Diari Tesis Bag. 13: Pertolongan-pertolongan Allah

PERTOLONGAN ALLAH DI SEPANJANG JALAN JADI MAHASISWA DAN BUAT TESIS YANG BERKAH🙂
 
1# Sampai “dibantu” Jokowi hehe
 
Waktu itu, tepat setahun lalu, sedang genting-gentingnya butuh analisis data cepet, jadinya perlu pakai software analisis data NVivo. Awalnya mau nebeng komputer kampus, karena waktu itu sekalian kerja bantu penelitian dosen. Tapi, nggak mungkin setiap hari nglembur di kampus sampai jam 8 malam dan rasanya sendirian di Gedung D lantai 6 dan harus matikan lampu semuanya waktu pulang, horor banget. Akhirnya, memutuskan beli. Harganya 100 dollar untuk NVivo basic. Rupiah waktu itu kayaknya Rp15.000-an. Sudah menghubungi distributornya, tapi karena mahal sekali, tarik-ulur, ndak punya uang, batal. Rupanya pertolongan Allah datang tidak sampai satu atau dua minggu kemudian. Terima kasih, Jokowi, rupiah menguat sampai kayaknya sekitar Rp13.000-an.
 
Alhamdulillah, bisa dapat NVivo murah T.T (terharu). Dari yang awalnya Rp1.5 juta jadi cuma Rp1.1 juta saja.
 
*Memperingati masa pakai NVivo di laptop yang lisensinya tinggal 6 hari lagi🙂
 
2# Bagaimana aku dapat dosbing pertamaku
 
Waktu itu sedang TP2T, semacam workshop penulisan tesis, dan di situ sekalian mahasiswa bisa pilih dosen pembimbing. Setiap bidang minat dikasih tiga dosen, di bidang pendidikan dikasih Bu A (suhunya psikologi pendidikan), Pak B (ahli psikologi eksperimen), dan Bu C (dosen tak kukenal, serius). Per dosen bisa lima mahasiswa.
Mungkin karena aktif di kelas, sampai urusan mendata siapa pilih siapapun aku yang jadi koordinatornya. Namanya mahasiswa, pasti pinginnya dosen yang menguntungkan dirinya. Sudah mbatin, pasti teman-teman rebutan Bu A. Waktu itu, aku yang pegang kertas dan pena buat catat nama-nama teman dan bisa saja aku tulis namaku duluan. Tapi entah mengapa ada perasaan nggak enak melakukan itu dan akhirnya aku dahulukan teman-temanku dan aku sendiri nggak kebagian Bu A. Ikhlas. Bismillah. Aku pilih Bu C.
Ndak nyangka keputusan itu berkah. Selama beberapa bulan, teman-teman yang dosbingnya Bu A kerjanya ngeluuh mulu, yang ibunya susah ditemui, yang ibunya nggak baca draft, yang ibunya maunya nggak jelas. Satu semester itu, belum ada dari mereka yang kompre.
Aku dengan Bu C, entah bagaimana, alhamdulillah lancar sekali. Padahal ibunya bukan dosen psikologi pendidikan, tidak ngerti soal topik penelitianku (anti-materialisme), dan bukan ahli di bidang penelitian kualitatif. Kami agaknya “cuma” modal sama-sama saling percaya. Aku percaya beliau baik dan profesional, aku percaya aku sebagai mahasiswa bisa kerja baik.
Yang kusuka selama bimbingan adalah pada pertemuan pertama, waktu perkenalan, yang beliau lakukan adalah mengenal kemampuanku. Pikiran pingin cepat lulus dulu itu bikin aku awalnya pingin studi kuantitatif saja. Tapi, begitu tahu kemampuan bahasaku bagus dan berpengalaman studi kualitatif, ibunya langsung bilang, ini penelitian kualitatif saja. Sayang kemampuannya kalau tidak dipakai. *Surprised, amazed
 
Itulah hari pertama dari dua tahun perjalanan tesisku.
 
Yang kusuka lainnya adalah beliau tipe non-directive. Aku sendiri yang harus self-directive. Di kesempatan bimbingan berikutnya, beliau kadang cuma tanya, “Afif (beliau susah panggil Aftina), menurutmu yang perlu kamu lakukan apa? Menurutmu yang masih kurang apa?” Dan aku, entah bagaimana, bisa memaknai pertanyaan-pertanyaan itu bukan karena beliau tidak mengerti penelitianku, melainkan aku diberi KEBEBASAN.
 
