Ilmu tentang Gerak Hati (Kathir): Satu Pokok dalam Ilmu an-Nafs (Psikologi Islami)

Sedikit pengantar:

 

Hati manusia adalah adalah misteri kehidupan paling besar. Kita yang belajar psikologi akan tahu bahwa hampir-hampir tidak pembahasan tentang hati manusia di dalam literatur-literatur psikologi modern. Ada konsep tentang “human heart” dan pada kenyataannya orang pun banyak membicarakan tentang their heart, tetapi tidak ada teori yang berhasil menyelami hati sebagai entitias yang immaterial dalam diri manusia. Fakultas-fakultas jiwa manusia terbatas pada kognisi, afeksi, dan konasi, dan itu tidak memuaskan untuk menjawab pertanyaan yang universal:

 

Dari mana asal (titik mula pertama) kebaikan dan kejahatan diri manusia, dan bagaimana itu terjadi? Di mana tempat rasa bahagia dan menderita, rasa puas dan kecewa, gembira dan sedih? Bagian mana dari jiwa kita yang merasakan itu, sebagaimana kita tahu bahwa rasa lapar yang melilit itu terletak di perut? Lalu, bagaimana dengan inner voice kita? Apakah itu hanya otak kita? Siapakah yang terus-menerus bertarung dalam diri kita itu, ketika kita mengambil keputusan atau dihadapkan pada permasalahan yang berkaitan dengan moral dan etika?

 

Hati kita adalah diri kita, begitu dekat dengan diri kita, tetapi terasa begitu jauh karena kita tidak memahaminya, kita tidak mengenalnya, padahal kita tahu ia ada.

 

Saya terus menyimpan persoalan ini, dan selama itu pun jawaban pertanyaan-pertanyaan ini misteri. Saya berjalan pelan-pelan untuk sedikit demi sedikit mengungkapnya, mulai dari mencoba meneliti diri sendiri dan membaca literatur-literatur tasawuf. Perkembangan bagus terjadi tadi malam ketika saya membaca salah satu buku Imam Al-Ghazali, “Minhajul Abidin”, dan saya mendapatkan pengetahuan yang benar-benar baru bagi saya tentang gerak-gerak hati, bahwa hati manusia pun berperilaku dan perilakunya menentukan perilaku lahiriah kita. Saya sangat bersyukur kepada Allah. Berikut ini saya menuliskan bagian buku yang membahas dengan komprehensif persoalan gerak-gerak hati manusia. Bagi saya, ini sangat bermakna, karena menjelaskan Al Quran pada ayat yang selama ini menyentuh hati saya:

 

“… dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya kedurhakaan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (91: 7-10)

 

Tidak ada penyucian jiwa tanpa pemahaman kita tentang hati kita sendiri. Jiwa pun terus kotor, ketika kita abai pada hati kita sendiri. Ketika dikatakan bahwa “hati manusia adalah kuil Tuhan”, maka pemahaman akan hati tidak bisa tidak dilakukan tanpa iman. Ketika kita memahami benar-benar hati kita, rasanya keberadaan Tuhan bertambah terang. Tuhan tidak “berbicara” pada kita melainkan lewat hati kita. Subhanallah…

 

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya, rahmat dan keselamatan kepada kita.
***

 

Hati manusia itu beraktivitas pula; gerak hati dinamakan “kathir“. Asal timbulnya “kathir” adalah Allah yang menugasi di hati anak keturunan Adam satu malaikat yang mengajak berbuat kebaikan. Malaikat itu bernama malaikat Mulhim dan ajakannya disebut ilham. Untuk mengimbangi malaikat Mulhim ini, Allah juga memberi kuasa setan yang mengajak anak keturunan Adam untuk berbuat jelek. Setan itu bernama setan Waswas dan ajakannya disebut waswasah. Jadi, malaikat Mulhim pasti mengajak manusia pada kebaikan, sedangkan setan Waswas mengajak manusia berbuat jelek.

 

Setan itu kadang-kadang mengajak berbuat baik, tetapi maksudnya jelek. Umpamanya: setan mengajak manusia untuk melakukan perbuatan utama yang masih berada di bawah tingkatan perbuatan lain, atau mengajak manusia berbuat baik dengan maksud menarik manusia itu kepada dosa besar, di mana kebaikannya tidak seimbang dengan kejelekan yang diperbuat, seperti: ujub, riya’, dan sebagainya.

