Curiga vs Percaya

Miracle

 

Curiga. 1) berhati-hati atau berwaswas (karena khawatir, menaruh syak, dan sebagainya); 2) (merasa) kurang percaya atau sangsi terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dan sebagainya).

Orang itu curiga agaknya karena ia bisa menggunakan pikirannya untuk membuat suatu dugaan, tetapi sayangnya, proses berpikirnya itu disetir oleh emosi yang negatif bernama takut. Rasa takut sungguh-sungguh memberi warna tertentu pada pemikiran seseorang, ia sadari ataupun tidak. Orang takut tidak akan berpikir positif selain bahwa apa yang dihadapinya adalah ancaman yang membuat dirinya harus melindungi dirinya.

Mencurigai sesuatu, yakni bersikap “berhati-hati” karena takut akan dirugikan, disakiti, dikhianati, dihancurkan, dan takut yang jelek-jelek lainnya, adalah ekspresi apa yang terjadi di dalam kepalanya. Orang takut punya reaksi yang khas: lari, menjauhkan diri, memisahkan diri, menolak, tidak mau didekati. Ia menempatkan keterlindungan dirinya sebagai tujuan nomor satu yang demi itu ia bisa mengorbankan macam-macam.

Saya sebetulnya lebih ingin menulis tentang orang-orang yang penuh curiga, tetapi rasanya itu kurang bermanfaat. Mohon maaf jika saya jadi akhirnya menulis tentang diri sendiri, tentang bagaimana belajar menjadi orang yang percaya. Melihat sepanjang jalan hidup yang sudah saya lalui, setidaknya ada tiga percaya yang saya alami: percaya pada ilmu, percaya pada orang, dan percaya pada Tuhan.

***

1# Percaya pada Ilmu

Karena dari kecil sudah senang pada ilmu pengetahuan, ingin tahu macam-macam, dan ingin sekali jadi ilmuwan, saya rasanya tidak punya kecurigaan pada ilmu pengetahuan, meskipun sebagian orang berbicara buruk tentangnya, macam filsafat bisa membuat orang ateis, macam belajar ilmu-ilmu dunia tidak wajib karena tidak bermanfaat bagi akhirat, macam hanya ilmu agama saja yang penting, macam belajar ilmu yang dikembangkan di Barat akan membuatmu sesat dan “terperosok ke dalam lubang biawak”.

Dinamika sederhananya ya sekadar bisa tahu sesuatu dan tahu macam-macam itu menyenangkan. Bisa terkagum-kagum akan sesuatu yang ada di alam itu menyenangkan. Bisa jadi anak pintar, tahu sesuatu yang teman-temanmu tidak tahu itu menyenangkan. Membaca buku, mengamati ini dan itu, menjelajah ke mana-mana itu menyenangkan.

Meski begitu, pengalaman yang positif dengan ilmu pengetahuan itu hanya separuh dari faktor yang membuat saya terbuka sekali menerima ilmu pengetahuan dan bersemangat ingin tahu macam-macam bidang. Separuh faktor lainnya yang benar-benar mengobarkan semangat untuk berilmu adalah agama saya. Ada satu hadist singkat, mungkin satu-satunya hadist nabi yang saya hapal dan mengerti betul maknanya.

“Hikmah adalah perbendaharaan mukmin yang hilang. Di manapun ia berada, mukmin yang paling berhak memilikinya.”

Rasanya seperti menerima suatu hadiah yang luar biasa besar. Saya ingat sekali saat-saat membaca hadist itu di buku kumpulan hadist. Rasanya senang sekali, karena sepertinya Allah memberiku jalan hidup dan benih bersikap kritis untuk mementalkan gagasan-gagasan Islamisasi ilmu yang bersifat Islam-sentris dan menolak yang di luar itu.