*Memperingati hari ini dua tahun yang lalu, aku sedang sibuk sebar kuesioner ke 150 mahasiswa S1 karena njawab pertanyaan itu dengan: Saya butuh survei awal. Akibatnya, hari ini aku punya banyak teman anak S1🙂🙂🙂
 
3# Aktivitas-aktivitas akademikku di luar tesis
 
Entah bagaimana, Allah membuatku ikut macam-macam kegiatan akademik di luar tesis yang sangat membantu tesisku. Banyak mahasiswa sambil tesis jadi asisten perkuliahan, asisten penelitian dosen, asisten proyek di kampus, dan aku pun begitu. Persoalannya, tidak semua yang aktivitas itu mendukung tesisnya karena tidak ada hubungannya dengan kebutuhan tesisnya. Syukur Alhamdulillah, semua yang kupilih sejalan dengan kebutuhan tesisku.
 
PERTAMA, dulu sekali adalah jadi asisten perkuliahan di dua kelas. Di kelas pertama, biopsikologi, memang aku punya “ulterior motive” yang baik, ingin bisa mengenal dan akrab dengan Bu C yang jadi pengampunya. Banyak waktu-waktu bimbingan adalah setelah kuliah biopsi. Alhamdulillah. Kelas kedua adalah statistika, karena pingin belajar statistika. Di dua kelas itulah aku sebar kuesioner untuk studi awal. Benar-benar sangat membantu.
 
KEDUA, aku seperti sudah diberikan pertanda oleh Allah bahwa aku akan punya dua dosen pembimbing. Sedih sekali, ketika setahun tesis berjalan, Bu C meninggal dunia, dan akhirnya aku dibimbing oleh Bu D.
 
Hubunganku dengan Bu D unik sekali. Sejak workshop TP2T, aku sudah mendengarkan dan mematuhi petunjuk dan nasihatnya dalam membuat tesis. Yang membuatku akhirnya menemukan topik anti-materialisme: ketika disuruh baca banyak jurnal dan buat peta riset, aku benar-benar melakukan itu. Secara formal dosbingku Bu C, tetapi dalam hati, sudah ada Bu D.
 
Selama tahun pertama buat tesis, dengan Bu D, aku ketiban banyak pekerjaan bantu beliau penelitian. Awalnya cuma bantu cari jurnal, sampai ke review jurnal-jurnal, bantu analisis data, dan jadi partner beberapa riset. Yang terbesar adalah ketika empat bulan lamanya jadi asisten riset besar milik fakultas. Dari semua itu, entah bagaimana seperti aku dipersiapkan untuk melakukan tesisku sendiri (pertama tahu dan belajar NVivo di sini). Dan Bu D adalah pakar dalam konstruksi teori, yang sangat kubutuhkan ketika aku mulai masuk tahap analisis dan membangun konsep anti-materialisme. Waah, bersyukur sekali.
 
KETIGA, aktivitas-aktivitas di kampus berbayar😉🙂😀 Rezeki satu tahun bekerja bantu macam-macam di kampus bisa buat ikut dua seminar (nasional dan internasional), bisa buat beli software NVivo, dan bisa ikut Theory Building Training, tempat aku mendalami pendekatan grounded-theory yang jadi metode penelitianku. Subhanallah, waktu itu semua menyenangkan sekali dan pusat dari semua itu adalah tesisku. Ya, meskipun tesisku lama, tetapi semuanya tidak sia-sia.
 
4# Cita-cita menulis buku yang terkabul (in progress now🙂
 
Dulu, satu niat awal buat tesis kualitatif, ingin nanti bisa menjadikannya buku. Pingin kayak mahasiswanya Pak Bandi yang nulis buku Psikologi Santri Penghafal Al Quran.
 
Hal yang benar-benar mengejutkanku terjadi. Sehabis sidang tesis, Bu D bilang agar saya menemui beliau. Apa coba yang beliau sampaikan ketika saya menemuinya? “Tesismu dijadikan buku ya.” Dan beliau menunjukkan buku Psikologi Santri sebagai contoh.
 
LHO, ITU KAN YANG SELAMA INI DALAM IMPIAN SAYA!!!
 
*happy😀😀😀
 
5# Ujian tesis (nyaris) nol revisi
 
Serius. Habis ujian, hari itu juga, aku cuma butuh dua jam untuk membereskan kertas-kertas tesis yang dicoret-coret tanda dibaca saja.
 
Ini bukan karena aku luar biasa pintar. Habis seminar hasil perbaikanku setengah tesis sendiri, banyak sekali. Dan sebelumnya, selama buat tesis, aku sudah berjuang agar sebaik mungkin hasilnya. Subhanallah, alhamdulillah… revisi sedikit, waktu persiapan syarat-syarat wisuda bisa lebih cepat (Dua minggu pertama September ternyata aku sakit agak parah. Seandainya revisiku banyak, mungkin Oktober ini aku nggak wisuda.)
 
6# Profesor Tim Kasser (salah satu teoretikus utama materialisme) datang ke Indonesia😀😀😀 yang rasanya beliau datang “untukku”
 
Sungguh-sungguh ini keajaiban, hadiah terbesar dari Allah di akhir mengerjakan tesis dan juga di akhir jadi mahasiswa.
 
