Membangun Teori Psikologi yang Islami

Sedikit pengantar:

Alhamdulillah, Jumat kemarin (4/11) diberi Allah kesempatan untuk mengikuti workshop pra konferensi internasional IAMP (International Association of Muslim Psychologists). Ada beberapa workshop, tetapi saya memilih “Islamic theory building” yang dibawakan oleh Pak Bagus Riyono dari UGM. Kegiatan workshop itu sendiri memberikan banyak insights, tetapi di luar itu ada diskusi yang kemudian saya lakukan dengan teman-teman saya yang membuat saya lebih memahami duduk persoalan terkait pengembangan teori-teori psikologi yang Islami. Apa yang saya tulis kali ini lantas bukan sekadar laporan isi workshop, melainkan pula pemahaman-pemahaman lain yang saya dapatkan dari diskusi. Semoga tulisan ini bermanfaat dan silakan bagi para pembaca yang ingin memberikan masukan ataupun koreksi🙂

***

1# Fakta, Teori, Kebenaran

Tidak dapat disebut Psikologi Islam atau bahwa psikologi itu Islami sampai para ilmuwannya mampu membangun teori-teori psikologi yang Islami. Adapun yang dimaksudkan dengan Islami adalah ketika teori-teori tersebut bersumber dari Al Quran maupun hadist nabi serta pemikiran para ulama Muslim (mungkin berupa teori baru), atau jika teori-teori yang ada saat ini tidak bertentangan atau bahkan membenarkan apa yang ada dalam Al Quran sehingga meneguhkan kebenaran Al Quran. Itulah teori-teori psikologi yang Islami: 1) teori-teori yang bersumber dari Al Quran dan Hadist serta pemikiran ulama (original theory of Islamic psychology) dan 2) teori-teori psikologi yang tidak bertentangan/ membenarkan ajaran Islam (Islamized theory of psychology).

Sebelum berupaya membangun teori psikologi yang Islami, perlu disadari bahwa ada banyak persoalan yang dihadapi baik para mahasiswa psikologi, ilmuwan psikologi itu sendiri, serta para praktisi Muslim. Saya membagi persoalan tersebut menjadi dua, yakni: persoalan filosofis dan persoalan mentalitas. Saya akan memulai dari yang pertama, persoalan filosofis di balik Islamic theory building.

Setidaknya ada lima pertanyaan yang harus terlebih dahulu mampu dijawab sebelum teori-teori yang Islami dikembangkan. Pertama, apa itu teori? Kedua, apakah kita (Muslim) butuh teori? Ketiga, apa maksudnya ketika dikatakan bahwa “Islam saja sudah cukup”? Keempat, apakah sains bertentangan dengan iman? Dan kelima, bisakan teori-teori diformulasikan dari Al Quran?

Sebagian orang (Muslim yang mempelajari psikologi) tidak memahami apa itu teori padahal sehari-hari ia berkutat dengan teori. Mereka mencampuradukkan pengertian antara fakta, kebenaran, dan teori. Di antara banyak kesalahpahaman adalah pendapat bahwa teori adalah kebenaran, sehingga kemudian banyak orang yang bersikap berlebihan dan memperlawankan teori (sebagai juru bicara sains) dengan agama ketika teori tidak menggambarkan ajaran agama, menganggap teori-teori tersebut ancaman bagi keimanan, menolaknya, dan bahkan mengharamkan pembelajarannya demi membela agama dan melindungi keimanan.

Penting untuk diketahui bahwa sebuah teori hanyalah sekadar “sejumlah asumsi atau konsep-konsep yang berperan menolong penalaran logis-deduktif untuk menjelaskan bagaimana dunia ini bekerja atau mengabstraksi fakta atau kejadian-kejadian dalam kehidupan”. Dengan bantuan teori, seorang ilmuwan dapat memformulasikan dan menguji berbagai hipotesa, melakukan penelitian yang sistematis, mendeskripsikan aneka fakta dan kejadian, dan memprediksi apa yang kemungkinan dapat terjadi dengan memperhitungkan anteseden dan konsekuensi yang telah diketahui. Teori adalah alat sains untuk mendekati dan memahami kebenaran, tetapi teori itu sendiri belum berarti adalah kebenaran.

