“Hadji Murad” dan Renungan tentang Perang Suci

Satu nama teringat ketika membaca “Hadji Murad”, karya terakhir Leo Tolstoy. Shamil Basayev, pemimpin militan Islamis Chechnya yang meninggal dunia sekitar tujuh tahun yang lalu ketika aku masih di bangku sekolah menengah.

Berkenaan dengan gerakan kaum Islamis, tahun-tahun itu situasinya sungguh berbeda dengan saat ini. Isu-isu yang terangkat adalah perang AS-Afghanistan, perang AS-Irak, perang Israel-Palestina, perang India-Kashmir, yang agaknya lebih murni sebagai usaha mempertahankan kekuasaan dan wilayah berpenduduk Muslim dari pendudukan negara-negara asing (non-Muslim). Setelah gelombang Arab Spring menyapu negara-negara Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara, persoalan seketika berubah menjadi perebutan kekuasaan di dalam negeri-negeri muslim dan memuncak pada munculnya gerakan mengembalikan kekhalifahan dan mendirikan Negara Islam yang menghantam baik kawan (sesama Muslim) maupun lawan (non-Muslim).

Berperang mempertahankan wilayah berbeda sekali rasanya dari berperang memperebutkannya. Bayangkan kau memiliki sepotong kue dan memang itu milikmu dan teman-temanmu. Seseorang asing tiba-tiba datang dan mengambilnya. Bayangkan pula dengan keberadaan sepotong kue yang merupakan milik bersama antara kau dan teman-temanmu. Tiba-tiba salah satu dari kalian menyerobotnya dan mengatakan kue itu miliknya seorang dan mulai mengusir kalian. Masing-masing pergulatan yang terjadi di dalam dua kasus tersebut sama-sama menyebut diri sebagai Perang Suci, tetapi manakah yang sebetulnya lebih layak? Yang satu perjuangan mempertahankan hak, yang lainnya adalah keserakahan. Sama-sama berdarah-darah dan mati berbunuh-bunuhan, tetapi manakah yang lebih mulia?

Aku menjawab pertanyaan itu dan jawabannya mungkin sama seperti milik teman-teman yang ikut memikirkan pertanyaan tersebut. Karena itulah, tidak ada yang kurasakan terhadap perang-perang terutama di Irak sekarang dan Syria selain kemuakan. Tidak ada satu pihak yang patut dibela di sana. Dalam perebutan kekuasaan semacam itu, tidak ada yang akhirnya menjadi pahlawan. Orang-orang yang berjuang sekadar menjadi pembunuh dan penghancur demi menguasai satu sama lain. Tak peduli dalil apa yang dipakai untuk membenarkan aksi, ada hati yang tidak bisa memahami dan menerima kegilaan itu.

***

Hadji Murad

 

Novel ini dalam bentuk e-book berbahasa Inggris telah kumiliki lama sekali. Karena keterbatasan bahasa, aku tidak menamatkannya, dan baru akhir-akhir ini aku ke toko buku dan menemukannya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tuhan sungguh baik sekali! Alhamdulillah…

Aku penggemar karya-karya Leo Tolstoy (1828-1910), si sastrawan Rusia itu. Pertemuanku dengannya adalah dari membaca namanya di buku Antologi Cerpen Rusia, hanya itu, di akhir kelas kelas 1 SMP. Aku tidak pernah membaca cerpennya di buku itu, tetapi kemudian aku memiliki bukunya, “Pengakuan” (Confession), sebuah kumpulan cerpennya yang berjudul “Di mana ada cinta, di situ Tuhan ada” yang isinya sangat menyentuh hati, dan menonton satu film yang dibuat berdasarkan novelnya, Anna Karenina.

Ketertarikan diri pada seorang sastrawan memang sedikit misterius. Segerbong dengan para filsuf dan ilmuwan, aku menganggap mereka adalah orang-orang bijak yang kata-katanya adalah mutiara. Bersama dengan kesadaran akan kemanusiaan dan karya-karya sastra yang menjadikannya fokus penceritaan, muncul pula penghargaan atas diri para penulisnya. Hidup orang yang memikirkan kehidupan, memaknainya, dan menuliskannya sebagai cerita yang menghibur sekaligus mengajari sesuatu untuk para pembacanya, bagiku juga adalah karya. Dalam halaman terakhir novel “Hadji Murad” (HM) terdapat sedikit biografinya dan dikatakan:

Sebagai seorang yang banyak membaca, Tolstoy bertekad untuk memahami dunia sekelilingnya. Dia kemudian mencoba menjelaskan keyakinan-keyakinan filosofis dan religiusnya melalui fiksinya dan dengan latar belakang dunia kejadian-kejadian.” (h. 242)

HM bagiku adalah sebuah karya yang unik. Di akhir hayatnya, Tolstoy justru menulis tentang sebuah epik (kisah kepahlawanan), tentang sepenggal kisah hidup seorang pejuang Muslim Chenchen bernama Hadji Murad. Ini bukan tokoh fiksi, melainkan seorang yang benar-benar ada dalam sejarah ekspansi Kekaisaran Rusia ke Asia Tengah di abad 19. Tolstoy mendapatkan ide untuk menuliskan ini ketika ia sedang melaksanakan tugas militer sebagai prajurit di wilayah Kaukakus dan menyaksikan peristiwa penyerahan diri Hadji Murad pada pemerintah Rusia. Meskipun begitu, ia baru benar-benar menuliskan kisah tersebut 50 tahun kemudian di masa tuanya. Tolstoy aslinya tak ingin menerbitkan kisah tersebut dan barulah dua tahun setelah kematiannya HM diterbitkan.

Hadji Murad adalah seorang Chechnya yang ikut dalam barisan bangsanya menolak ekspansi Kekaisaran Rusia ke wilayah mereka. Ia pemimpin wilayah Avar dan dijuluki “dare devil” lantaran keberanian dan ketepatan geraknya. Ia selalu menang dalam serangan-serangannya menahan laju prajurit-prajurit Rusia. Ia dikagumi baik oleh kawan maupun lawannya. Meski demikian, lantaran perseteruannya dengan Imam Shamil, pemimpin politik dan keagamaan suku-suku Muslim di Kaukakus, ia memilih bergabung dengan Rusia. Ceritanya bermula dari sebuah dendam yang tak terbayarkan.

Hadji Murad lahir dan besar dalam lingkungan sebuah Khan (penguasa daerah yang makmur dan kaya). Ia menjalin persaudaraan dengan tiga anak dalam Khan tersebut. Ketika diserukan perang suci untuk melawan Rusia, para Khan cenderung menolak bergabung karena takut pada Rusia dan takut berperang. Karena melawan perintah imam (saat itu dipimpin oleh Gamzat), maka mereka pun diperangi. Khan tempat Hadji Murad mengabdikan diri termasuk di dalamnya. Mereka kemudian meminta bantuan Rusia meski sebenarnya mereka tidak suka pula pada Rusia yang menjajah mereka. Ketika mereka bergabung pada Rusia, Hadji Murad melihat bagaimana saudara angkatnya tenggelam dalam kemaksiatan dan mereka pun hampir-hampir kehilangan segalanya, mulai dari harta, kehormatan, sampai agama.

Hadji Murad berubah pikiran dan mulai berpikir untuk menerima Perang Suci. Meski begitu, dalam prosesnya ia menyaksikan bagaimana saudara-saudara angkatnya yang lain dibunuh oleh sang imam. Masyarakat di sana punya adat hutang darah bahwa nyawa dibalas nyawa dan inilah yang dipikirkan oleh Hadji Murad, yakni untuk menuntut hutang darah. Ia berpura-pura tunduk pada sang imam dan berhasil membunuhnya. Meski begitu, kemenangannya hanya singkat karena setelah itu Shamil diangkat sebagai penggantinya. Shamil membujuk Hadji Murad ikut memerangi Rusia, tetapi baginya itu tidak mungkin karena Shamil turut dalam pembunuhan saudara-saudaranya.

Hadji Murad yang memiliki hubungan yang cukup baik dengan Rusia difitnah oleh Imam Shamil. Berita-berita bohong tentang Hadji Murad sampai pada Jenderal Klugenau. Jenderal tersebut tidak percaya, tetapi salah satu Khan yang pro Rusia (Akhmet Khan) bertindak sendiri dengan menangkapnya dan berusaha membunuhnya. Hadji Murad berhasil selamat meski sempat sekarat oleh usaha pembunuhan tersebut. Ia kemudian berupaya membersihkan namanya, tetapi meski ia dipercaya oleh sang Jenderal yang membujuknya sepenuhnya bergabung dengan Rusia, ia tetap tidak mau. Ia tidak bisa menyeberang ke Rusia karena di dalam Rusia adalah Khan-Khan yang membencinya, penuh muslihat, dan ingin sekali dibalasnya, tetapi ia pun tak bisa bergabung dengan bangsanya sendiri yang dipimpin Imam Shamil karena imam tersebut adalah yang menghancurkan seluruh keluarganya.

