saja. Ketika mati dipanggil Tuhan, dengan sederhana mereka berkata, “Sudah waktunya.”
 
Mereka berbuat salah dan dosa dalam hidup, tetapi kebaikan “tidak bertengkar dengan orang dan membenci orang karena agama”, menjadi penyelamat mereka. Syukurlah mereka adalah yang mayoritas; penebar kebahagiaan yang melihat mereka saja membuat diri ikut senang, meski sering dinilai tidak religius. Aneh betul hidup ini…
Train

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s