 

Dua makhluk ini selalu bertempat di hati manusia. Sementara itu, manusia bisa merasakan pendengaran hatinya terhadap ajakan-ajakan itu. Hal ini sesuatu dengan sabda Rasul:

 

“Apabila anak keturunan Adam dikaruniai anak, maka Allah menyertakan pada anak itu satu malaikat dan juga menyertakan satu setan. Setan bertengger pada telinga hati manusia yang sebelah kiri dan malaikat bertengger pada telinga hati manusia yang sebelah kanan. Lalu keduanya selalu mengajak manusia tersebut.”

 

“Setan itu mempunyai tempat di hati anak keturunan Adam dan malaikat juga mempunyai tempat.”

 

Kemudian Allah mengisikan pada raga manusia, watak yang condong pada kesenangan-kesenangan dan memperoleh kelezatan-kelezatan yang bagaimana pun bentuknya, baik (halal) atau buruk (haram). Watak inilah yang disebut hawa nafsu yang selalu memalingkan manusia kepada berbagai kerusakan. Jadi, di dalam raga manusia terdapat tiga unsur yang selalu mengajak.

 

***

 

2#

 

Ketahuilah bahwa gerak-gerak hati itu adalah bekas-bekas yang timbul di dalam hati seseorang, yang mendorongnya dan mengajaknya untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Bekas-bekas ini disebut “kathir”, karena berubah-ubahnya hati. Semua “kathir” yang timbul di hati seseorang itu sebetulnya dari Allah Ta’ala. Hanya saja, kathir-kathir ini ada empat macam:

 

1) Kathir yang ditimbulkan oleh Allah Ta’ala di dalam hati pada permulaan. Kathir semacam ini hanya disebut “kathir” saja.

 

2) Kathir yang diadakan Allah sesuai dengan watak manusia. Kathir ini dinamai “hawa nafsu” dan dibangsakan kepada nafsu itu.

 

3) Kathir yang diwujudkan Allah Ta’ala sesudah adanya ajakan malaikat Mulhim. Kathir ini disebut “Kathir Ilham” atau “Kathir Malakiy”, juga disebut “ilham”.

 

4) Kathir yang ditimbulkan oleh Allah Ta’ala sesudah adanya ajakan setan. Kathir ini disebut “Kathir Syaithaniy” atau “waswasah”. Dinamakan demikian sebab waswasah itu gerak hati yang datang dari setan. Tetapi, sebenarnya kathir ini timbul sesudah adanya ajakan dari setan, sehingga seolah-olah setan yang menyebabkan timbulnya kathir ini.

 

Sesudah anda mengetahui macam-macam kathir ini, perlu pula anda ketahu bahwa kathir yang timbul pertama kali dari Allah Ta’ala itu kadang-kadang mengajak kepada kebaikan, sebagai kemuliaan dan menetapkan hujjah atas seseorang. Tetapi, kadang-kadang juga mengajak kepada kejelekan, untuk menguji dan memberatkan ujian kepada seseorang.

 

Kathir yang datang dari malaikat Mulhim pasti mengajak kepada kebaikan, karena malaikat Mulhim selalu memberikan nasihat dan menunjukkan laku baik. Dia hanya ditugaskan untuk itu. Sedangkan kathir yang datang dari setan tentu mengajak kepada kejelekan, guna menyesatkan manusia atau agar manusia terpeleset. memang kadang-kadang mengajak kebaikan, namun maksudnya hanyalah hendak menipu. Sementara itu, kathir yang datang dari hawa nafsu selalu mengajak kepada kejelekan yang sama sekali tidak ada kebaikannya, demi mencegah kebaikan dan agar orang menyimpang. Hawa nafsu itu kadang-kadang juga mengajak kepada kebaikan, tetapi maksudnya adalah supaya orang berbuat jelek. Sama saja dengan setan.

 

***

 

3#

 

Anda harus mengerti pula bahwa anda tentu butuh mengetahui tiga pasal yang di dalamnya anda bakal menemukan apa yang anda tuju. Tiga pasal itu ialah:

 

1) Perbedaan antara kathir baik dan kathir jelek secara global

 

Mengetahui perbedaan kathir baik dan kathir jelek dapat dilakukan dengan mengukurnya dengan salah satu dari empat ukuran, niscaya akan kelihatan keadaan kathir itu bagimu. Empat ukuran itu ialah:

 

Pertama kali gerak hati di anda itu hendaknya disodorkan kepada hukum agama. Kalau jenisnya cocok dengan laku agama, maka kathir itu baik. Jika tidak cocok dengan jenis laku agama, sebab rukhshah (kemurahan,peringanan) atau syubhat (tidak jelas hukumnya), maka kathir itu jelek.

