“A Specialist in The Construction of The Whole”

“Wholeness is not achieved by cutting off a portion of one’s being, but integration of the contraries.”
— C. G. Jung
Oneness
1#
 
Ada sebagian orang yang tidak suka pada Kompas dan menikmatinya dengan kecurigaan. Itu sangat disayangkan. Untukku sendiri, membaca koran ini adalah satu-satunya cara saya saat ini berinteraksi dengan para intelektual negeri ini, yang bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah saya temui di kenyataan.
 
Ada jurnalis, politisi, ekonom, budayawan, sastrawan, seniman, ilmuwan dan peneliti, agamawan, panglima militer, menteri-menteri, presiden, pendidik, para pengamat ini dan itu, filsuf dan pemikir. Satu favorit saya adalah Pak Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan. “Kuliah”-nya tentang cara menjalankan negara dalam halaman opini selalu saya ikuti dengan penuh syukur. Semoga Allah ridha, ingin sekali menjadi seperti beliau.
 
Satu hal yang saya pelajari, mengamati bahwa orang-orang ini tidak muda lagi adalah, akan ada saatnya keahlian dan spesialisasi seseorang tidak “berbicara” lagi. Seiring dengan bertambah usia dan pengalaman, seiring dengan kesempatan melihat banyak sekali hal dalam kehidupan, seseorang “meninggalkan kedudukannya sendiri” dan mulai melihat “the whole picture of the nation”.
 
Pak Daoed lulusan Fak. Ekonomi UI (seharusnya jadi ekonom), lalu menjadi Menteri Pendidikan, menjadi think tank Pak Harto di zaman Orde Baru, dan selain menjadi macam-macam, termasuk menjadi profesor, kini beliau menjadi “penasihat bangsa”. Bagi saya, itu aneh sekali… Jalan hidup seseorang dibuat Allah sedemikian rupa, berawal di satu titik, tetapi berakhir di banyak tempat. Berawal dari satu ilmu, tetapi berkembang menguasai macam-macam.
 
Hari ini beliau menulis sesuatu yang bagus dalam “kuliah”-nya. Ada dua paragrafnya yang merupakan jawaban atas pertanyaan besar yang selama ini mengganggu saya: bagaimana mengatasi spesialisasi yang semakin ekstrem di dalam bidang-bidang ilmu dan bidang-bidang kehidupan. Dulu pikiran saya adalah dengan menjadikan diri seseorang menguasai semua ilmu dan semua bidang (polymath) sehingga ia bisa mempersatukan semuanya. Tapi, itu sungguh absurd!
 
Pak Daoed akhirnya memberikan caranya. Bagaimana jika kita ciptakan “A specialist in the construction of the whole”?
 
*I am stunned.
 
2#
 
PEMERINTAHAN SPESIALIS
 
“Dapat dibayangkan betapa sulitnya seorang presiden memimpin sidang kabinet, apalagi yang paripurna. Kesulitan datang dari kenyataan bahwa tokoh-tokoh terpelajar kita pada umumnya adalah spesialis. Pendidikan formal kita berbentuk piramida, semakin tinggi bertujuan semakin spesialistis. Pengetahuan tentang sesuatu semakin dalam, tetapi pemahaman keterkaitan dengan pengetahuan lain semakin kabur. Kepicikan ini bahkan bisa dan sudah terjadi di bidang pengetahuan pokok yang sama. Pemerintah memang diniscayakan semakin dikelola oleh ‘spesialis’. Progres tentu menuntut aneka spesialisasi. Namun, spesialisasi mengabaikan banyak hal yang diperlukan. Hal ini lama-kelamaan membahayakan progres dan, akhirnya, peradaban.
 
Maka agar pemerintah berkinerja, presiden kita tak bisa lain harus pula berupa seorang spesialis, tetapi ‘a specialist in the construction of the whole’. Kalau NKRI diumpamakan sebuah kapal, tidak sekadar membuat cetak biru kapal, tetapi menetapkan tugas spesifik dari setiap awak kapal. Dia adalah seorang teknosof, teknokrat yang berfilosofi.”
 
— Daoed Joesoef, “Sabda Pandhita Ratu”, Kompas, 29 Juli 2016, h. 7
 
3#
 
Apa nama yang sebaiknya diberikan untuk seorang spesialis konstruksi hal yang seperti itu? Apakah ada ilmu khusus untuk menjadi spesialis dalam hal itu? Ataukah itu hanya dapat dipelajari lewat mengalami sendiri perseteruan spesialisasi-spesialisasi dan berusaha mengakurkan semuanya? Entah. Tetapi, yang jelas saya dapat tiga elemen pentingnya: 1) Mampu membuat cetak biru, 2) Mengetahui fungsi setiap bagian, dan 3) Menetapkan tugas spesifik setiap bagian dan mengikat semuanya, mengacu pada cetak biru.
 
