Kritis terhadap Konsep Psikologis “Ridha”

Beberapa hari yang lalu mengikuti kuliah umum di grup WA Psikologi Islam tentang konsep ridha. Apa itu ridha: menerima dengan senang hati segala ketentuan Allah, baik nikmat maupun musibah. Konsep ini digadang-gadang sebagai “the paramount of Islamic well-being” karena secara normatif dalam Islam “tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai keridhaan Allah.”

 

***

 

Konsep Rida dalam Psikologi Islam

 

Oleh Dr. Ahmad Rusdi, MA.Si

 

Jika di Barat dikenal dengan konsep happiness, well being, dsb. Maka dalam al-Qur’an cukup digambarkan dalam satu konsep, yaitu rida. Dalam Islam, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai keridaan Allah.

 

Cara Mencapai Keridaan Allah.

 

Satu-satunya cara mencapai keridaan Allah adalah dengan cara memiliki sifat rida. Lihatlah surat al-bayyinah ayat 8, Allah meridai orang yang mereka juga meridai Allah. lihat pula surat al-Fajr ayat 28. Orang orang yang kembali ke surga Allah adalah orang yang perido dan diridhoi.

 

Rida dalam Tasawuf

 

Rido adalah kondisi jiwa yang tinggi. Dalam tasawuf, dikenal dengan tingkatan jiwa dari ammarah bi al-su, lawwamah, mulhamah, mutmainnah, rodiyah, mardiyah, mahdah.

 

Rida sebagai Variabel Sentral

 

Rida sangat sentral dalam mempengaruhi akhlak dan perilaku manusia. Semua akhlak tidak terlepas dari rida, Orang bersabar, bersyukur, tawakkkal, zuhud, ikhlas, semua karena rida. Akhlak buruk muncul karena ketiadaan rida, seperti iri, prasangka, rakus, pelit, dsb.

 

Multidimensionalitas Rida

 

Ada lima dimensi rida, yaitu rida terhadap masa lalu, Rida terhadap masa depan, rida terhadap nikmat, rida terhadap fitnah, Rida terhadap rasa sakit dari orang lain. Dimensi tersebut masih dalam proses penelitian penulis untuk dibuktikan secara empiris. Selain itu masih dalam proses pembuatan alat ukur.

 

Rida sebagai Variabel

 

Rida disebutkan dalam beberapa hadits memiliki kaitan dengan variabel lain. Namun, saya menyimpulkan bukan hanya sekedar variabel, namun rida sebagai variabel sentral.

 

Rida dalam menghadapi fitnah, adalah variabel sabar. Dalam sebuah hadits dikatakan

 

الصبر رضا

 

“sabar adalah rido”

 

Lebih tepat dikatakan, sentral dari variabel sabar adalah variabel rida.

 

Rida terhadap nikmat adalah syukur. al-Kafwi mengatakan bahwa (ان حقيقة الشكر الرضا باليسبر) syukur adalah rida atas kemudahan/nikmat.

 

Rida terhadap masa lalu disebut Qanaah. Baik berupa nikmat, sedikit atau banyak nya yang telah didapat.

 

Rida terhadap masa depan adalah tawakkal. Orang yang tawakkal telah meridai segala sesuatu yang akan datang.

 

Rida terhadap kejahatan orang lain adalah memaafkan. Tidak disebut memaafkan jika hanya mengucapkan telah memaafkan sebelum meridai orang tersebut.

 

penulis telah mendapatkan data mengenai semua variabel tersebut berdasarkan alat ukur yang telah penulis buat. Ditemukan bahwa semua variabel tersebut berkorelasi.

 

***

 

1# Pendapat saya atas tulisan di atas:

 

Ridha yang dimaksud dalam konsep psikologis ridha berkenaan dengan bagaimana seseorang meridhai Allah agar Allah ridha padanya. Satu hal yang menggelitik saya sebagai suatu persoalan adalah pemahaman bahwa ridha Allah tidak tergantung dan tidak terkungkung oleh satu faktor, yaitu keridhaan manusia padanya (kepuasan manusia atas ketetapan-ketetapan-Nya). Jika boleh bicara “sebab”, ridha Allah sebetulnya tergantung pada apakah manusia melakukan hal-hal yang disenangi-Nya, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan alias TAKWA. Karena itu, bagi saya dua aspek penting ridha yang tidak dapat dilewatkan adalah: 1) sejauh mana perilaku manusia sesuai dengan petunjuk agama dan 2) seberapa benar ia ikhlas.

