Karya Kemanusiaan dalam Anime: “Attack on Titan” & “The Sky Crawlers”

1#

Sastra. Banyak dari kita yang mungkin kacau mendefinisikannya, memahami apa artinya. Karena itulah kita kacau pula dalam memahami apa fungsinya bagi diri dan hidup kita. Kita memandang sastra sebagai sesuatu yang tampaknya berat; kita memahaminya hanya sebagai “buku-buku” sebagaimana memang ia sering menampakkan diri dalam wujud tulisan, hanya sebagai cerita-cerita dan karena itu kita anggap melenakan dan membuang-buang waktu. Kedangkalan itu menyebabkan kita kehilangan esensinya yang penuh warna dan beraneka rasa, seperti bunga-bunga di taman. Karena itu, kita enggan mendekat untuk mencium baunya, merasakan nektarnya, atau memetiknya untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan yang indah. Penikmat sastra hanyalah para kutu buku, para penyendiri, para perenung, para seniman dan sastrawan itu sendiri. Padahal, sastra adalah milik kemanusiaan.

Pernah suatu ketika membaca sebuah artikel di Kompas. Artikel itu membicarakan tentang sastra yang “kurang diminati dan kurang berkembang” di sekolah. Diceritakan bersama dengan itu tentang pengalaman para bapak bangsa yang pernah sekolah di Eropa bahwa membaca karya-karya sastra dijadikan kewajiban siswa-siswa. Dalam kurun waktu tertentu mereka harus membaca minimal beberapa buku. Tujuan membaca karya sastra adalah untuk melembutkan perasaan mereka yang saban hari menempa rasionalitas dengan membuat mereka bertemu dengan isu-isu kemanusiaan yang diungkapkan dalam karya yang mereka baca. Membaca karya sastra akan membuat mereka merenung dan bersama itu, memikirkan persoalan kehidupan manusia di alam nyata, dan menyadari pandangan-pandangan hidup diri. Dari situlah, mereka belajar nilai-nilai moral dan kemanusiaan, tentang apa yang baik, benar, dan dihargai, tragedi-tragedi dalam hidup manusia, dan pendirian-pendirian yang seharusnya dimiliki orang yang hidup.

Sebelum membaca artikel itu, saya sama sekali tidak sadar manfaat sastra meski sudah lama menikmatinya. Sebelum itu, karya-karya sastra bagi saya hanya penghiburan yang menyentuh hati dan mencerahkan pikiran, tetapi setelahnya, nilainya menjadi begitu tinggi. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah fiksi sekalipun dan kisah-kisah itupun sebenarnya mencerminkan sesuatu yang ada di alam nyata. Sejak itu, saya tidak pernah membaca sebagai hanya membaca. Saya membawa pula pena, untuk menggarisbawahi setiap kalimat-kalimat yang indah. Saya mendekatkan diri pada laptop untuk mencatatnya di dinding Facebook. Saya membuka internet untuk menyelidiki macam-macam yang aku ingin tahu darinya, apakah itu diri penulisnya, sejarah hidupnya, latar belakang cerita, implikasi karya tersebut, dan macam-macam. Saya pun menuliskan kesan-kesanku di weblog bersama pemikiran-pemikiran saya sendiri. Bersama dengan proses itu, akhirnya pun terbit sebuah mimpi. Kelak di masa depan, saya pun ingin melahirkan tulisan-tulisan yang seperti itu.

***

2# ATTACK ON TITAN

 

Attack on Titan

Kesukaan saya pada Anime/ Manga bagus sama seperti kesukaan saya pada karya-karya sastra. Semua memberikan perenungan tentang kemanusiaan dan pergulatan-pergulatan manusia. Baru-baru ini yang selesai saya tonton adalah Attack on Titan, tentang perlawanan manusia melawan orang-orang raksasa (Titan).

 

Diceritakan di latar belakang, awalnya manusia yang menguasai bumi adalah makhluk-makhluk yang suka berperang. Entah dari mana datangnya, muncul makhluk raksasa pemburu dan pemakan manusia. Raksasa-raksasa itu menghancurkan negara-negara, memusnahkan penduduk-penduduknya, dan memaksa mereka yang bertahan untuk bersatu dan hidup di satu wilayah yang dipagari tiga tembok besar.

