Reaching Dream Bag. 21: Antara Kerja, Karya, dan Cita-cita

1# Pascalulus S2

Belum diwisuda sih, tapi kalau sudah ujian tesis, itu artinya lulus. Alhamdulillah wa syukurillah…🙂

Akhirnya aku merasakan apa yang dirasakan teman-teman. Kalau tidak menjadi yang ditanya, “Habis lulus mau ke mana?”, aku jadi yang bertanya, “Habis lulus ini mau ngapain?” Jawaban standar orang-orang ya bekerja; tapi juga ada yang inginnya senang-senang dulu beberapa saat. Liburan maksudnya.

Setelah tesis selesai, sebenarnya rasanya aneh. Betul-betul aneh. Hari-hari yang biasanya didikte rutinitas menghilang. Pada tahun pertama kuliah misalnya, kita disibukkan dengan aktivitas perkuliahan dari pagi sampai sore. Tahun berikutnya pun, ketika akhirnya disibukkan dengan tesis, tetap pula dari pagi sampai bahkan malam, mengerjakan tesis. Memang segala yang berawal pasti berakhir, tetapi rasanya sesuatu yang sudah begitu kita nikmati dan hayati itu berakhir sangatlah aneh.

Pagi-pagi habis subuh yang biasanya langsung membaca data atau menulis draft, sekarang lebih santai. Acara pagi cuma membaca buku dan menuliskan kesan-kesannya di Facebook atau membuat ulasannya di blog. Agak siang pergi ke kampus untuk mengurus revisi dan beberapa hal lain, bertemu teman-teman, mengobrol. Syukurlah diri masih bermanfaat, jadi tempat bertanya teman-teman yang kebingungan soal tesisnya. Sore hari pulang ke kos, sampai malam lagi-lagi baca buku atau menulis. Tesisku insya Allah akan dijadikan buku.

Semua itu: membaca, berdiskusi dengan teman, menulis adalah aktivitas-aktivitas favoritku. Tidak perlu dibayar, tidak perlu disuruh, aku akan melakukannya sendiri dengan sukarela dan senang hati. Tetapi, ketiadaan target pencapaian, ketiadaan tekanan, ketiadaan “rasa ini tugas/tanggung jawab” membuatnya terasa berbeda. Inilah yang membuat masa pascalulus ini terasa aneh, meskipun esensi perilakunya (membaca, diskusi, dan menulis) sama saja dengan dulu ketika masih kuliah dan mengerjakan tesis. Entah bagaimana bisa.

Satu kekhawatiranku memang: takut ini hanya demi kesenanganku pribadi dan tidak ada manfaat lain yang lebih dari sekadar kesenangan yang berpusat pada diri sendiri. Andai orang tahu, terjebak dalam motivasi intrinsik yang murni itu tidak enak. Hampa. Ada rasa butuh dituntut kewajiban, dituntut orang. Rasa berharga, rasa bermakna itu sungguh-sungguh tidak hanya muncul dari kesenangan dan kenikmatan melakukan sesuatu, tetapi juga dari keberhasilan menunaikan kewajiban dan memuaskan orang lain.

Hampa; tapi untungnya cuma sebentar. Memang rasanya ada satu dua hari cuma luntang-luntung, tetapi setelah itu aku kembali dengan target-target. Waktu luang ini tentu adalah sesuatu yang berharga, yang mungkin tidak akan ada lagi. Bagiku, inilah saatnya untuk mewujudkan cita-cita menulis buku-buku impian. Aku harus mulai mengusahakannya, meski sedikit demi sedikit awalnya. Aku sudah mulai mentransformasikan tesisku menjadi buku. Berikutnya, aku ingin menyelesaikan novel pertamaku. *Alhamdulillah, tinggal dua jilid lagi! Berikutnya, aku ingin menulis tentang metode penelitian. Berikutnya, aku ingin juga mentransformasikan skripsiku dulu menjadi buku untuk pengembangan diri mahasiswa. Berikutnya, aku ingin membuat buku kumpulan kata-kata mutiara yang ada unsur psikologi positif-religiusnya. Berikutnya, aku ingin menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi. *Ya Allah, semoga bisa. Berikutnya, aku ingin mereview seluruh blog dan Facebook-ku untuk melihat bahan-bahan apa saya yang sudah kukumpulkan demi buku-buku impianku yang lain. Benar-benar harus mulai belajar bekerja menulis yang sistematis.

Alhamdulillah, insya Allah untuk satu tahun ke depan, aku punya banyak pekerjaan🙂 Bismillahirrahmanirrahim.

“Tunggu, Af. Kamu nggak pingin daftar jadi dosen?”

Sejujurnya… hatiku tidak sepenuhnya ingin ke arah itu lagi🙂 Sudah dibagi dua lantaran dua kesenangan, antara ingin jadi ilmuwan yang mengajar dan meneliti, dan jadi penulis. Karena itu, rasanya tidak panik, katakanlah begitu, tidak ngoyo, tidak berambisi, dan sejenis itu. Kalau ada kesempatan dan ada pihak yang membutuhkanku, aku akan menerima itu sebagai takdir. Jika itu belum ada, aku ingin fokus menulis, mewujudkan sesuatu yang sudah bertahun-tahun kehilangan kesempatan untuk muncul di permukaan kehidupanku karena kesibukanku dengan rutinitas akademik.