 

Persoalan selanjutnya adalah bercampur-baurnya konsep apa itu ridha dalam literatur Islami. Apakah ridha itu sifat kepribadian atau kondisi jiwa? Dua hal ini, sifat kepribadian dan kondisi jiwa, adalah berbeda satu sama lain. Kondisi jiwa fluktuatif, sementara sifat kepribadian cenderung permanen. Semua orang bisa mengalami kondisi jiwa “ridha”, hanya kualitasnya yang berbeda-beda. Namun, jika ridha adalah sifat kepribadian, maka akan ada orang yang dominan seumur hidupnya dengan sifat itu, ada yang tidak. Jika ridha adalah sifat kepribadian, maka ini tentu ketidakadilan Ilahi.

 

Peneliti konsep ridha telah mengungkap lima dimensi ridha, yaitu ridha terhadap masa lalu (qanaah), ridha terhadap masa depan (tawakkal), ridha terhadap nikmat (syukur), ridha terhadap fitnah (sabar), dan ridha terhadap rasa sakit dari orang lain (memaafkan). Hanya bagi saya, “celakanya” ia luput mengungkap aspek-aspek dari ridha itu sendiri, konsepnya baru sebatas ridha TERHADAP APA; belum APA ITU ridha: 1) Apa saja keyakinan yang dimiliki oleh orang yang ridha, 2) Perasaan-perasaan apa yang dirasakan oleh orang yang ridha, dan 3) Perilaku apa yang dihidupkan oleh orang yang ridha? Hal ini sama sekali belum terjawab.

 

Lima dimensi ridha (qanaah, tawakkal, syukur, sabar, dan memaafkan) menurut saya adalah kelemahan dalam teorisasi ridha itu sendiri. Sebabnya, karena lima dimensi itu menyempitkan makna qanaah, tawakkal, syukur, dan sabar hanya pada: yang satu adalah hanya milik masalah yang berkaitan dengan masa lalu, yang satu masa depan, yang lain hanya milik keadaan nikmat dan fitnah. Jika kita menilik kembali ajaran agama, kita akan menemukan hal-hal seperti bahwa “ketika seorang beroleh nikmat, ia tidak cukup hanya bersyukur, tetapi juga bersabar atas nikmat itu”, “ketika seorang beroleh musibah, ia dapat tidak hanya bersabar, tetapi juga bersyukur atas musibah itu”, dan semacam itu. Dalam satu kondisi (permasalahan yang sedang dihadapi), ada banyak sikap Islami yang diharapkan Allah.

 

Selanjutnya, untuk persoalan qanaah sebagai sikap puas menerima pemberian Allah yang banyak maupun yang sedikit. Hal ini tidak hanya menyangkut kejadian di masa lalu, tetapi juga masa kini. Tawakkal sebagai berserah kepada Allah bukan hanya adalah sikap ketika seorang menanti-nantikan hasil pekerjaannya di masa depan, tetapi juga sikap di masa kini untuk misalnya “berhenti berambisi dan hanya memikirkan kepentingan dunia”.

 

Hal lain apa yang membuat teori ridha ini sulit dicerna adalah peneliti mengupas sebuah konsep dengan konsep-konsep yang perlu pula dikupas. Qanaah, tawakkal, syukur, dan sabar punya gagasan-gagasan yang masih perlu diselidiki secara tersendiri pula: apakah mereka itu. Ketimbang menggali ridha pada ridha itu sendiri (menggali keyakinan, perasaan, motivasi, dan perilaku dalam ridha), peneliti berusaha memahami ridha dengan menggunakan konsep-konsep teoretis lain.

 

Ketika peneliti kemudian membangun alat ukur ridha sementara fundamennya belum ada, persoalan-persoalan di atas itulah yang membuat saya berpendapat bahwa beliau terburu-buru. Daripada uangnya habis untuk mengembangkan alat ukur, menurut saya lebih baik beliau menggunakan uang itu untuk melanjutkan eksplorasinya dan mematangkan teorinya. Alat ukur bisa menunggu demi teori yang bermanfaat dan mampu teraplikasi dengan baik di masa depan.

 

***

 

2# Pertanyaan-pertanyaan saya:

 

1. Apa latar belakang bapak mengeksplorasi konsep ridha? Apakah ini dimaksudkan sebagai well-being Islami, “saingan” konsep well-being dalam khazanah psikologi yang umum? Bagaimana kaitannya dengan konsep well-being?