Saya katakan pada mereka, “Semua ilmu mengandung hikmah dan semuanya itu adalah Milik Allah. Kalian ingin saya menemukan Allah hanya di jalan yang menurut kalian benar dan layak untuk dilalui? Tidak. Saya ingin meniti semua jalan yang disediakan untuk saya dan selama ini, saya tidak pernah sekali pun kecewa. Di sepanjang perjalanan, di jalan yang kalian tidak suka sekalipun, saya bahkan tetap menemukan Tuhan. Jadi apa masalah kalian, orang yang senang membatasi orang?”

Saya jadi punya pendirian bahwa nilai Islami dari ilmu-ilmu tidak terutama terletak pada tubuh ilmu itu, melainkan pada jiwanya. Semua ilmu dan semua karya kemanusiaan yang dengannya seseorang menemukan dan menyaksikan Tuhan adalah islami. Hanya itu satu ukurannya. Agaknya hiperbolis. Tapi memang, rasanya seluruh dunia akhirnya menjadi sekolah, semua orang akhirnya menjadi guru, dan di setiap keadaan, saya adalah murid, meski kadang-kadang saya bandel dan semaunya sendiri.

***

2# Percaya pada Orang

Saya tipe orang yang individualis. Kebiasaan bisa melakukan semua sendiri dengan bantuan minimal dari orang lain adalah sebabnya. Ini bentuk otonomi yang di satu sisi bagus membuat saya tidak bergantung pada orang, tetapi di sisi lain buruk karena membuat saya menyepelekan peran orang lain dalam hidup saya.

Ada saatnya dahulu ketika saya menganggap orang lain itu tidak berguna dan justru merepotkan. Ini utamanya terjadi ironisnya ketika saya masih sekolah dan aktif kuliah. Saya suka sekali berprestasi dan standar yang saya terapkan pada diri saya sendiri lumayan di atas rata-rata orang yang sudah puas dengan jadi biasa-biasa saja. Karena teman-teman saya banyak yang begitu-begitu saja, setiap kali mengerjakan tugas kelompok itu rasanya seperti menyeret batu besar dan berat ke puncak gunung. Setengah mati.

Ada tiga hal yang membuat saya memutuskan “belajar” untuk percaya. Belajar untuk percaya? Benar, kepercayaan itu sungguh-sungguh hal yang dipelajari. Kasus percaya pada orang ini sungguh berbeda dari percaya pada ilmu. Jika yang sebelumnya pengalamannya sungguh positif dan kepercayaan terjadi secara otomatis dan terkuatkan dengan mudah dengan dukungan ajaran agama, kali ini hal-hal bermula dari pengalaman yang negatif: rasa tidak suka pada orang.

Tiga hal itu adalah pertama, sesuatu yang awalnya saya tidak paham apa. Jadi ada cerita begini. Dengan setengah humor, dalam beberapa kali momen mengobrol dengan keluarga, ibu pernah cerita bahwa anak-anaknya lahir tidak pernah ditunggui bapak. Kelahiranku, bapak di luar kota. Kelahiran dua adikku, bapak menunggui tapi sambil tidur. Tidak takut kenapa-kenapa apa? Aku tanya begitu, tapi jawabnya, kan sudah ada dokter dan perawat. Ya tinggal percaya saja. Dan dari situlah bapak memberikan satu nasihat yang penting, “Kalau kita sulit percaya pada orang, kita akan susah sendiri. Kayak sudah percaya, ya sudah. Serahkan.” Bayangkan kalau naik pesawat tidak percaya pada pilotnya. Ya mungkin kita tetap selamat sampai tujuan, tetapi selama perjalanan itu kita tidak akan tenang.

Nasihat itu baru ada nilainya ketika akhirnya saya introspeksi diri dengan kehidupan sosial saya yang penuh rasa tidak percaya pada teman. Saat itu sampai ada teman yang mengkritik. Meski begitu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Teman-teman saya memang tidak banyak berguna bagi saya dan memperturutkan keinginan mereka yang tidak punya semangat hanya akan merugikan kepentingan-kepentingan saya.

Pertolongan Allah akhirnya datang lewat selembar koran. Di Republika, ada sepetak kecil kolom khusus untuk kalimat-kalimat mutiara (Ah iya! Inilah titik awal saya senang menyimpan kalimat-kalimat mutiara). Hari itu, yang berbicara adalah Mahatma Gandhi. Dia menasihati begini:

“Jika Anda tidak memiliki karakter untuk kalah, orang-orang tidak akan menaruh kepercayaan pada Anda.”