 

Seratus tahun berlalu tanpa serangan apapun dari Titan. Di antara jutaan penduduk, ada sekelompok anak muda yang merasa tidak puas dengan keadaan hidup aman, tetapi terkurung dalam tembok besar. Mereka ingin melihat lautan, padang es, dan bagian dunia lain yang bagi mereka cuma cerita. Mereka ingin kebebasan, keluar dari kurungan pelindung… suatu gagasan yang tabu.

 

Awalnya tidak ada niat menulis ini, tetapi setelah dipikir, cerita Attack on Titan analog dengan apa yang dialami umat Islam saat ini. “Monster Titan”, “Tembok besar pelindung”, “Tabu”, “Orang-orang yang cari selamat”, dan “Anak muda pemberontak yang ingin kebebasan dan melihat dunia yang luas”.

 

Kelimanya eksis sebagai:

 

 

1) Bahaya besar yang dianggap mengancam, mengobrak-abrik, dan menghancurkan peradaban Dunia Islam (negara-negara Barat adikuasa, orang kafir, kemaksiatan, kekafiran, orang dengan budaya dan cara hidup tidak Islam) sebagai “Titan”.
 

2) Nosi “kembali pada Al Quran dan Hadist, dan tradisi hidup generasi salaf” demi mengembalikan kejayaan dan supremasi Islam sebagai “Tembok Pelindung Besar” (satu-satunya solusi yang diandalkan).
 

3) Bahwa semua harus Islam. Semua hal harus berdasar pada teks agama yang dipahami secara literal/ tekstual (apa adanya menurut teks). Di luar itu adalah bid’ah, kesesatan, dan kekafiran. Pemahaman dan interpretasi lain di luar itu dilarang. Penafsiran baru dilarang. Orang-orang belajar Ilmu Barat dan Filsafat dilarang. Berpikir bebas, berpikir kritis, dan berpikir di luar kebiasaan dalam agama dan pemikiran ulama dilarang. Orang-orang bergaul dengan non-Islam dilarang. Mendukung orang bukan Islam dilarang. Itu semua sebagai “Tabu”.
 

4) Orang-orang yang yakin dunia berbahaya, orang-orang yang mendukung doktrin di nomor dua demi keamanan dan keselamatan diri mereka, dan orang-orang yang hidup bersama tabu-tabu di nomor tiga adalah “Mereka yang Cari Selamat”. Mereka melakukan apa saja demi keamanan diri mereka: menghukum orang-orang yang melanggar, menyudutkan orang-orang yang mengambil jalan berbeda, mencemooh orang-orang yang tidak hidup dengan cara hidup seperti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang berpandangan dunia berbeda.
 

5) Anak-anak muda yang muak dengan kungkungan tradisi dan tragedi kehancuran masa lalu, muak dengan keyakinan bahwa dunia luar dan dunia yang berbeda itu berbahaya, muak pada pandangan hidup yang penuh permusuhan terhadap dunia di luar Islam, muak dengan batasan-batasan yang diterapkan terhadap akal, dan muak terhadap orang-orang yang merasa aman di dalam kungkungan tembok, jumud dan taklid pada “apa kata ulama” tanpa berpikir untuk diri mereka sendiri, sementara mereka ingin membebaskan diri dari belenggu ketakutan, ingin membebaskan diri dari batasan-batasan yang tidak masuk akal, ingin hidup bersama orang lain dan menikmati keragaman, ingin belajar banyak hal dan ikut memajukan pemikiran dan peradaban modern, ingin hidup tanpa permusuhan dan peperangan, ingin hidup sebagai diri sendiri yang tidak dikendalikan tangan-tangan “penguasa” adalah “Pemberontak”.
 