 

Apabila dengan ukuran ini belum bisa jelas hukumnya, hendaknya anda sodorkan kepada panutan orang-orang shalih. Kalau ada di antara orang-orang shalih melakukan apa yang menjadi tuntutan kathir itu, maka kathir itu kathir baik. Sebaliknya, jika yang melakukan tuntutan kathir itu orang jahat, maka kathir itu kathir jelek.

 

Manakala dengan ukuran ini pun belum bisa jelas, hendaknya anda sodorkan nafsu dan kesenangannya. Perhatikan. Jika nafsu enggan mengerjakan lantaran watak nafsu itu sendiri, bukan karena takut kepada Allah, maka kathir itu kathir baik. Kalau nafsu senang kepada kathir ini karena wataknya, bukan demi mengharap rahmat Allah, maka kathir itu kathir jelek. Sebab, nafsu itu selalu mengajak berbuat jelek, sama sekali tidak suka pada kebaikan.

 

Dengan menggunakan salah satu ukuran tersebut di atas apabila anda mau merenungkan dan memusatkan perhatian, niscara akan jelas mata kathir yang baik dan mana kathir yang jelek.

 

2) Perbedaan antara kathir jelek: yang timbul dari permulaan (ibtidaiy), yang datang dari setan (syaithaniy), dan yang datang dari hawa nafsu (hawaiy/ nafsiy), serta bagaimana cara membedakan tiga kathir tersebut? Karena masing-masing bisa menolak yang lain.

 

Untuk membedakan kathir-kathir jelek dari mana asalnya, maka perhatikan kathir itu dari tiga segi:

 

Pertama, jika engkau dapati kathir itu kokoh dan tetap pada suatu keadaan, teranglah bahwa kathir itu dari Allah atau dari kesenangan nafsu. Kalau kathir itu senantiasa bergolak dan berubah-ubah, maka kathir itu dari setan.

 

Orang-orang shalih berkata, “Perumpamaan hawa nafsu itu bagaikan macan tutul. Kalau sudah menyerang, tidak mau mundur bila tidak ditubruk dengan keras dan digempur habis-habisan. Atau bagaikan orang Kharijiy (pemberontak) yang berperang demi membela pendapatnya mengenai agama, tidak mau mundur sebelum terbunuh. Sedangkan setan seperti serigala, jika anda mengusirnya dari satu arah, ia akan masuk dari arah lain.”

 

Kedua, apabila kathir itu muncul setelah anda melakukan dosa, maka kathir itu merupakan pengkhianatan dan siksa dari Allah Ta’ala, lantaran buruknya dosa yang anda perbuat.

 

Allah berfirman, “Sekali-kali tidak demikian! Bahkan telah berkarat pada hati mereka, oleh sebab apa yang telah mereka perbuat.”

 

Guru Al-Ghazali, Imam Abu Bakr Al-Warraq berkata, “Demikianlah buruknya dosa! Dosa itu bisa mendatangkan kekerasan hati. Semula hanya kathir, kemudian mendatangkan kekerasan hati dan akhirnya berkarat.”

 

Jika kathir ini di permulaan, bukan sesudah berbuat dosa, maka kebanyakan kathir itu dari setan. Karena, kathir itu mulanya mengajak kejelekan dan kesesatan pada keadaan yang bagaimanapun.

 

Ketiga, apabila kathir tidak dapat lunak dan tidak menjadi sedikit serta tidak bisa hiang dengan dzikir kepada Allah, maka kathir itu dari hawa nafsu. Kalau kathir itu dapat melunak dan berkurang sebab dzikir Allah, maka kathir itu dari setan, sebagaimana disebut dalam QS An Nas.

 

Setan itu bertengger di hati anak Adam. Manakala anak Adam itu berdzikir kepada Allah, maka setan mundur. Jika anak Adam lupa, setan kembali mengganggu.

 

3) Perbedaan antara kathir baik: kathir ibtidaiy atau ilhamiy atau Syaithaniy atau hawaiy, agar dapat mengikuti kathir yang datang dari Allah (kathir rahmaniy) atau dari Mulhim dan menjauhi kathir dari setan.

