Memahami Islamisme Bag. 6: Belajar Membedakan antara Islam dan Islamisme

islam-and-islamism-2
1#
Memang masalahnya adalah kegagalan banyak orang membedakan antara Islam dan Islamisme. Akibatnya setiap kritik terhadap Islamisme dianggap serangan terhadap Islam dan pengkritiknya pun yang sesama Muslim dijatuhi label mulai dari musuh Islam, liberal, sesat, Yahudi, antek Barat, dan kafir.
Terkait status Islamisme, seorang Islamis memang cenderung tidak mau/ tidak bisa membedakan dan memisahkan antara Islam sebagai agama dan Islamisme sebagai ideologi politik. Bagi mereka Islam adalah Islamisme dan Islamisme adalah Islam; tanpa sadar bahwa sesungguhnya mereka telah menganut hal yang ditambahkan dalam agama, hal baru dalam bangunan agama Islam yang sebetulnya tidak ada akarnya pada tradisi Islam terdahulu.
Ketidakmauan dan ketidakmampuan membedakan tersebut disebabkan oleh setidaknya tiga hal:
1) Kebutuhan melindungi kepentingan politik karena pemisahan tersebut akan langsung menyerang fondasi bangunan ideologi yang selalu membenarkan diri dan segala aksinya atas nama Islam (berlindung di balik nama “Islam”);
2) Semata kebodohan atau ketidaktahuan soal Islam sehingga penganutnya tidak sensitif membedakan mana ajaran Islam, mana bukan; dan
3) Akibat indoktrinasi yang intens. Pengikut diikat dalam kelompok (lewat keanggotaan dalam organisasi, pernikahan sesama pengikut, penjagaan kelompok yang ketat agar tidak keluar dari barisan) sementara diri mereka dicegah dari mengetahui wajah lain dari Islam, selain apa yang direstui oleh ideologi itu sendiri (dengan labeling “Islam yang itu salah, sesat, bukan yang sebenarnya”, atau menakut-nakuti). Karena tidak memiliki pengetahuan pembanding, maka tidak memiliki kapasitas untuk berpikir kritis. Mereka percaya buta, bahkan takut berpikir kritis karena takut mencederai keislaman dan keimanan diri.
Butuh penyelidikan lebih lanjut, tetapi Islamisme tampak lebih mudah terinternalisasi pada diri:
1) Anak-anak/ pemuda Muslim yang tidak memiliki pengalaman belajar Islam sebelumnya, apakah itu tradisi Islam berdasarkan pengajaran NU atau Muhammadiyah dan lainnya yang berasal dari Indonesia, sehingga tidak memiliki pengetahuan pembanding sebagai bahan berpikir kritis ketika dipapar ajaran Islamisme;
2) Anak-anak/ pemuda Muslim yang semula cara hidupnya biasa-biasa saja (senang main, bersikap hedon, pacaran, dan sebagainya), tetapi kemudian kesadaran religiusnya meningkat di usia yang lebih dewasa dan terjaring kelompok Islamis dan diajari Islam versi mereka. Keyakinan pada Islamisme menjadi bagian dari pertaubatan;
3) Anak-anak/ pemuda Muslim yang berasal dari keluarga atau dibesarkan oleh orangtua yang tidak religius, atau yang religiositasnya dipertanyakan. Perkembangan Islamisme dalam diri pemuda sedikit banyak melibatkan sikap merendahkan keberagamaan keluarga yang dianggap tidak saleh;
4) Anak-anak/ pemuda Muslim dari keluarga yang sejak awal sudah menganut Islamisme atau sebagian unsur Islamisme, entah karena kekurangpengetahuan orangtua atau karena orangtua memang aktivis Islamisme; dan
5) Anak-anak/ pemuda Muslim yang tinggal di Timur Tengah yang menjadi tempat kelahiran dan berkembangnya Islamisme. Anak-anak di Indonesia butuh perjalanan yang lebih panjang, minimal sampai dia berada di sekolah menengah dan perguruan tinggi yang menjadi tempat berbagai organisasi Islamis menjaring kader-kader baru via kerohanian Islam di sekolah atau kampus.
Perlu diperhatikan bahwa Islamisme sendiri menampilkan diri dalam berbagai corak dan dipengaruhi oleh konteks sosial budaya tempat di mana ia berada. Islamisme di Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Iran, Turki, dunia Arab (Arab Saudi, Mesir, dkk), dan negara-negara di Afrika Utara termasuk Sudan memiliki “keunikan” masing-masing diwarnai sejarah bangsa/ masyarakat setempat, tradisi Islam yang telah berkembang, dan kondisi perpolitikan dalam negara masing-masing. Sebagian unsur Islamisme diimpor dari Islamisme Arab, tetapi di negara masing-masing kemungkinan memiliki ciri yang khas, seperti Turki di mana Islamisme AKP bercampur dengan neo-nasionalisme Turki (ingin Islam dan bangsa Turki yang mendominasi dunia Islam, seperti masa Ottoman dulu).
Islam tidak monolitik (hanya memiliki satu rupa yang solid), Islamisme pun tidak monolitik. Karena itulah Muslim berbeda-beda sekalipun syahadatnya sama, Islamis pun berbeda-beda sekalipun visi-misi politiknya sama: kekuasaan dan supremasi Islam terwujud dalam Negara Islam.