Dari memikirkan semua di atas itu, saya jadi menyadari beratnya pekerjaan seorang presiden yang dituntut untuk pula menjadi pemersatu. Di mana pun memang, pekerjaan mempersatukan hal-hal yang beraneka tidak pernah mudah.
 
Yang ditulis Pak Daoed terfokus pada perbincangan tata cara pemerintahan, tetapi bagi saya, sesungguhnya itu bisa dipakai untuk memperbincangkan bentuk-bentuk disintegrasi lain dalam kehidupan, contohnya disintegrasi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan pun butuh jenis ilmuwan khusus, “a specialist in the construction of the whole”: Yang memahami fungsi dan kedudukan baik ilmu-ilmu humaniora, filsafat dan agama, ilmu-ilmu sosial, dan ilmu-ilmu alam, yang memahami fungsi dan kedudukan macam-macam metode menghasilkan ilmu pengetahuan. Tanpa mempertentangkannya.
 
Dalam agama pun demikian, kita sama-sama menyadari besarnya perpecahan di tubuh umat gara-gara ilmu-ilmu agama yang terspesialisasi dan menciptakan ulama-ulama spesialis. Agama butuh jenis ulama khusus, “a specialist in the construction of the whole”: Yang memahami fungsi dan kedudukan baik ilmu-ilmu lahir maupun ilmu-ilmu batin, yang memahami fungsi dan kedudukan baik cara menggunakan teks-teks suci (bayan), penyelidikan empiris ilmiah (burhan), dan intuisi, refleksi, dan pengalaman batin (irfan). Tanpa mempertentangkannya.
 
Dalam keluarga, kehidupan berorganisasi, dan bermasyarakat pun diperlukan hal yang seperti itu. Bayangkan diri kita sebagai seorang kepala keluarga. Kita punya cita-cita ingin menjadikan keluargamu seperti apa (cetak biru). Kita tidak mungkin mewujudkan itu sendiri, sementara bersamamu ada istri dan anak-anak. Tugas kita mempersatukan semuanya untuk mewujudkan cita-cita itu. Kita memahami hakikat istri, untuk apa ia ada, dan memberinya tugas sesuai dengan keahliannya. Kita memahami hakikat anak-anak, apa kemampuannya, dan mengikuti itu tugasnya. Kita kenal diri kita sendiri dan hidup berdasarkan itu. Dengan memahami hakikat, fungsi dan kedudukan masing-masing, kita berbuat adil pada setiap bagian.
 
Dalam memahami kehidupan pun demikian. Kita mengalami setiap elemennya, yang indah dan yang jelek, yang baik maupun yang buruk; yang bahagia dan yang menyedihkan, yang benar maupun yang salah. Andai kita selalu ingat bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan main-main dan tanpa fungsi dan tujuan, kita tidak akan mengalami keterbelahan kepribadian, kekacauan identitas, kebingungan eksistensial. Kalaupun kita terbelah, kacau, dan bingung, itu adalah karena kita luput melihat hakikat, fungsi, dan kedudukan hal-hal. Andai kita selalu ingat bahwa asal semua hal adalah satu, seharusnya persatuan itu mungkin jika kita mampu melihat hal-hal dengan perspektif kebersatuan.
 
Kembali ke perbincangan tentang pemerintahan, kita sering mendengar persoalan ego sektoral. Dalam bidang ilmu, ada pula egoisme keilmuan. Dalam agama, ada egoisme ulama. Dalam kehidupan sehari-hari, ada egoisme diri. Agaknya sekarang, saya tahu apa satu sebabnya: kita terlalu banyak mengenal diri (bagian) kita sendiri, terlalu banyak tahu diri kita (bagian) sendiri, tetapi sedikit mengenal orang (bagian) lain, apa hakikat keberadaannya, apa kemampuannya, apa keahliannya, dan dari situ, apakah peran dan kedudukannya.
 
Meski begitu, tetap ada pertanyaan: bagaimana caranya menjadi a specialist of the whole? Hmm… Ini pertanyaan yang bagus untuk satu tahun dan bertahun-tahun ke depan. Ini perlu penyelidikan lebih lanjut. Mungkin saya perlu sedikit bereksperimen lagi dengan diri saya sendiri… atau bertanya dulu pada Tuhan, The Greatest Specialist in The Construction of The Whole in The World.

2 thoughts on ““A Specialist in The Construction of The Whole”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s