Diari Tesis Bag. 12: Menuju Ujian Tesis, A Slight of Remembering

Sedang deg-degan. Jadwal ujian tesis yang ditunggu-tunggu tidak juga keluar, padahal direncanakannya besok. Sepertinya bakal diundur. Semoga tidak lewat bulan Juli. Aamiin… Ya Rabb.

***

Pemandangan di luar pagi ini indah sekali. Awan mendung menggantung di langit, dan bersamaan dengan terbitnya matahari, semua menjadi dramatis. Tahun ketiga di Yogya bukannya tidak terasa. Terasa betul hari-hari di sini, teringat selalu suka dan dukanya, masalah-masalah apa yang datang dan pergi, serta pelajaran-pelajaran apa yang didapat dari situ. Khusus tesisku, ada banyak kenangan di dalamnya. Tidak semua akan kuceritakan, melainkan yang penting bagiku untuk saat ini saja, yang membuatku sangat bersyukur dengan hidup ini.

Tesisku adalah perjalanan mencari dan menemukan Tuhan; aku merasakan itu sekarang. Bermula dari persoalan pribadi yang terus-menerus kucari jawabannya, takjub aku bahwa tanpa kurencanakan, tanpa kusengaja, hidup dibuat-Nya mengarah pada penemuan jawab tentang itu. Benih telah lama ada, tetapi keputusan untuk menanamnya dan menumbuhkannya sama sekali di luar perkiraan. Aku bahkan menanamnya tanpa sadar, tahu-tahu saja di pertengahan jadi teringat, “Lho, ini kan yang kubutuhkan selama ini!”

Masa mudaku mungkin cukup aneh; aku orang yang terlalu banyak merenungkan hidup. Satu hal yang pernah menyita perhatian dan menguras tenagaku tiga tahun yang lalu, ketika baru lulus S1, adalah berpikir tentang masa depan, kehidupan nyata, kondisi-kondisi kurang, ketidakpastian penghidupan, kehidupan kerja, ketakutan akan kemiskinan, rasa bahwa diri begitu lemah dan tidak berdaya untuk bertahan hidup. Teman-temanku sibuk mencari kerja, ke sana-ke mari sampai merantau jauh demi mencari uang. Uang, uang, uang; demi sebuah hidup yang normal, kehidupan impian dengan kesuksesan di tangan, kehidupan yang dapat diperbanggakan antara satu sama lain.

Ibarat ada sebuah pintu menuju dunia kehidupan selanjutnya, ketika semua orang dengan mudahnya berlari dan begitu semangat memasukinya, aku tertahan di ambangnya. Sebuah dunia kulihat begitu mengasyikkan, sekaligus penuh perjuangan… tetapi ada suatu perasaan yang menahanku untuk tidak dengan mudahnya mencemplungkan diri tanpa bertanya lebih dulu, apa mauku di sana. Aku mau kehidupan yang bermakna, di tempat di mana aku bisa menjadi orang yang benar, menjadi orang yang lurus, bersama mereka yang memperjuangkan idealisme.

“Kau akan miskin kalau ingin hidup yang seperti itu. Itu kehidupan orang yang tak akan jadi kaya.”

Dan aku dibuat gentar olehnya. Aku jadi sadar tentang sesuatu di dalam hati yang sebelumnya tidak muncul ke permukaan. Kecemasan dan ketakutan bahwa hidup akan tidak baik-baik saja, menunjukkanku kenyataan hasrat-hasratku sebagai manusia. Aku ingin hidup yang nyaman, hidup yang dapat dibanggakan, ditunjukkan kepada orang, dan membuatku dipuji orang dengan apa-apa yang kumiliki, hidup yang di dalamnya aku dapat senang, dan semua berlangsung sempurna. Ketika aku tahu aku berada dalam posisi dimana semua itu hanya mimpi, ada beban luar biasa besar yang seperti dijatuhkan ke atas tubuhku dan terseok-seok aku membawanya: Rasa takut miskin.