 

2. Apa metode penelitian yang bapak gunakan sehingga melahirkan konsep ridha tersebut?

 

3. Sejauh yang saya baca, saya belum menemukan dalam tulisan bapak: Definisi ridha itu sendiri sebagai konstruk psikologis. Yang saya baca masih terasa campur baur dengan ajaran agama Islam. Psikologinya di mana?

 

4. Apa implikasi konsep ridha ini? Dan apa batasan dan keterbatasan studi yang bapak lakukan? Mohon ini dijelaskan agar kami yang belajar tahu sejauh mana konsep ini dapat digunakan sebagai teori maupun masukan untuk praktik.

 

5. Apakah konsep ridha ini menggambarkan ridha sebagaimana YANG DIALAMI orang-orang, yang terjadi dalam life world orang pada umumnya?

 

Sekilas dari metode telaah literatur dan bertanya pada ulama, saya memahami konsep ridha ini adalah ridha yang ideal (yang seharusnya dialami orang). Tidakkah dari situ akan ada kesenjangan antara teori ridha (konsep ideal ridha) dan pengalaman orang (realitas dinamika ridha di lapangan)? Bagaimana bapak mengantisipasi ini dalam konseptualisasi ridha milik bapak?

 

***

 

3# Jawabannya: (tata bahasa dan tata tulis sedikit saya edit demi keterbacaan)

 

PERTANYAAN (1)

 

Latar belakang:

 

Secara fenomenologis:

 

Fenomena pertama, banyak orang mempelajari agama tidak menekankan pada aspek akhlak terdalam. Sekedar simbolis. Rida salah satu yang perlu dipelajari masyarakat luas. Tanpa mempelajari aspek akhlak terdalam pada diri manusia, umat Islam saat ini (mungkin juga seluruh umat manusia) terlihat memiliki berbagai permasalahan psikologis. Lihat konflik di Timur Tengah, banyak motif dendam. Bagaimana ajaran Islam tentang rida? Memaafkan? Seperti tidak menjadi pertimbangan.

 

Fenomena kedua, konsep Barat tidak secara efektif bisa mengatasi permasalahan psikologi umat manusia. Psikologi semakin modern, permasalahan psikologis semakin berkurang atau bertambah? [Saya: Permasalahan psikologis itu tidak berkurang atau bertambah -_- Kalaupun saat ini ada banyak variabel psikologis dan nama-nama gangguan jiwa, itu karena ilmu psikologi telah berhasil mengungkap banyak hal yang semula tersembunyi. Bukan masalah jumlah…]

 

Latar belakang secara filosofis:

 

Saya menganggap konsep rida lebih unggul dari well being dan sebagainya. Pertama, rida bersifat vertikal dan horizontal. Kedua, rida bersifat aktif dan pasif (راضية مرضية) . Keridaan adalah sesuatu yang dicapai dan diberikan oleh Allah. Belum ada konsep Barat yang bisa berpikir sampai sejauh ini.

 

Rida lebih tinggi maknanya dibandingkan well being, happiness, dan sebagainya. Bahagia hanyalah efek dari rida. Nah, rasa bahagia ini, Islam punya konsep tersendiri, yang disebut Tatmain al-qulub [hati yang tenang]. Saya juga sudah konstruk alat ukurnya. Lain kali kita bahas di sini. Jika rida adalah variabel yang sangat determinan, maka Tatmain qulub sangat dependen. [Saya: Ini tidak jelas apa maksudnya. Ridha vertikal-horizontal, ridha aktif-pasif.]

 

PERTANYAAN (2)

 

Metodologi:

 

1. Studi literatur, temukan aspek dan dimensi.

 

2. Buat item, dsb. Ingat, item sesuai dengan dalil dan penjelasan ulama. Kadang mereka menginspirasi [dalam] pembuatan kalimat item.

 

3. Uji reliabilitas [alat ukur], cronbach alpha, split half.

 

4. Analisis faktor. Seninya disini, mendekatkan teori ke data, dan data ke teori. [Saya: Tidak dijelaskan CFA atau EFA.]

 

5. Uji dengan alat ukur lain yang secara teori bertentangan atau berkorelasi. Kita telah mengetahui namanya criterion-based validity.