*I was stunned. Langsung saya gunting petak kecil itu dan menempelkannya di dinding kamar. Satu yang perlu saya lakukan hanya satu: belajar mengalah. Saya menerapkan itu dengan segera. Saat ini semester 6, di mata kuliah Psikologi Lintas Budaya. Ada tugas membuat proposal penelitian psikologi budaya. Berat. Tim cuma dua orang. Partner saya kakak kelas dua tahun di atas saya. Sama sekali tidak kenal. Berat. Tidak seperti hubungan saya dengan teman-teman sepantaran yang saya biasa bersikap bossy, tentu ada etika jika ini berhubungan dengan orang yang lebih tua. Satu yang tidak bisa saya lakukan: memaksakan standar saya.

Saya tarik napas dalam-dalam. Mengalahlah. Saya menurunkan standar saya. Saya tidak lagi berpikir tentang nilai A dan bahwa semua karya harus begini, begini, begini. Saya mengikuti ritmenya, bahkan untuk judul pun saya mengikuti kemauannya. Saya belajar menjadi pihak yang minta pengarahan dan tidak seperti sebelumnya saya biasa yang membagikan tugas ke orang-orang, saya menjadi yang menerima tugas yang dibagikan olehnya (atau setidaknya diputuskan sama-sama). Saya mengerjakan bagian saya dengan sebaik-baiknya dan dia pun demikian. Meskipun hasil dia tidak sesuai harapan saya, saya menerimanya dan tetap memasukkannya dalam proposal tanpa mengubah apapun. *Saya dahulu bisa dengan kejam membuang hasil kerja orang lain yang jelek dan memutuskan mengerjakan lagi bagian orang dengan sempurna menurut standar saya.

Satu hal yang mencerahkan dari proses itu… Belajar tidak egois. Bukan hal yang salah orang memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda, preferensi yang bermacam-macam. Jika seseorang ingin sesuatu yang berbeda dari orang lain (yang lebih rendah atau tinggi dari standar kita), itu karena memang dirinya begitu, bukan karena ia tidak ingin jadi baik. Salah saya, dengan memaksakan standar dan kehendak saya dan tidak menghargai apa yang dia bisa dengan kemampuannya, saya menutup kesempatan orang tersebut untuk memperbaiki dirinya sendiri. Nilai-nilai baiknya akan selalu nilai-nilai hasil bantuan orang-orang yang lebih mampu. Saya dapat senang dengan nilai A saya karena saya bekerja keras, tetapi bagi orang itu, nilai A itu palsu dan itu akan buruk bagi dirinya.

Dari situ saya belajar menerima “kekurangan” orang. Sebetulnya itu bahkan tidak dapat disebut sebagai kekurangan, melainkan sisi dirinya yang saya tolak karena saya tidak suka diri saya seperti itu. Belajar menerima orang lain akhirnya jadi belajar menerima diri sendiri. Sejak itu saya menjadi lebih manusiawi dengan diri saya sendiri.

Mengapa orang bekerja begitu keras demi tujuan-tujuannya seakan usaha pribadi adalah segalanya dan yang paling menentukan? Mengapa bisa ada logika bahwa hanya dengan standar dan usaha tinggi maka prestasi tinggi akan dicapai? Sesungguhnya itu tidak masuk akal, ketika kita hidup bersama orang lain. Di dunia ini ada orang-orang yang sakit, yang lemah, yang bodoh, yang miskin. Kalau orang-orang yang sehat, yang kuat, yang pintar, dan yang kaya hanya memikirkan peningkatan diri sendiri, mereka yang lemah dan kawan-kawannya tidak akan tertolong. Untuk menolong, orang-orang yang berada di kedudukan lebih tinggi harus mau turun. Mengalah. Melepaskan hasrat-hasrat mereka demi kebaikan yang lebih besar, yaitu perkembangan diri orang lain.