Tentu saja, alur dalam anime itu tidak sama dengan alur di kehidupan yang nyata. Tetapi, ketika menyadari analogi tersebut, rasanya bagaimana gitu. Seperti mengambang dan melayang-layang di dunia gelembung-gelembung sabun dan gumpalan-gumpalan awan, berenang dan terbang…

 
 

When we’re born, all of us are free. People who deny that, no matter how strong they are, don’t matter. … However terrifying the world may be, it doesn’t matter. However cruel the world may be, it doesn’t matter.” — Eren on “Attack on Titan”, ep. 13, around 10:00-13:00
 

Andai dalam cerita rekaan saya sendiri nanti saya berperan sebagai salah satu anak pemberontak… Sebenarnya, Titan itu tidak ada sehingga ceritanya tak akan sama. Tidak sama seperti dalam anime bahwa Titan itu monster pemakan manusia, “entitas di luar tembok” adalah sesama manusia, bukan monster. Sebagian manusia-manusia itu memang menimpakan kenestapaan pada Dunia Islam dimana saya berada dan hidup, tetapi sebagian lainnya adalah orang-orang baik yang tidak mencari masalah.
 

Tidak sama seperti dalam anime bahwa Tembok Pelindung benar-benar berfungsi sebagai pelindung karena ancaman kemanusiaan yang ditebarkan monster adalah nyata, yaitu kehancuran, “Tembok Pelindung” berupa doktrin dan pembatasan akal dan ruang pergaulan, jika itu semakin ditinggikan, semakin dipertebal, dan semakin diperkuat, akibatnya adalah isolasi terhadap diri sendiri, penguncilan terhadap diri sendiri, dan pemutusan hubungan yang akan berbalik membunuh diri sendiri. Manusia dalam cerita tak bisa berteman dengan monster yang memakannya, tetapi manusia dengan manusia ditakdirkan untuk saling menjalin hubungan dan kerja sama.
 

Dalam cerita, di dalam Tembok Pelindung, musuh umat manusia adalah Titan (musuh eksternal yang jelas), tetapi di kenyataan, di dalam Tembok Doktrin, orang-orang berperang juga dengan sesamanya sendiri. Sebagian ingin mempertahankan tembok, sebagian ingin melubanginya sedikit di beberapa tempat, sebagian benar-benar ingin menghancurkannya. Benar-benar puyeng saya dibuatnya… Jika ini benar menjadi cerita, ahaha… saya tidak tahu sebaiknya bagaimana akhirnya. Ada yang ingin menyumbang ide?

***

 
3# THE SKY CRAWLERS

The Sky Crawlers
 

Jadi, selama liburan yang singkat ini, saya menyempatkan diri menonton beberapa anime yang “melegenda” (saya tidak tahu istilah apa yang tepat untuk ini). Satu yang mengundang pujian banyak orang adalah The Sky Crawlers yang dibuat berdasarkan novel Hiroshi Mori dengan judul yang sama. Saya selalu kagum dengan cara kerja orang-orang di industri ini. Mungkin tidak untuk semua judul anime, tetapi beberapa dibuat berdasarkan novel-novel yang bagus. Ceritanya bagus, animasinya bagus, musiknya bagus. Baguslah semua jadinya untuk bisa disebut sebagai karya.
 

Yang pertama membuat saya menontonnya adalah original soundtrack-nya yang digubah oleh musisi favorit saya, Kenji Kawai. Cantik sekali melodinya, dan saya dengarkan berulang-ulang sampai sekarang. Ceritanya memang berlangsung lambat, hampir-hampir tidak ada tensinya, kecuali ketika mulai sampai di penghujungan dan misteri-misterinya mulai terkuak.
 

Cerita ini berlatar pada dunia pascaperang dunia yang memayahkan semua negara dan semua orang. “Perang” akhirnya dimengerti sebagai bagian dari kehidupan manusia yang tidak akan pernah bisa dihapuskan. Ia bagian dari sistem sosial manusia. Perang adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan manusia. Cuma kemudian, di dunia dengan “alternate history” ini, orang kemudian membalik kegunaan dasar perang sebagai cara mendapatkan kekuasaan dan dominasi, sebagai cara untuk mewujudkan dan memelihara perdamaian, serta mengajarkan orang-orang arti penting perdamaian.