Benar, rasanya seperti aku tidak punya Tuhan saat itu. Aku bertanya pada-Nya tentang apa yang bisa kulakukan, karena rasanya terus-menerus mengingatkan diri akan doktrin agama tidak berbuat apapun pada hati yang gelisah. Aku tidak mau takut miskin. Sejak itu aku belajar rutin bersedekah, satu-satunya cara yang kutahu dari membaca Quran. Ketimbang mengkhawatirkan apa yang bisa kumiliki, aku belajar mengeluarkan dan melepaskan sebagian apa yang kupunya untuk membersihkan hatiku dari perasaan itu. Aku tidak berpikir tentang rezeki apa yang akan kuperoleh sebagai balasanku, karena yang berharga bersama perilaku itu bukan apa yang akhirnya kuterima di tanganku, melainkan perenungan-perenungan yang hadir bersama perilaku itu. Itulah yang paling menenteramkan hati.

Judul tesis awalku sebenarnya bukan judulku yang sekarang. Judul tesisku dulu begitu kering, karena mengikuti apa yang normal dan umum di antara mahasiswa. Meski tentang materialisme, itu sama sekali tidak menyentuh diriku. Hanya Tuhan agaknya menghendaki, agar almarhumah dosen pembimbingku yang pertama “melihat sesuatu yang tidak kulihat”, aku pun tidak tahu apa yang beliau lihat. Beliau sadar bakatku menghadapi “kata-kata” ketika aku bercerita pengalaman berfenomenologi ria dahulu. Beliau bilang, sayang sekali jika itu tidak dimanfaatkan. Dan berubahlah semuanya dari studi kuantitatif ke kualitatif. Di saat perubahan itulah aku melihat lebih dalam ke dalam jantung fenomena, ke dalam diri sendiri, dan merumuskan apa yang sebetulnya dibutuhkan: Hanya sebuah konsep baru, untuk dijadikan acuan hidup yang lebih baik, minimal untuk diri sendiri.

Aku bukan ingin meneliti tentang anti-materialisme. Aku ingin mencari anti-materialisme. Saat itu anti-materialisme tak ada di buku mana pun, dan hanya sedikit dibahas di teori-teori kecil. Perjalanan menelitiku adalah perjalanan mencari sesuatu yang tidak ada di buku-buku psikologi utama. Ketika memulai perjalanan, aku bahkan lupa tentang masalah takut miskin dahulu. Baru teringat itu ketika proses pengambilan data sudah berlangsung. Tiba-tiba saja ingin tahu, “Apakah kamu pernah takut miskin?” Sebuah rasa takut lantaran kecemasan eksistensial, ketakutan tidak bisa menjadi manusia yang hidupnya baik karena tidak memiliki.

Sekarang, ada saat aku bisa melihat langit dan bintang-bintang dengan hati ringan. “Ternyata begitu, ya? Itulah mengapa Kau bilang hanya dengan mengingat-Mu hati akan tenang. Itulah mengapa Kau mengingatkan manusia agar senantiasa ingat nikmat-Mu agar bersyukur. Itulah mengapa Kau melarang kemusyrikan, agar manusia dapat merdeka dari jerat ketergantungan pada materi yang menyempitkan hati dan pikirannya.”

Aku tidak merutuki kondisi miskinku, bahwa aku akan terus menjadi manusia yang butuh dan ingin punya, bahwa aku mungkin akan jadi sama seperti semua orang yang akan banting tulang untuk mendapatkan penghasilan, menghidupkan kehidupan yang baru dan sebagainya, bahwa mungkin aku akan sangat kepayahan karena hidup. Satu yang berharga, aku akhirnya bisa menarik batas antara hamba yang senantiasa butuh dan miskin dan Rabb-nya Yang Mahakaya.

Jika dulu takut miskin dan berjuang agar tidak takut miskin, sekarang rasanya… aku bisa mencintai kemiskinan.

***

Tesisku adalah perjalanan belajar ulang tentang bagaimana berpikir dari mengalaminya langsung dengan keseluruhan diri. Baru tadi padi aku bangun dari tidur sambil menyadari satu hal: ternyata yang selama ini kulakukan adalah belajar membersihkan pemikiran, to refine thoughts.