 

PERTANYAAN (3)

 

Soal definisi ridha yang belum ada dan kesan campur baru karena terlalu banyak unsur dogma Islam-nya, tidak jelas unsur psikologinya:

 

Terkesan campur baur karena kita masih mendikotomi ilmu Islam dengan psikologi. Akan terkesan seperti itu sampai suatu saat psikologi Islam established. Saya mendefinisikan rida sendiri adalah menerima dengan senang atas apa yang diberikan kepada Allah berupa apa yang akan terjadi, yang telah didapat, nikmat, fitnah, dan kesalahan orang lain.

 

[Saya: Saya memperhatikan definisi ridha yang sangat sederhana: “Menerima dengan senang atas apa yang diberikan kepada Allah, berupa apa yang akan terjadi, yang telah didapat, nikmat, fitnah, dan kesalahan orang lain.” Kalimat ini sebenarnya sulit dimengerti secara tata bahasa saja. Meski begitu, secara psikologis saya dapat menyimpulkan aspek-aspek ridha yang agaknya luput dari pandangan peneliti sendiri: 1) sikap menerima (acceptance) atas pemberian Tuhan di masa lalu dan masa depan, yang baik (nikmat) dan yang buruk (fitnah, kesalahan orang lain) dan 2) perasaan senang (emosi).

 

Di sini saya menemukan kontradiksi. Jika mengacu pada teori ridha menurut ulama dan kitab-kitab Islam yang dirujuk peneliti, seharusnya perasaan yang dirasakan BUKAN SENANG, TAPI TENANG.]

 

PERTANYAAN (4)

 

Tentang implikasi studi dan batasan-keterbatasan studi yang perlu diperhatikan:

 

Implikasi. Tentunya adanya konstruktif baru yang menunjukkan peningkatan dimensi vertikal dalam psikologi manusia. Menunjukkan bahwa membangun konstruksi psikologi bisa diambil dari ayat suci, hadits Nabi. Misalnya kita konstruksi teori dari Seligman, kenapa kita tidak bisa konstruksi teori dari Rasulullah? Kan sama sama manusia lebih fair sebetulnya.

 

[Saya: Yang saya khawatirkan dalam pengembangan konstruk psikologis Islami adalah favoritisme khazanah Islam (Al Quran, hadist, kitab-kitab klasik, kehidupan Rasul) bukan disebabkan karena itulah sumber data, penyeimbang objektivitas, dan masukan untuk teori dan praktik yang lebih baik, melainkan sentimen keagamaan karena peneliti Muslim, maka apa-apa harus sumber Islam diprioritaskan, dengan pengabaian (penomorduaan) sumber-sumber data lain untuk pengetahuan psikologi, seperti pengalaman nyata manusia. Penelitian ini menunjukkan favoritisme yang saya khawatirkan ini dan akibatnya, overconfidence, terburu-buru membangun alat ukur padahal teori baru setengah jadi. Dilihat dari metode penelitian yang digunakan, penelitian ini sangat mengandalkan literatur dan penjelasan ulama; ia melewatkan pengalaman nyata orang-orang yang mempraktikkan ridha. Apa yang membuat teori-teori Barat kuat adalah teori-teori tersebut memiliki basis data yang kuat pada pengalaman hidup individu-masyarakat, dan mengkombinasikannya dengan khazanah filsafat dan keagamaan, seperti pemikiran Aristoteles, ajaran Kristen, Konfusianisme, dan Buddhisme. Maaf saja, kelemahan ilmuwan Muslim ada di sini: cenderung memprioritaskan teks, tetapi luput mengintegrasikannya dengan pengalaman hidup manusia. Intinya: PENELITIAN LAPANGANNYA KURANG.]

 

Batasan. Batasan akan sangat bergantung dengan evidence. Semakin lemah evidence, semakin terbatas. saya rasa evidence saya masih lemah. Saya tidak bisa menjamin alat ukur ini dapat digunakan secara luas. Namun, saya merasa yakin dimensi rida ini bisa diaplikasikan dalam berbagai bidang. Perlu pengembangan lebih lanjut.

 

[Saya: Batasan penelitian BUKAN BERGANTUNG dengan bukti, TAPI TERGANTUNG pada bukti. Benar, semakin lemah bukti, semakin terbatas jangkauan teorinya. Benar, bukti-bukti untuk penelitian ini masih lemah, bagi saya, bukan pada alat ukurnya, tetapi jauh sebelum itu, pada konseptualisasinya. Benar, konsep ridha kali ini bisa diaplikasikan, tetapi sebaiknya peneliti melakukan penelitian lebih lanjut.]