 
 

“No matter the era, war has never been completely eradicated, because the reality of it has always been important to humans. The reality of someone fighting somewhere, even now, is a necessity in the human social system. And that need can never be fulfilled by lies. It’s not enough to read what wars are like in textbook stories. The reality of people dying, the reports of thet news on the TV: we can’t maintain peace without seeing those tragedies. [Without war] We would cease to understand the meaning of peace. Just as we don’t feel alive unless we kill each other in the sky. And as long as our war is just a game that must never end, rules are a necessity.” — The Sky Crawlers, around 1:25:00-1:28:55
 

Perang yang di dunia nyata kita adalah sesuatu yang dimusuhi, dihindarkan untuk terjadi, dan ditolak keras-keras, di dunia ini adalah institusi yang diterima dan dilegitimasi, bukan sebagai perang itu sendiri, melainkan “game” dan “tontonan”. Dibuat tata caranya, peraturannya, bagaimana bunuh-bunuhannya, dan siapa saja pelakunya, terbatas pada orang-orang tertentu saja. Dibuat ada dua kubu yang akan selamanya menjadi aktornya: Rostock dan Lautern. Di dalam dua perusahaan/ organisasi militer itu, dipekerjakan pilot-pilot untuk mengendarai pesawat tempur dan saling bunuh dalam godfights (pertempuran-pertempuran di udara pesawat vs pesawat).
 

Silakan bertanya, “Siapa orang gila yang mau bekerja jadi pilot semacam itu?” Jawabannya, ya ada. Mereka manusia-manusia kloning yang dilahirkan “khusus” untuk tujuan itu. Gen mereka diset untuk terus awet muda (terus berusia remaja, meskipun waktu berlalu) dan tak bisa mati oleh penyakit. Mereka tidak punya memori pribadi, dan hidup dengan tiba-tiba tahu saja caranya menjalani rutinitas dan kenal segala yang ada di sekitar mereka padahal mereka baru. Setiap kali dalam dogfight mereka mati, akan datang lagi orang baru dengan tubuh, gen, dan memori monoton yang sama. Seperti satu orang yang terus-menerus mengulang satu jalan hidup yang berakhir mati, lalu hidup lagi di tubuh selanjutnya, lalu mati lagi, dan terus begitu.
 

Meski begitu, tetap saja mereka adalah manusia dan menjadi makhluk yang bertanya hakikat eksistensi diri mereka dan berjuang menemukan makna hidup. Dalam hati mereka berteriak atas takdir hidup berulang-ulang di jalan yang sama seperti itu: Berperang, melawan sesuatu, dan mati karena itu. Berperang, melawan sesuatu, dan mati karena itu. Berperang, melawan sesuatu, dan mati karena itu. Rasanya hidup mereka tidak ada maknanya, tetapi ternyata tidak begitu akhirnya sehingga cerita mereka pun menjadi begitu indah.

 
 

“Even on the path we walk everyday, we can step on differents spots. Just because it’s the same path doesn’t mean it always has the same scenery. Isn’t that good enough? Or is that not enough because that’s all there is?” — The Sky Crawlers, around the end

 

 

Dalam takdir yang sama sekalipun, sama buruknya, sama beratnya, sama menderitanya, berulang-ulang dilalui seperti itu, tetap ada sesuatu yang bisa disyukuri. Di jalan hidup yang sama, tidak selalu manusia melangkah di titik yang sama. Sekalipun ia melangkah di titik yang sama, pemandangan yang dilihatnya tidak akan sama. Ia dapat menangkap sesuatu yang berbeda dari apa yang dilihat oleh matanya. Itulah yang kemudian dapat dirayakan sebagai pertanda diri sebagai manusia, sekalipun diri adalah hasil kloning, boneka-boneka yang dipermainkan di panggung takdir, korban situasi, atau apapun.
 