Tesisku banyak menyitasi artikel-artikelnya. Bukunya “High Price of Materialism” sudah kubaca habis! Terakhir, ketika masuk tahap revisi bab pembahasan, ada satu artikelnya yang aku butuh, artikel terbarunya. Sayang sekali, artikel itu berbayar dan waktu itu aku belum tahu sci-hub.io (academic pirate). Aku memberanikan diri menghubungi Tim Kasser langsung, dan sungguh tidak terduga apa balasannya. Intinya: “Saya September 2016 ini ada rencana ke Singapura. Jika boleh, saya ke UGM untuk kasih seminar. Gimana?”
 
Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah
 
Ilmuwan idolaku datang ke Indonesia tanpa aku keluar uang sepeser pun. Memang akhirnya aku jadi Event Organizer untuk kuliah umumnya, dan ini benar-benar pengalaman baru. Aku nggak pernah berinteraksi dengan orang Amerika seperti ini. Kuliah umumnya benar-benar mengena di hati, ya karena semua pengalaman itu. Subhanallah…
 
Di akhir acara, Tim Kasser memberiku kenang-kenang, sebuah buku lain yang baru-baru ini ditulisnya. Ada tanda tangannya lengkap dengan “Thank you, Aftina.”
 
Salah, Pak. Saya yang “Big thanks, Mr!!!”😀
 
6# Akhirnya semua orang tahu isu materialisme
 
Pertama kali memulai penelitian tentang materialisme, jujur, aku rendah diri. Ini topik yang asing di psikologi, termasuk di antara dosen. Setiap teman bertanya aku meneliti apa, aku harus cerita panjang lebar dan itu pun aku tidak yakin mereka mengerti. Aku seperti jadi asing. Bahkan dengan pendekatan grounded-theory yang tidak gampang, rasanya benar-benar bekerja sendirian. Ya, karena itulah, pertolongan Allah benar-benar terasa dan rasanya manis sekali.
 
Dengan tesisku, sedikit artikel yang pernah kutulis tentang materialisme di kampus, dan yang paling besar, kuliah umum Tim Kasser, sekarang dosen, mahasiswa S1, S2, dan S3, tahu isu materialisme.
 
Aku tidak sendirian lagi memikirkan masalah ini. Bahkan seorang dosenku, Pak E, yang peduli pada masalah psikologi konsumen, denganku sama-sama merintis jaringan peneliti untuk studi materialisme dan nilai-nilai di Indonesia. Insya Allah masa depan akan baik.
 
Sekarang jika ditanya, tesisnya apa, hasilnya apa, aku bisa cerita banyaaak sekali. Rasa puasnya tidak hilang, padahal tesis sudah selesai sejak Juli lalu. Rasa bermaknanya tidak hilang dan tidak tersaingi oleh macam-macam percapaianku yang selama jadi mahasiswa. Rasa bersyukurnya juga tidak habis-habis…
 
Rasanya ada jalan terbuka untuk lanjutkan studi. Ingin melanjutkan penelitian tentang materialisme lagi. Insya Allah, dengan pertolongan Allah, bisa🙂
 
7# Waktu wisuda
 
Kayaknya aku buat rekor deh hehe. Di wisuda S1 jadi wakil mahasiswa kasih sambutan, di wisuda S2 pun lagi! Dan masih tetap parah. Kelemahanku memang di public speaking. Parah.
 
Dari awal jadi mahasiswa S2 memang sudah ada perasaan, kayaknya, dengan kecenderunganku, bisa-bisa aku kasih sambutan lagi. Jadi, sejak awal sudah sengaja ngerem biar IPK-nya nggak jadi yang paling tinggi. Nilai-nilai yang B itu tidak kuulang.
 
Allah mengabulkan keinginanku yang satu ini😀 Cukup jadi yang nomor dua paling baik di periode ini berhasil menyelamatkanku dari jadi wakil wisudawan untuk pidato di universitas. Allah menolongku! Subhanallah, aku selamat.😀😀😀 AKU SELAMAT😀😀😀 AKU SELAMAAAAAT!
 
Cukup di fakultas saja ahaha. Dulu yang waktu S1, juga terhindar dari yang pidato di universitas. AHAHA.
 
Ya cuma, waktu itu, sambil memandangi podium, jadi membayangkan, akankah ada kesempatan aku akhirnya jadi orang dan layak berdiri di sana untuk bicara pada banyak orang? Saat itu, tentu saja aku harus sudah mengatasi ketakutanku bicara di depan banyak orang. Semoga, dengan pertolongan Allah.
 
~ fin
 
*Syukur, alhamdulillah, ya Rabb. Bismillah, hamba ingin sekolah lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s