Menjadi ilmuwan dan penulis adalah dua hal yang jadi passion-ku sekarang. Menjadi ilmuwan adalah cita-cita masa kecil, kenang-kenangan masa senang bermimpi melakukan sesuatu untuk ilmu pengetahuan, sedangkan menulis itu cita-cita yang kutemukan di masa aku dewasa, panggilan jiwa. Aku tidak menemukan pekerjaan sekaligus kesenangan dalam hidupku yang senatural menulis dan kembarannya, membaca. Rasanya jalan begitu saja. Bukannya tidak susah dan tidak akan menemui hambatan-hambatan, tetapi karena meskipun berat, ini tidak menjadi beban. Sekalipun ada beban, bebannya tidak terletak pada apa yang hendak dikerjakan ini, melainkan pada mungkin kehidupan sosial yang terdampak. Aku sudah jadi orang yang cukup kuper, jadi aku berharap dan berdoa, semoga kesukaanku ini bukan menjadikanku semakin terkucil dari realitas, melainkan justru membuatku dekat dengan kehidupan banyak orang, dengan kenyataan. Semoga ini bisa menjadi jalanku berhubungan dan bersilaturahim dengan orang lain.

“Kalau ingin jadi dosen, ingin di mana? Tidak kembali ke Semarang?”

Ah, itu sih… Prinsipku, di manapun aku berada itu yang baik untukku. Aku akan berada di tempat yang baik dan aku berada di tempat itu karena aku dibutuhkan. Jadi, sekarang ini kembali lagi pada fokus mengasah keahlian. Malu rasanya jika mencari/meminta pekerjaan hanya mengandalkan ijazah dan nama almamater, serta kepercayaan orang kalau kamu bisa bekerja. Aku ingin bekerja karena aku memang bisa melakukan sesuatu yang berguna. Bisa meneliti, itu berguna. Bisa mengajarkan orang psikologi, itu berguna. Bisa menulis, itu berguna. Bisa membaca dan berbagi pengetahuan, itu berguna. Bisa membantu orang dengan psikologi, itu berguna. Bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat, itu berguna.

***

2# Antara kerja, karya, dan cita-cita

Orang bekerja belum tentu menghasilkan karya atau belum tentu demi berkarya. Orang berkarya belum tentu pula sebagai wujud tercapainya cita-citanya. Dalam kenyataan kehidupan hal-hal dapat tidak berlangsung sesuai keinginan kita, bukan? Sekarang aku berpikir bahwa seseorang itu tidak bisa bekerja dan berkarya demi cita-citanya pribadi. Ia harus berbuat demi cita-cita yang melampaui dirinya sendiri. Diri seseorang itu berkembang bersama cita-cita besarnya. Dengan cita-cita yang besar, sekalipun itu tidak tercapai, usaha mewujudkan itu saja sudah memberikan pengalaman yang berharga untuk perkembangan diri.

Di akhir masa S2 ini, aku justru teringat cita-citaku yang sudah lama sekali. Ingin menjadi menteri pendidikan. Ahaha… itu cita-cita anak-anak. Cita-cita yang kekanak-kanakan. Ya, meskipun rasanya itu agak tidak masuk akal, dan mungkin juga susah dicapai, aku jadi semangat untuk belajar lagi. Aku ingin sekolah lagi, di Finlandia, atau di negara-negara lain yang sistem pendidikannya bagus. Aku ingin belajar bagaimana memanajemen pendidikan untuk suatu saat nanti, mungkin 10 atau 20 tahun lagi, membantu pemerintah Indonesia memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan untuk anak-anak Indonesia.

Titik berangkatku dari ilmu psikologi menurutku sangat penting. Selama ini psikologi hanya berguna untuk menangani masalah belajar anak per anak di sekolah, tetapi menurutku, sebenarnya prospek penerapannya dapat lebih luas untuk memperbaiki sistem pendidikan: untuk meningkatkan kualitas guru sebagai pendidikan, untuk memperbaiki kepemimpinan kepala sekolah, untuk dibuatnya aturan-aturan pendidikan yang berorientasi pada kebaikan diri siswa sebagai manusia, bukan hamba pemilik modal, untuk menciptakan sekolah-sekolah yang tata kelola dan arsitekturnya humanis… Begitulah. Aku banyak berdoa semoga Psikologi Pendidikan yang kupelajari di UGM sangat berguna dan semoga itu lebih berguna lagi nanti.

Mimpi memang mimpi… terwujud atau tidak itu urusan nanti, bukan? Aku banyak berdoa semoga Allah menunjuki jalan yang benar dan keridhaan untuk hidup secara lurus dan selalu dengan niat yang baik. Akhir kali ini tentu menjadi awal bagi sesuatu yang lain. Lagi aku akan berdoa, sama seperti dulu ketika aku lulus S1 dan masuk S2:

“Ya Allah, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar. Berikanlah dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong…”

8 thoughts on “Reaching Dream Bag. 21: Antara Kerja, Karya, dan Cita-cita

      • Cara jadi penerjemah buku? Maksudmu cara mencari penerbitnya atau cara menerjemahkannya?
        Kalau cara menerbitkannya tinggal menyiapkan naskah saja, nanti tinggal menghibungi editor penerbit. Editor kan biasanya mencari naskah juga.

        Kalau cara menerjemahkan saya rasa kamu sudah jagoan, tin. Apalagi bidang keahlianmu itu terbilang disukai pasar. Itu yang seperti psikologi positif itu. Banyak penerbit yang suka buku begituan.

        Emang sudah punya naskah?

  1. Hasil terjemahannya. Makin baru bukunya, makin bagus. Nanti ketika mau diajukan ke editor, serahkan 1 atau 2 bab saja buat jadi bahan untuk diperiksa. Kalau dia setuju, terjemahannya dilanjut. Biasanya prosedur formalnya begitu.

    Kecuali kalau kamu punya kenalan seorang editor penerbit. Asal tunjukkan buku yg mau diterjemahkan saja. Kalau dia setuju, lanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s