Tentu saja, cerita ini berakhir sedih… meski makna yang ditanamkan ke dalam hati penontonnya sangat dalam. Bagi saya pribadi, ini benar-benar membuat berpikir, tidak ada satu abad pun di atas bumi tanpa perang. Sejarah-sejarah dunia adalah sejarah peperangan. Terlalu bodoh kita untuk menolak kenyataan itu. Memang ia tampaknya buruk dan mengerikan, tetapi apakah ia sama sekali tak memiliki kegunaan? Bagi manusia, perang mungkin adalah alatnya untuk mencapai tujuan-tujuannya, apakah untuk kekuasaan, sumber daya, dominasi, apapun. Namun, bagi kemanusiaan, perang adalah alat Tuhan untuk mengajarkan manusia apa itu perdamaian, betapa ia adalah nikmat yang sangat besar yang sering disia-siakan.
 

Perang terus ada agar orang dapat belajar perdamaian dari kenyataan dan merasakan dengan seluruh indera dan perasaan mereka sendiri tentang horornya. Tidak akan cukup orang belajar apa itu perang dan apa itu damai hanya dari buku. Tanpa kenyataan perang, tidak ada kenyataan damai.
 

Ini suatu interpretasi yang agaknya kurang menyenangkan. Benar-benar persoalan yang menantang, memikirkan apa hakikat perang dan manfaatnya yang sebenarnya sebagai pendongkrak rasa kemanusiaan dan rasa butuh akan Tuhan. Manusia adalah penumpah darah, itulah karakter pertama manusia yang disebutkan dalam kitab suci. Tetapi Tuhan berkata pada malaikat yang mempertanyakan keputusan-Nya mempercayakan bumi kepada manusia, “Aku Tahu apa yang tidak kalian tahu.”

3 thoughts on “Karya Kemanusiaan dalam Anime: “Attack on Titan” & “The Sky Crawlers”

  1. Saya sedang mengumpulkan manga yg diprodukai oleh Bhigil (semoga ndak keliru namanya), seperti Spirited Away, Kaze Tazuno, dan beberapa lagi yang lupa judulnya. Bagus-bagus banget, padahal cerita yang diangkat hal-hal sederhana den, seperti biasanya film jepang, ceritanya dibikin lambat banget 😁 Suatu saat akan saya coba tulis di blog.

    Saya terkesima sama penjelasanmu soal sastra, tin. Membuatku mikir-mikir. Sepertinya benar, selama ini kuperlakukan sastra kurang tepat: cuma sebagai hiburan di waktu senggang. Padahal, sastra menyasar satu sisi dari diri kita yang tak kalah pentingnya dengan yang disasar sains.

    • Studio Ghibli maksudmu? Iya itu bagus sekali karya-karyanya. Tapi bukan manga (komik), tapi anime (animation). Aku sudah nonton hampir semuanya. Arietty. Kaze Tachinu. Tonari no Tottoro. Kiki Delivery Service. Spirited Away. Ponyo. Howl’s Moving Castle. Tale from The Earthsea. Nausicaa. Princess Mononoke. Laputa: Castle in The Sky. Ceritanya bagus😀

      Menyentuh hati. Kalau ceritanya sedih kita ikut sedih. Kalau bahagia ikut bahagia. Tahu hati kita bisa tersentuh begitu tanda kita bisa berempati pada orang lain. Kupikir pentingnya karya semacam itu begitu.

      Cuma sayang. Orang Indonesia belum bisa begitu. Kita masih cenderung mendefinisikan “hiburan” itu sebagai yang penuh canda dan tawa saja, makanya kartun anak-anaknya dangkal sebatas membuat anak/orang tertawa. Atau jika bentuknya edutainment, pesan-pesan disampaikan lewat ceramah pak kyai atau bu guru. Itu metode yang usang bahkan direplikasi di media. Makanya kartun edukasinya pun tidak hidup. Aneh. Kita tidak dibuat belajar dari kehidupan tokoh cerita dan karakternya, tapi dari pesan yg ditempelkan begitu saja😦

      • Nah, betul. Ghibli maksudku. Kartun produk mereka detail sekali. Geraknya seperti tanpa putus 😁

        Wah, daftarmu banyak banget, tin. Itu, Laputa: Castle in the Sky, itu yang sekarang saya tonton. Belum selesai, baru nyampe separuh. Ada juga beberapa lagi.

        Heheh… betul, anime ya tepatnya. Trims koreksinya, tin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s