 

Untuk membedakan kathir-kathir baik dan dari mana asalnya, perhatikan itu dari tiga segi: 
Pertama, hendaknya anda perhatikan, jika kathir itu kuat dan kukuh, teranglah kathir itu dari Allah Ta’ala. Tetapi, kalau kathir itu mondar-mandir, maka kathir itu dari malaikat Mulhim. Karena, malaikat Mulhim itu kedudukannya seperti penasihat, sedangkan ia masuk dari segala arah dan menyodorkan petuah baik kepada anda, karena mengharap perkenan dan kesenangan anda terhadap kebaikan.

 

Kedua, apabila kathir itu sesudah ijtihad dan taat anda, maka ia adalah dari Allah Ta’ala. Allah berfirman, “Orang-orang yang berjuang (melawan nafsu) karena mencari keridhaan-Ku, tentu Aku menunjuki Jalan-Ku kepada mereka.” “Orang-orang yang memperoleh petunjuk itu akan ditambahi petunjuk oleh Allah.”

 

Kalau kathir itu datang pada permulaan, maka kathir itu menurut kebiasaan adalah dari malaikat.

 

Ketiga, kalau kathir itu ada hubungannya dengan itikad dan amal-amal batin, maka kathir itu dari Allah. Jika berkaitan dengan amal-amal dhahir (lahiriah yang tampak), maka kathir tersebut dari malaikat Mulhim. Karena, malaikat Mulhim itu tidak mengetahui apa yang ada di hati manusia, menurut pendapat sebagian ulama.

 

Adapun kathir baik yang datang dari setan, adalah karena hendak menarik kepada perbuatan jelek, supaya anak keturunan Adam semakin banyak kejelekannya.

 

Guru Al-Ghazali, Abu Bakr Al-Warraq berkata, “Perhatikanlah! Jika nafsumu dalam menghadapi perbuatan yang tergerak di dalam hatimu itu bertindak dengan giat, tidak merasa takut salah, terburu-buru, tidak mau pelan-pelan, merasa aman, tidak merasa khawatir, buta terhadap akibatnya, tanpa ada kewaspadaan sama sekali, maka kathir tersebut adalah dari setan. Karena itu, jauhilah! Kalau anda mendapati nafsu anda sebaliknya dari yang tersebut itu, yakni: diliputi rasa takut/ tidak bisa giat, lamban, tidak tergesa-gesa, khawatir, tidak merasa aman, waspada terhadap akibat dan tidak buta, maka ketahuilah bahwa kathir itu dari Allah atau dari malaikat Mulhim.”

 

Seakan-akan “giat” itu rasa enteng pada manusia ketika hendak berbuat, tanpa kewaspadaan dan mengingat ganjaran yang menggiatkan dalam perbuatan. “Perlahan-lahan” itu terpuji, kecuali pada tempat-tempat tertentu yang bisa dihitung. Sabda Nabi:

 

“Tergesa-gesa itu dari setan, kecuali dalam lima tempat: 1) Menikahkan anak perempuan perawan ketika telah mencapai umur (baligh), 2) Membayar hutang apabila sudah sampai waktunya untuk membayar, 3) Menyelenggarakan jenazah kalau memang sudah nyata-nyata mati, 4) Menyuguh tamu jika memang benar-benar menjadi tamu, dan 5) Taubat dari dosa tatkala melakukan dosa.”

 

“Takut” itu boleh jadi ada hubungannya dengan perkara yang dapat menyempurnakan amal dan penunaiannya sebagaimana mestinya, atau boleh jadi ada sangkut-pautnya dengan penerimaan Allah.

 

“Kewaspadaan terhadap akibat”, yaitu orang yang mempunyai kathir itu mawas dan meyakini bahwa amal yang hendak diperbuat itu benar dan baik. Dan boleh jadi karena memandang pahala Allah di akhirat dan mengharapkannya.

 

***

 

Itulah tiga pasal yang harus anda ketahui mengenai berbagai kathir. Peliharalah dan pusatkanlah perhatian kepada tiga pasal tersebut sekuat-kuatnya, karena tiga pasal tersebut termasuk ilmu yang lembut dan rahasia agama yang mulia. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya.

 

Sumber: “Minhajul Abidin” Al-Ghazali, bab ‘Aqabatul ‘Awaiq, h. 82-89

 

PS: Tinggal tantangannya, bagaimana membawa ini ke dalam khazanah psikologi modernđŸ˜‰ Bismillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s