Imam Shamil bertindak lebih dulu dengan menawarkan bantuan untuk memukul Akhmet Khan yang masih berupaya membunuh Hadji Murad. Ia pun memutuskan menyeberang ke kubu Imam Shamil setelah sang imam pun menjanjikannya menjadi penguasa daerah Avaria. Sejak saat itulah Hadji Murad menjadi pejuang yang melawan Rusia yang terkenal. Imam Shamil sangat membutuhkan kekuatan Hadji Murad, tetapi di dalam hatinya terdapat ketakutan bahwa Hadji Murad akan menggatikannya menjadi imam. Imam Shamil kemudian menyusun sebuah plot untuk menyingkirkannya, memberhentikannya dari menjadi gubernur Avaria dan menunjuk putranya sendiri sebagai pengganti, dan berusaha membunuhnya. Dalam usaha Hadji Murad mempertahankan diri, ia gagal membawa keluarganya bersamanya. Sementara ia berhasil melarikan diri, Imam Shamil menawan ibu, istri, dan anak-anaknya.

Hadji Murad sangat mencintai keluarganya dan sangat ingin membebaskan mereka. Ia yang kehilangan kekuasaan dan pasukannya hanya memiliki satu cara, yaitu menyeberang ke Rusia. Pemerintah Rusia tahu kehebatannya dan baginya, kemampuannya akan sangat bermanfaat bagi Rusia yang ingin menundukkan pemberontak Chechnya. Hadji Murad berharap diberikan sejumlah pasukan yang dengan itu ia bisa membebaskan keluarganya dan setelah itu ia bisa melakukan serangan penuh untuk menghancurkan Imam Shamil demi kepentingan Rusia.

Perpindahan Hadji Murad ke Rusia inilah yang menjadi awal bagi akhir hidupnya. Di pihak Rusia ia sudah terkenal dan ketika ia bergabung, banyak sekali orang yang tertarik dan terkesan padanya, terutama karena kepribadiannya yang luar biasa. Sebagai pribadi, ia seorang pria sejati yang saleh, seorang pemimpin yang berkharisma dan memiliki kebaikan hati, tetapi sangat garang di medan perang. Ia menjalin pertemanan yang baik dengan orang-orang Rusia dan disukai. Meski begitu, sebagai orang yang akhirnya memerangi bangsanya sendiri, ia ditakuti, dibenci, dan dijadikan buronan. Siapa yang berhasil membunuhnya akan diberi hadiah dan siapapun yang membantunya akan dihukum berat.

Rencana Hadji Murad memanfaatkan Rusia untuk kepentingannya tidak berjalan sesuai keinginannya. Ia dibuat tergantung oleh sikap pemerintah Rusia yang tidak menyeriusi permohonannya dan tidak kunjung memberikan bantuan yang diharapkannya. Di pihak lain, Imam Shamil membuat manuver dengan mengirimkan ancaman akan benar-benar membunuh seluruh keluarganya jika ia tidak menyerahkan diri. Hadji Murad tahu, sekalipun ia kembali, sebagai pengkhianat ia tidak akan diterima dan hanya akan dibunuh, karena itu ia tetap bertahan di Rusia dengan hati tersiksa.

Pada akhirnya, sadarlah ia bahwa ia tak bisa mengharapkan Rusia. Ia membuat satu keputusan besar untuk pergi dari Rusia dan berjuang sendiri untuk membebaskan keluarganya. Ia dan beberapa pengikutnya melarikan diri dari kota tempat mereka ditahan dan mereka dikejar. Mereka membunuh pengejar mereka dan itu mendeklarasikan pengkhianatan mereka pada Rusia. Ia terus dikejar sampai akhirnya tertangkap oleh sepasukan Rusia dan pasukan Akhmet Khan yang ikut memburunya. Ia bertarung mati-matian dengan kekuatannya yang terbatas tanpa sedikit pun hatinya merasa gentar dan ingin menyerah. Ia pun terbunuh dan kepalanya dipenggal, dipertontonkan ke kota-kota.

Ia meninggalkan banyak musuh di belakangnya. Hanya sedikit yang mungkin menangisinya: keluarganya tercinta yang ditawan dan teman-teman Rusianya yang baik.

