Pelajaran dari Potongan-potongan Keajaiban

1#

Ia selalu bilang kalau dirinya orang bodoh; selalu merasa bodoh dan tidak seperti orang-orang yang lebih maju. Aku benar-benar mengerti itu sehingga aku tidak berharap akan melihatnya menjadi pribadi seperti orang-orang dari kalangan ilmuwan dan cendekiawan yang selalu kita tahu karakternya. Ia selalu bilang kalau hanya karena keberuntunganlah (Rahmat Allah) ia bisa di posisinya sekarang sebagai pengajar di perguruan tinggi. Ia mengajar Pendidikan Agama Islam, mata kuliah yang tidak menarik bagi banyak mahasiswa. Meski begitu, dan dirinya pun bukan tanpa kekurangan, rasanya keajaiban selalu bersamanya.

Satu keajaibannya adalah kisah hidupnya yang sering diulang-ulangnya ketika aku masih kecil. Kisah itu kuberi judul “Belajar dari Potongan Koran”. Sederhana saja ceritanya. Sama seperti, mungkin, banyak anak yang besar di era 60-an sampai 70-an, zaman itu tidaklah menyenangkan. Ia lahir dalam keluarga petani; ayahnya seorang kyai dan bekerja sebagai petani, ibunya seorang guru, juga bertani. Saudaranya banyak dan keluarganya miskin. Ibunya sering sakit sehingga ia sebagai anak pertama menjadi tumpuan keluarga untuk mengurus rumah tangga. Setiap hari bangun pukul 3, lalu memasak dan lain sebagainya, subuh-subuh berangkat sekolah, jalan kaki dari desanya sampai kota gelap-gelap ditemani tukang penjual arang. Zaman itu hampir tidak ada buku bacaan. Ia cerita kalau senang sekali jika mendapatkan potongan koran yang jadi bahan pembungkus barang-barang belanjaan dari pasar. Ia membaca, “melihat dunia”, dari potongan-potongan koran.

She is my heroine, not because of her intelligence and intellectual achievements, but her way of living as an intellectual.  She showed me how to appreciate knowledge. Even though it comes from pieces of newspaper, knowledge is still knowledge. 

***

2#

Ia tak banyak bicara, bahkan hampir selalu diam tak membicarakan apapun tentang diri dan kehidupannya. Ia hampir-hampir tak pernah hadir, kecuali beberapa saat. Bersamanya aku mengalami pertemuan dan perpisahan yang berulang-ulang sebagai ketetapan Tuhan yang anehnya tidak pernah kuprotes. Pada dirinya tak banyak yang kulihat, tetapi sekali ada yang kulihat, selalu yang baik-baik sebagai Rahmat Tuhan.

Sekali ia berbicara sebagai nasihat, saat itu aku beranjak dewasa, hendak masuk perguruan tinggi. Aku lupa apa tepatnya, tetapi intinya: Tanda orang sudah dewasa adalah ia sedia melakukan apa yang harus dilakukannya. Cuma itu. Dan bertahun-tahun lamanya kalimat itu “menghantuiku”, selalu kupikirkan maknanya, maksudnya, konsekuensinya. Kedewasaan kupahami sekarang bukan hanya masalah pertambahan usia, tetapi perbaikan perilaku. Kita tidak bisa berbuat semaunya sendiri lagi, harus tunduk pada apa yang harus dan seharusnya dilakukan, bukan yang sekadar diinginkan.

Itu kalimat bagus yang sering menyerangku. Aku jadi lebih sensitif membedakan mana yang butuh kulakukan dan yang hanya ingin kulakukan, meski begitu semuanya tetap begitu berat. Hidup seperti tak memberi kesempatan bernapas; terlalu banyak yang butuh dilakukan demi janji-janji hidup yang baik, yang membuatku berakhir mengorbankan keinginan dan kesenangan pribadi. Pada saat aku nekad memperturutkan keinginan, cambuk begitu cepat melecut. Geez

“Kalau kau tak mengerasi dirimu, hidup yang akan keras kepadamu.”

***

3#

Ia mahasiswa doktoral yang tidak selesai-selesai. Sudah hampir enam tahun lamanya ia berjuang menyelesaikan disertasinya. Ia memulai ketika aku memulai skripsiku dahulu dan sampai sekarang aku sudah selesai dengan tesisku, ia belum selesai juga. Semoga Allah menolongnya.