Penelitian grounded-theory jelas kurasakan sebagai penelitian yang berat, lebih dari sekadar mendapatkan temuan dari otak-atik mengklasifikasikan data dan menemukan tema-tema. Sampai open coding dan focused coding, semua masih baik-baik saja. Dalam sebulan semua selesai karena proses berpikir yang dipakai sederhana, hanya sekedar mengklasifikasi data untuk membangun unit-unit makna. Tetapi, ketika mulai tahap selective coding dan berlanjut ke theoretical coding dan menuliskan hasilnya, enam bulan habis!

Ini to yang namanya constant comparisons. Berpikir secara terus-menerus membandingkan data: dari satu kode terfokus dengan kode terfokus lainnya, memilah-milah mana pemimpin (kategori inti), mana pengikut-pengikutnya (kategori dan subkategorinya), dan terus memastikan apakah itu benar pemimpin dan itu benar pengikut. Dan aku mengalami satu pemberontakan (ahaha…) ketika satu pengikut rupanya tidak mau tunduk dan akhirnya menjadi bahkan pemimpin semua pemimpin! Aku takjub, dia bisa melesat seperti itu dan menjadi satu temuan paling penting. Argumentasinya kuat sekali, sampai aku tidak bisa membantahnya.

Perbandingan konstan juga terjadi antara data dari periode waktu kehidupan partisipan yang berbeda, sehingga aku dapat temuan tentang proses perkembangan anti-materialisme; dari data individual partisipan satu dengan partisipan lainnya, sehingga aku dapat temuan tentang perbedaan individual dalam anti-materialisme; bahkan antara hasil analisis pertama dan hasil analisis kedua dan ketiga. Terus saja seperti itu.

Rasanya luar biasa, mengalami perang ide-ide dalam kepala, dan hasilnya bagaimana, aku tidak pernah menduganya akan seperti ini. Terus terjadi refinasi dan refinasi. Terasa betul ketika pemikiran itu masih kotor, diwarnai kebingungan, keraguan, perbantahan-perbantahan, dan tidak konklusif. Terasa betul ketika diri ini tidak rela satu pemikiran terbuang menjadi tidak penting lagi. Terkadang pentingnya satu hal tidak kita dapatkan dari data, melainkan perasaan kita. Kita tahu ini menjelaskan sesuatu, tetapi benang-benangnya belum jelas. Ubah sana, ubah sini. Cari lagi, cari lagi. Lihat kembali, periksa ulang.

Ada pengalaman yang tidak bisa kuungkapkan dengan baik hanya dengan kata-kata: dengan berpikir dan mengabstraksi, kita belajar terbang melampaui data dan melihat dunia pengalaman dari ketinggian. Ini yang namanya ekstrapolasi. Tak perlu tahu semua hal, tetapi dengan proses analisis, menemukan tesis-tesis kecil, dan sintesis-sintesis, kita bisa mendapatkan satu gambaran yang sepenuhnya berbeda, bukan seperti yang kita pikirkan sebelumnya ketika mata kita terlalu dekat menempel pada data sehingga kita kehilangan keluasan pandangan.

Satu hal yang paling berkesan dari penelitian grounded-theory adalah kebebasannya. Ini tidak seperti fenomenologi yang mengikat kita pada partisipan sebagai individu, atau studi kasus yang mengikat kita pada fakta. Dalam penelitian ini ada unsur fenomenologi, tetapi kita tidak terpaku pada perspektif partisipan sebagai individu, melainkan kolektif. Ada unsur studi kasusnya, tetapi kita tidak terkerangkeng oleh fakta yang membuat temuan bersifat sangat deskriptif. Temuan grounded-theory melampaui deskripsi.

Ya Tuhan, andai bisa S3… Ingin rasanya melanjutkan tesis ini, mengeksplorasi lagi dengan cara-cara yang berbeda, dan menemukan hal-hal yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s