 

PERTANYAAN (5)

 

Tentang ridha sebagai konsep ideal [Saya berpikir demikian karena sumber datanya adalah dogma-dogma agama.] dan ridha sebagai realitas pengalaman individu [yang menurut saya masih belum diteliti]:

 

Nah, ini seni nya, mendekatkan teori ke data dan mendekat data ke teori. Kita main di item. Contoh simplenya item gini: “Saya akan mengalami masa depan yang buruk.” Ini bisa mengukur rida terhadap masa depan dan semua orang bisa mengalami ini, atau pun bisa mengalami sebaliknya dari ini. Nah, kita tahu dalam statistik ada nilai error. Itulah menjadi kesenjangan antara teori dengan data. bahkan nilai error itu sendiri bisa error.

 

[Saya: Sebenarnya ketika saya bertanya soal ridha ideal dan ridha pengalaman real, saya tdk mengacu pada alat ukurnya, tetapi pada konsep teoretisnya yang darinya alat ukur dibuat.

 

Saya ingin tahu, apakah untuk membangun konsep bapak menggali pula data dari wawancara terhadap sejumlah orang tentang pengalaman ridha mereka?

 

Setahu saya, belajar dari pengalaman teman-teman di kampus, membangun teori itu perlu seimbang wawasan dari literatur dan realitas di lapangan. Kalau pakai paradigma konstruktivistik sosial, teori bapak itu menurut saya bisa jadi “hanyalah” ridha menurut ulama dan kitab, bukan masyarakat. Mungkin masyarakat umum punya pemaknaan sendiri akan apa itu ridha sesuai apa yg berusaha mereka praktikkan. Bagaimana pendapat bapak?]

 

Kalau yang dimaksud adalah kita membuat konsep rida dengan cara wawancara orang orang, itu bisa saja. Namun, risikonya adalah pergeseran makna. Contoh: sebagaimana tadi dibahas, yaitu ikhlas.

 

Nah, betul. Istilah filsafatnya saya berada di posisi konstruktivisme karena saya tidak mau ambil risiko pergeseran makna, tapi bisa diantisipasi sebetulnya. Nah, analisis faktor, sebenarnya juga bisa mendekonstruksi teori yang sudah kita susun. mungkin dibahas nanti saja, nanti kepanjangan.

 

Bagaimana antisipasinya: Saran ke depan, setelah merancang teori, kemudian lakukanlah wawancara terkait dimensi-dimensi tersebut, bagaimana aplikasinya dalam keseharian, kemudian bisa dipertimbangkan dalam membuat item. Saya belum melakukan itu.

 

[Saya: Seorang konstruktivis sejati tidak takut pergeseran makna ketika itu adalah REALITAS DI LAPANGAN, BUKAN IMAJINASI ATAU KARANGAN peneliti. Bagi saya, “takut pergeseran makna” itu bukan sikap ilmiah yang tepat karena justru akan penting untuk bisa membandingkan seberapa jauh penyimpangan makna ridha di masyarakat dari konsep idealnya yang ada dalam teks. Inilah masalah sebenarnya kegagalan maupun penyimpangan dalam penerapan ajaran agama. Bukan karena orang tidak menjalankan agama, melainkan karena orang menjalankan agama sesuai interpretasi masing-masing. Belum ada peneliti Muslim yang tertarik meneliti ini: sisi gelap masyarakat Muslim.

 

[Saya bertanya: Selanjutnya, jika ridha artinya menerima dengan perasaan senang atas baik nikmat maupun musibah, apa bedanya ini dengan konsep acceptance dan life satisfaction yang sudah ada dalam psikologi? Apa yang membuatnya unik dan bukan sekadar alih nama atau pembuatan istilah baru?]

 

Acceptance, life satisfaction, dengan rida, bagi saya berbeda dan bukan alih nama atau Islamisasi. Aspeknya berbeda dan ada dimensi vertikal. Artinya, keberadaan konsep acceptance, life satisfaction, tidak akan mempengaruhi konsep rida yang saya konstruk karena saya memang bukan dari situ membangunnya. Sebaliknya, jika dicari persamaan antara rida dan acceptance, mungkin kita juga tidak yakin kedua nya sama. Sebenarnya acceptance itu lebih dekat pada qanaah. Secara bahasa punya arti yang mirip. Wallahu a’lam…

 