Jadi, di mana letak kepercayaan pada orangnya? Jawabku, ini bukan sekadar percaya dalam arti kesediaan memasrahkan sesuatu pada orang lain untuk dikerjakannya dengan yakin pada kemampuannya. Ini tentang percaya bahwa setiap orang pada dasarnya baik dan ingin baik, punya kemampuan dan bisa berkembang jadi lebih baik. Pandangan kita bahwa orang tidak baik hanya terjadi ketika kita mengkonfrontasikan keadaan diri orang itu dengan standar-standar kita. Ketika standar-standar itu menghilang, wajah orang-orang menjadi putih bersih. Sejak memahami ini, ketika sedikit ada perasaan tidak senang pada orang, jadi semacam otomatis memeriksa ke dalam diri, standar apa yang sedang diri ini terapkan padanya. Apakah diri ini sebenarnya sedang berharap orang itu menjadi seperti diri kita dan kita baru bisa menyukainya ketika dia menjadi seperti diri kita? Itu pandangan yang sangat sempit.

Memang sikap seperti ini tampaknya berisiko tinggi jika kita memang mengharapkan suatu hasil kerja yang tinggi. Kelemahan-kelemahan orang memang tidak seluruhnya bisa ditoleransi. Sebagian orang memang tidak berguna dan menganggap orang-orang yang tidak berguna bisa berguna adalah suatu kebodohan. Ya… memang jadinya seperti ini adalah kebodohan, ketika mudharatnya jadi lebih besar daripada manfaatnya. Hal-hal dalam hidup punya tempatnya masing-masing, termasuk sikap ini. Andai saya jadi presiden, tentu saja demi kinerja tinggi sejak awal saya akan memilih orang-orang yang sangat berguna sehingga saya bisa sepenuhnya mempercayainya. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari dimana keberadaan orang, datang dan perginya, bukan kuasa kita, yang bisa kita lakukan adalah menerima itu.

Tanpa berusaha percaya, kita akan dibombardir dengan ketidakpuasan yang tanpa akhir, rasa khawatir dan takut tanpa akhir, dan sibuk berusaha mengoreksi dan mengatur-atur orang, menuntutnya sempurna ini dan itu, tanpa akhir. Kita perlu belajar menutup mata, dan melihat sisi baiknya dan apa yang bisa diperbuat dengan itu. Hasilnya bagaimana tentu kita jadi tidak bisa lagi bergantung dan mengandalkan apa yang diberikan orang itu. Tetapi, bukankah itu akhirnya menjadi saat kita untuk meminta pertolongan Tuhan, bahwa meskipun ada kelemahan di sana-sini, Tuhan bisa menakdirkan apapun, termasuk keajaiban? Tuhan mungkin tidak memperhitungkan lagi usaha kita yang bocel-bocel, melainkan niat dan tekad kita.

Bersama dengan belajar percaya pada orang, akhirnya jadi belajar pula percaya pada Tuhan. Percaya pada orang jadi bagian penting dari ikhtiar.

3# Percaya pada Tuhan

Orang curiga dan tidak percaya pada ilmu karena menganggap ilmu akan berbahaya. Orang curiga dan tidak percaya pada orang karena menganggap orang itu akan merugikan diri. Orang curiga dan tidak percaya pada Tuhan karena menyangka Tuhan itu jahat, berbuat zalim, dan tidak adil. Banyak keyakinan pada Tuhan goyah karena penderitaan, baik fisik maupun batin. Bersama dengan goyahnya keyakinan pada Tuhan, goyah pula keyakinan pada agama. Orang yang curiga pada ilmu akan menolak untuk tahu dan menolak belajar. Orang yang curiga pada orang akan meninggalkan manusia dan menyendiri. Orang yang curiga pada Tuhan dan agama akan berakhir menyerang Tuhan dan agama. Negasi-negasi ateistis hanya argumennya, sama seperti ujaran-ujaran antiagamanya.