***

Hadji Murad adalah kisah orang baik yang terjebak dalam perseteruan dua kutub yang berbeda. Lehernya terjerat seutas tali. Ujung satunya dipegang orang-orang dari Kekaisaran Rusia, ujungnya yang lain dipegang oleh musuhnya dari bangsanya sendiri. Harga kesetiaan begitu besar, begitu pula dendam yang ingin dibalaskan karena kematian orang-orang yang dikasihinya. Ia mungkin tampak seperti seorang hipokrit dari perilakunya yang berpindah-pindah kubu, tetapi itu adalah strategi pahit karena tak ada jalan lain untuk membela dan melindungi orang-orang yang dicintainya.

Hal semacam yang terjadi di atas adalah sesuatu yang sangat manusiawi terjadi dalam situasi perang. Perang itu tidak hanya merenggut kedamaian, tetapi juga merenggut cinta dalam hidup seseorang. Karena rasa cinta dan benci, seseorang dapat berbuat apapun, termasuk menyeberang ke pihak musuh yang dalam situasi normal, itu adalah kegilaan. Di sini tidak ada persoalan agama atau ideologi. Orang berperang demi mempertahankan hidup mereka. Suku-suku Muslim Kaukakus yang dipimpin Imam Shamil ingin mempertahankan tanah mereka. Khan-khan yang pro Rusia ingin mempertahankan daerah kekuasaan dan kemakmuran mereka. Kaisar Rusia ingin mempertahankan kekuasaan mereka di Eurasia (saat itu masih ada Kekaisaran Ottoman yang juga besar). Hadji Murad ingin mempertahankan orang-orang yang dicintainya agar tetap hidup.

Apa yang kukagumi dari Leo Tolstoy dari novelnya ini adalah betapa realistisnya ia menggambarkan kehidupan orang-orang Muslim dalam ceritanya. Ia benar-benar telah mengamati kehidupan dan menerima perbedaan yang disajikan Tuhan untuk dinikmatinya. Ia tahu kalimat syahadat, cara Muslim salat, cara Muslim berdoa, cara Muslim berpakaian, ia tahu tata cara kehidupan sufi yang dipraktikan suku-suku Muslim Kaukakus, ia tahu imam-imam mereka dan peran-peran sosial, politik, dan keagamaannya, ia tahu adat mereka, ia tahu perjuangan mereka membela tanah air, dan… Ia tidak segan-segan menunjukkan kebobrokan jiwa orang-orang Rusia dalam ceritanya, seperti Tsar-nya yang lalim, dan main perempuan, menterinya yang licik dan penjilat, prajurit penjudi dan hancur hidupnya. Lewat novelnya, agaknya ia punya sikap pribadi, misal terhadap upaya-upaya ekspansi Rusia yang mengedepankan kekerasan dan penghancuran desa-desa. Ia tidak menutupi keburukan sebagian orang dari bangsanya sendiri.

Aku jadi berpikir, seperti itukah menjadi seorang sastrawan sekaligus filsuf kehidupan? Dalam prolognya untuk kisah Hadji Murad, ia mengajarkan sesuatu tentang manusia. Manusia yang beragam ibarat tanaman-tanaman di bumi. Ada yang indah dan menarik seperti bunga-bunga, tetapi ada yang tidak menarik, seperti ilalang. Ada yang indah tapi lemah, rapuh, dan mudah dipetik atau dicabut, tetapi ada yang sangat liat, melawan balik dengan duri-durinya, dan sangat kuat mengakar di bumi sekalipun dilindas berkali-kali.

Hadji Murad seperti tanaman yang terakhir itu. Di permukaan, dari apa yang tampak oleh mata, ia buruk, tidak disukai siapapun karena keputusan-keputusan, dan akhirnya pun mati karena itu. Meski begitu, pahamilah perjuangan hidupnya. Maknailah kesukaran-kesukaran yang telah dilewatinya dan ambillah pelajaran dari keberadaannya.

Betapa… “… sungguh hebat tenaganya dan kekuatan hidupnya. Betapa kerasnya ia bertahan, dan betapa mahalnya ia menghargai hidupnya.” (h. 5)

Ia berakhir tragis, tetapi kesannya di hati manusia tak habis. Orang yang membaca tidak melihat kesalahan-kesalahannya, tetapi berefleksi atas diri mereka sendiri. Apakah kita bisa sekuat itu bertahan dan menghargai hidup dengan sesuatu yang jelas dan benar untuk diperjuangkan?

2 thoughts on ““Hadji Murad” dan Renungan tentang Perang Suci

    • Alhamdulillah… terima kasih sudah mampir. Saya tidak tahu Najib Khailani, tetapi saya penggemar Orhan Pamuk. Saya sudah membaca “Namaku Merah Khirmizi” dan “Salju”🙂 Saya pernah membuat ulasannya di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s