[Saya: Kalau acceptance itu dekat dengan qanaah, jadi benar bahwa acceptante itu aspek dari ridha. Acceptance akan mempengaruhi konsep ridha. Peneliti kurang jeli dalam melihat keterkaitan konsep-konsep psikologi. Mohon maaf, lagi-lagi saya hanya merasakan peneliti seperti terjangkit Islam-favoritism dan kurang humble. Keterkaitan konsep-konsep psikologis antara psikologi Barat dan Islam adalah suatu yang mungkin sekali terjadi.
Bagi saya, pengembangan psikologi Islam harus dapat dihubungkan dengan “induk”nya yaitu psikologi yang sedang mainstream, bukan membangun khazanahnya sendiri yang eksklusif dan terisolasi. Selain untuk meningkatkan “nilai jual” teori, ini juga meluaskan kemanfaatan teori dan mengenalkan ilmuwan Barat tentang konsep yang bersumber dari Islam yang insya Allah akan memperkaya ilmu psikologi pada umumnya. Sukses ilmuwan psikologi yang berasal dari Asia Timur dan India demikian. Misal, mereka sukses mengarusutamakan konsep relasi yang berakar dari filsafat Konfusius, praktik-praktik Buddhisme seperti “mindfulness”, dan sebagainya. Mereka bicara dengan bahasa yang setara dengan bahasa ilmuwan internasional, dan tahap pertama memperkenalkan konsep adalah dengan mencari konsep-konsep yang dekat dengan konsep yang sedang dikembangkan, dan melakukan compare dan contrast atas konsep-konsep tersebut.]

 

***

 

4# Pertanyaan terakhir:

 

Terkait pemaparan bahwa dalam Islam, tujuan hidup manusia yang seharusnya adalah mencari ridha Allah. Disampaikan pula: “Tujuan menjadi ridha adalah mendapatkan keridhaan Allah.” Jadi artinya manusia itu hidup untuk ridha. Bolehkah saya tahu apa hubungannya ridha manusia dan ridhanya Allah? Darimana seseorang dapat tahu Allah ridha padanya?

 

Kalau begitu pula, apa hukumnya tujuan hidup ingin mencari kebahagiaan? Secara psikologis itu wajar, tetapi secara agama, entah bagaimana, saya jadi memahami itu tujuan yang salah karena antroposentris. Di mana kedudukan kebahagiaan dalam konteks teori ridha ini? Sebagai apa?

 

Jawabannya:

 

Saya tidak bisa mengatakan orang yang tujuan hidupnya mencari kebahagiaan adalah salah. Namun, saya bisa mengatakan bahwa orang yang mencari keridaan Allah lebih baik dari orang yang sekedar mencari kebahagiaan. Kedudukan kebahagiaan: orang yang rida pastinya bahagia. Bahagia hanya efek dari rida.

 

Tentang ridha Allah dan Ridha manusia: Seperti di surat al-fajr, (راضية مرضية), ada dua tipe orang yang kembali pada Rabb nya, yaitu yang meridoi dan diridoi. Meridhai itu bisa diukur. Itulah yang saya konstruk. Namun, diridhai Allah, tidak bisa diukur. Kita tidaklah bisa tahu apakah kita diridhai Allah. Namun, cara untuk mencapai keridhaan Allah dengan meridhai apa yang Allah berikan. Llihat Quran Surat Al Bayyinah, “Mereka kekal di dalam jannah, Allah meridoi mereka dan (karena) mereka meridhai Allah.”

 

[Saya: Meridhai apapun dari Allah “hanyalah” salah satu jalan takwa. Keberislaman seseorang yang diridhai Allah saya yakini tidak cukup hanya dengan mengandalkan lima sikap batin: syukur, sabar, qanaah, tawakkal, dan memaafkan, ada banyak manifestasi ketakwaan, termasuk ibadah-ibadah lahiriah yang ritualistik maupun non-ritualistik. Satu hal yang mungkin dapat saya ingatkan kepada peneliti dan pembaca tulisan ini adalah tentang kekhawatiran saya bahwa hasil studi ini pun dapat menyimpangkan pemahaman keagamaan Islam kita. Hal ini tepatnya ketika dikatakan “kunci meraih keridhaan Allah adalah dengan meridhai ketetapan Allah” SAJA, hanya berdasarkan dua ayat Al Quran (dalam QS Al Fajr dan QS Al Bayyinah yang dijadikan rujukan), dan menyempitkan indikator ridha hanya pada lima dimensi. Inilah bahaya psikologisasi dan saintifikasi ajaran agama yang patut diperhatikan ilmuwan psikologi Muslim yang ingin mengembangkan Psikologi Islam.]

 

Sekian dari saya🙂 Semoga bermanfaat dan diridhai Allah, aamiin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s