Saya tidak pernah sampai di titik itu. Saya orang yang cari keselamatan, ketika sesuatu hal melemahkan kepercayaan saya, ketakutan saya pada Tuhan membuat saya mencari jalan untuk menguatkan kembali kepercayaan saya. Terus seperti itu sehingga kepercayaan terus kembali. Saya membenamkan diri kembali dalam kitab suci dan buku-buku agama (tasawuf) dan dari situ, pencerahan-pencerahan datang, memperkuat kepercayaan yang sebelumnya. Apalagi ketika yang disebutkan di dalam firman Tuhan bersangkutan dengan yang terjadi di kenyataan. Itu momen kebahagiaan.

Meski begitu, pernah memang mengalami krisis spiritual. Namanya juga anak muda, baru mau dewasa, dan senang menantang doktrin. Waktu itu sekitar semester 10, saat senang-senangnya membaca buku dan mendalami agama. Dari macam-macam topik, buku-buku tentang para mualaf adalah yang termasuk paling menarik, karena membuat saya bertanya pada diri sendiri, “Kok saya nggak pernah seperti itu ya?” Tidak pernah ada momen penemuan kebenaran, momen bertemu Tuhan, pengalaman spiritual, dan yang sebangsanya. Jujur pada diri sendiri, agama memang terkadang membosankan, mengulang-ulang ritual yang rutin, dan bahkan menjadi beban yang saya lakukan hanya karena takut dihukum dan dimarahai atau dicela orang. Saat itu, gara-gara psikologi, jadi bertanya lagi, “Kok Freud bilang agama itu candu? Apa maksudnya candu? Mengapa dikatakan Tuhan telah mati?”

Saya akhirnya melakukan satu eksperiman terbesar dalam hidup saya untuk menjawab pertanyaan: Apakah saya butuh Tuhan dan agama? Waktu itu, sengaja saya meninggalkan agama untuk melihat sejauh mana hidup saya dapat hancur.

Singkat cerita akhirnya kusimpulkan jawabannya adalah saya butuh, dan saya pun berhasil memutuskan hubungan keberagamaan saya dari pengaruh-pengaruh dan kontrol sosial dari orang-orang yang menegakkan standar-standar beragama sejak saya kecil sampai saya dewasa. Saya memiliki ukuran saya sendiri untuk keberagamaan saya, dan beragama pun menjadi sesuatu yang lebih personal dan lebih akrab dengan Tuhan.

Saya menemukan satu fenomena, untuk diri saya sendiri, yang saya namakan “sink limit”, batas tenggelam dalam kemaksiatan. Ibarat yang awalnya, saat bandel-bandelnya, bisa menyelam sampai 50 meter, rasa butuh menyebabkan reduksi kedalaman itu sampai akhirnya cuma 5 meter dan bahkan lebih kurang lagi; saya sudah tidak tahan (dengan akibat yang ditimbulkannya) dan ingin segera kembali ke permukaan. Tuhan ibarat penjaga kolam yang mengawasi. Setiap kali saya menyembulkan kembali kepala saya di permukaan air, Ia berkata sambil meledek, “Tuh kan. Aku bilang apa,” sementara saya cemberut, “Iya, iya.”

“Sana berenang dan menyelam lagi. Tapi jangan tenggelam lagi.”

“Iya. Tapi jaga saya. Lihat saya. Kalau saya seperti mau tenggelam, tolong saya dilaso.”

“Lima meter saja. Jangan lebih.”

“Umm… Mana talinya?” Dia pun memberikan talinya dan saya menerimanya, mengikatkan ujungnya pada kaki saya, sementara dia memegang ujung lainnya dengan tangannya. “Kalau saya sudah jauh tolong ditarik.”

Dia mengantarkan saya menjelajah lagi. Saya senang menjelajah… melihat-lihat dunia, belajar macam-macam, berteman dengan orang-orang. Meski begitu, ada saatnya ketika saya memutuskan keluar kolam. Saya mendekatinya lebih dekat lagi dan melepaskan tali di kaki saya. Tidak butuh tali lagi.

“Saya ingin di sini saja. Dengan Engkau.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s