***
2#
Dalam “Islam dan Islamisme”, Bassam Tibi (2016) berhasil membedakan antara Islam dan Islamisme setelah 30 tahun meneliti gerakan ini sekaligus mendalami ajaran Islam, sejarah Islam, dan politik di negara-negara berpenduduk Muslim dari masa ke masa. Berdasar inilah kita semua dapat belajar sesuatu yang penting. Sebagai catatan, upaya mengkritisi dan membedakan Islam dan Islamisme sulit dipahami bagi Muslim yang hanya belajar Islam versi Islamis, tanpa juga mempelajari ilmu-ilmu pendukung lain seperti sejarah dunia Islam dan dinamika sosial politiknya.
Hal paling mendasar yang membedakan antara Islam dan Islamisme adalah sementara Islam sebagai agama berkenaan dengan iman, Islamisme (meskipun menyebut diri adalah Islam) berkenaan dengan tatanan politik. Meski begitu, Islamisme bukan semata ideologi politik, melainkan politik yang diislamisasi (dicarikan dasar dan pembenaran atas kredo dan aksinya dalam Al Quran dan hadist-hadist nabi) (lihat Tibi, 2016, h. 1). Hal ini dapat diparalelkan dengan upaya Islamisasi ilmu yang bukan semata upaya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi mencarikan dasar Islam bagi suatu teori dan praktik, untuk melahirkan ilmu-ilmu Islam.
Islamisme tersamar sebagai Islam hingga sulit dibedakan dan berhasil meyakinkan banyak Muslim karena penggunaan dalil-dalil agama ini. Ia bertahan sebagian karena propagandanya yang gencar, sebagian karena ketakutan dan kerendahdirian Muslim yang kurang ilmu agamanya untuk berani mengkritisi sesuatu yang disebut-sebut berasal dari Al Quran dan hadist. Karena itulah, dapat dikatakan bahwa keikutsertaan seseorang dalam Islamisme menunjukkan kelemahan seseorang dalam pemahaman Islam, bukan karena kebenaran dalam ideologi itu sendiri.
“Agamasasi atau Islamisasi politik berarti promosi suatu tatanan politik yang dipercaya bersumber dari kehendak Allah dan bukan dari kedaulatan rakyat” (Tibbi, 2016, h. 1), tepatnya berupa pendirian Negara Islam dengan syariat Islam yang dikonstitusionalisasikan sebagai undang-undang (berdasarkan tafsir para Islamis tentunya) dan semangat menjadikan seluruh dunia tunduk di bawah supremasi Negara Islam.
Hal ini sesungguhnya tidak memiliki dasar ajaran Islam karena ajaran Islam: 1) tidak memerintahkan pendirian negara tertentu, melainkan melaksanakan pemerintahan yang adil dan melindungi orang-orang di dalamnya baik Muslim maupun non-Muslim, apapun bentuk pemerintahannya apakah itu monarki, teokrasi, ataupun demokrasi, 2) memerintahkan agar memecahkan masalah hidup bersama dengan cara bermusyawarah dengan orang-orang, baik Muslim maupun non-Muslim, dan 3) memerintahkan agar dalam konflik apapun mengutamakan perdamaian. Sebagai iman, Islam berkenaan dengan cara ibadah dan kerangka etika, termasuk etika dalam berpolitik, dan tidak mewajibkan suatu tata pemerintahan dan bentuk negara khusus. Hal ini terbukti dalam sejarah Islam sendiri. Empat khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) diangkat sebagai khalifah dengan cara yang berbeda-beda dan ahli-ahli fikih tidak menolak sistem monarki yang kemudian menguasai dunia Islam selama berabad-abad pasca khulafaurrasyidin.
Islamisme tumbuh dari interpretasi atas Islam, tetapi ia bukan Islam. Ia merupakan ideologi politik yang berbeda dari ajaran Islam. Keyakinan-keyakinan inti di dalamnya dapat dilacak (secara ilmiah) jejak sosial, politik, dan historisnya dalam dinamika dunia Islam setidaknya mulai abad 19-21 pada era kemunduran dan krisis masyarakat Muslim akibat faktor eksternal maupun internal, dan tidak berhubungan dengan sejarah Islam di masa yang lebih lampau.
Islam tidak melarang seseorang untuk berpolitik, tetapi melarang berpolitik tanpa etika dan penyalahgunaan politik untuk tujuan-tujuan yang tidak benar menurut Islam. Meski begitu, jangan rancu dengan segala hal yang diimbuhi “Islam” berarti adalah bagian ajaran Islam dan perintah agama. Mendirikan negara yang Islami tidak sama dengan mendirikan Negara Islam. Yang satu jelas memiliki sumber dalam etika Islam dalam bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara, tetapi yang lain adalah suatu hal yang diadakan sebagai respon atas peristiwa yang kemudian diislamisasi. Mengatakan itu sebagai perintah Ilahi dan menghukumi orang-orang yang tidak setuju dengan itu (yang cuma buah pemikiran manusia) sebagai kafir dan sesat adalah suatu kebohongan menggunakan nama agama.
Jangan mau dibohongi dan jangan takut mengkritisi.
Referensi:
Tibi, B. (2016). Islam dan Islamisme. Bandung: Mizan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s