Ia tahu naik turun, panas dingin keadaan ketika aku bersama skripsiku dahulu. Sering demi skripsi, demi kepentinganku sendiri, demi keinginanku yang mementingkan diri sendiri, aku menomorduakan yang lain, terutama pekerjaan rumah tangga dan permintaan tolong ini dan itu yang menginterupsi. Semua itu sangat menyebalkan karena benar-benar menganggu konsentrasiku. Aku ingin bekerja dengan tenang, berkurung diri di kamar tanpa diganggu suara apapun.

Suatu saat di meja makan kami hanya berbincang, tetapi kemudian ia memberikan satu nasihat yang tidak pernah kulupa dan sangat sulit kuabaikan. Aku lupa bagaimana tepatnya, tetapi intinya begini: “Jika ada orang minta bantuan, dibantu saja, meskipun kita sendiri punya keperluan. Insya Allah, nanti Allah yang akan menolong kita karena kita menolong orang lain.”

***

4#

Dari semua ceramah Pak Mario Teguh di TV, aku betul-betul ingat dua hal:

Pertama, jangan senang mengeluh. Mengeluh itu tanda Anda egois.

Kedua, fokuslah memperbaiki diri. Jodoh akan datang bersama dengan kesuksesan Anda.

Nasihat pertama sangat psikologis sehingga aku mengerti betul maksudnya. Perilaku mengeluh (grumbling) adalah bentuk perilaku yang diteliti oleh Abraham Maslow sehingga ia bisa melahirkan teori kebutuhannya yang sangat terkenal itu. Senang mengeluh tanda seseorang itu miskin, karena itu menunjukkan banyaknya kebutuhannya yang tidak terpenuhi/ terpuaskan. Memenuhi kebutuhan, sebagian caranya adalah dengan mencari pemenuhnya, tetapi sebagian lainnya adalah dengan merasa cukup (qona’ah). Tidak mudah mengeluh dan bersyukur adalah satu cara untuk memunculkan rasa cukup dan hidup yang lebih memuaskan.

Nasihat kedua juga sangat psikologis, lebih-lebih karena itu menyangkut krisisku sebagai orang dewasa muda yang belum juga menemukan dan ditemukan oleh jodohnya. Rasanya memang tidak enak ketika kau menjadi orang yang terlambat dalam tugas-tugas kehidupan. Kau lihat teman-temanmu satu per satu menikah, satu per satu mulai memiliki anak… Kau lalu lihat dirimu sebagai penyimpangan dari normalitas. Satu ketika aku diwarnai kecemasan dan kesedihan karena masalah ini dan akibatnya aku membuat kesalahan besar dan dicambuk Allah sakit sekali. Allah benar-benar memberiku pelajaran dan nasihat, salah satunya dari Pak Mario itu.

Ketika sudah belajar, dan menjadi lebih percaya pada Tuhan dan jalan hidup yang ditetapkan-Nya, rasanya semua menjadi lebih baik.

***

Miracle 2

5#

Dulu aku sangat rasional. Aku meragukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Namun, sekarang aku telah memahami dan menyakini bahwa Keajaiban itu ada. Tuhan yang kusangka jauh ternyata sangat dekat dan ia menolongku berkali-kali. Aku meminta, aku bertanya, aku mengaduh, dan Ia menjawab berkali-kali. Ada rasanya sekarang, ketika kau berbicara pada Tuhan, kau benar-benar berbicara pada-Nya. Kata-katamu tidak hilang di udara, tidak berlalu dari hatimu, melainkan ditangkap dengan sangat baik oleh Yang Maha Mendengar. Kesendirian tidak pernah berarti sendiri.

 

Ada Tuhan dalam teori
Ada Tuhan yang kau alami

Kau tak tahu Ia
Teman bicara yang tak membalas kata
tetapi kau rasa mendengarkan
Teman berpersoalan yang kejam
memberi jawab hanya dengan diam

Ia yang pertama mempermalukanmu
yang pertama pula menghiburmu
hadiah-hadiah setelah engkau salah
adakah yang lebih baik dari itu?

Ia yang tak kau bagi dengan orang lain
milikmu seorang, khazanahmu sendiri
perasaan-perasaan dan pemahaman
yang tak punya dalil dan hukumnya
tak dapat salah, tak butuh dibenarkan

Melampaui imajinasi dan fantasi
bangkit dari lembar-lembar suci
Tuhan yang kau cari
ada di bumi

 

Yogyakarta, 1 Juli 2016

2 thoughts on “Pelajaran dari Potongan-potongan Keajaiban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s