Fakta dan teori tidak selalu berkaitan, mencerminkan, atau adalah benar. Tetapi kebenaran adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan di mana pun dan kapanpun. Kebenaran adalah sesuatu yang diterima sebagai universal dan tak lekang oleh waktu. Kebenaran adalah sesuatu yang orang-orang terdahulu, saat ini, dan kemudian akan memiliki kesimpulan yang sama. Kebenaran lebih besar dari sains, tetapi sains adalah salah satu jalan untuk mencapainya bersama dengan agama. Sains membantu manusia menemukan kebenaran dari menyelidiki fakta yang terjadi di atas bumi, sementara agama membantu manusia menemukan kebenaran dari khazanah Ilahi.

Kebenaran yang sesungguhnya adalah ketika ilmu dan iman menjadi sahabat baik, sains dan agama saling tolong-menolong. Oleh karena itulah dikatakan bahwa “a true scientist is the happy one; because he understands the Truth and that Truth touches his heart and guides him to God.” Ia menemukan Kebenaran sebagai sesuatu yang utuh (non-partial), tidak terpisah-pisah atau saling berkontradiksi antara apa yang disaksikannya dengan indera, apa yang dinalarnya dengan akal yang jernih, apa yang dibisikkan hatinya, dan apa yang ditemukannya dalam firman-firman Ilahi di Kitab Suci.

Beberapa orang India menaruh seekor gajar
di dalam ruangan gelap.
Karena tidak mungkin melihat gajah dalam kegelapan
orang-orang yang ingin mengetahui
binatang luar biasa ini harus merabanya
dengan tangan mereka.

Orang pertama masuk ke ruangan gelap itu
dan meraba belalai gajah dan menyatakan,
“Makhluk ini adalah seperti pipa air.”

Orang berikutnya meraba telinga gajah
dan menegaskan,
“Tidak. Ia seperti sebuah kipas raksasa.”

Orang ketiga meraba kaki gajah
dan mengatakan,
“Salah itu. Binatang ini menyerupai tiang.”

Orang keempat merasai punggung gajah
dan menyimpulkan,
“Salah sama sekali. Ia seperti singgasana.”

Sudut pandang yang berbeda
melahirkan pendapat yang berbeda-beda.
Bila seseorang membawa masuk lilin,
mereka semua tentu
merasa seperti orang-orang bodoh.

— Rumi, “Matsnawi”

***

2# Jiwa Seorang Muslim dan Pelajaran Al Quran

Persoalan kedua yang dihadapi sebelum berusaha mengembangkan teori adalah ketidakpercayaan diri bisa mendapatkan “sesuatu” dari Al Quran. Ada satu keprihatian yang besar ketika banyak Muslim merasa dirinya tidak berkompeten untuk menerima pengajaran Tuhan lewat Al Quran. Pertanyaan “apakah bisa teori diformulasikan dari Al Quran?” tidak akan terjawab sampai seseorang bisa menghadapi pertanyaan “apakah diri bisa belajar dari Al Quran?”

Sebagian Muslim terjebak dalam gagasan “Islam sudah cukup” sehingga mereka antipati pada sains. Namun demikian, sebagian lainnya yang berhasil menerima sains dan ingin mengembangkan psikologi Islami pun terjebak dalam gagasan “saya belum cukup alim untuk bisa mengungkap sesuatu dari Al Quran. Saya tidak bisa bahasa Arab, saya tidak menguasai tafsir, saya tidak tahu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu Qurani lainnya. Saya merasa nol besar, dan sungguh berat untuk memulai sesuatu dari nol. Membangun teori psikologi Islami tidak mungkin bagi saya.”

Tidak salah jika dikatakan ada persoalan mentalitas dan kesiapan di sini; bukan karena tidak memiliki keahlian untuk melakukan penelitian, tetapi ketidakpercayaan diri menghadapi Al Quran. Bersama dengan keyakinan bahwa membangun teori itu sulit, ada pula keyakinan bahwa mempelajari Al Quran itu sulit dan butuh berbagai macam syarat kemampuan untuk mengungkap kebenaran di dalamnya. Banyak Muslim tidak berani berusaha memahami Al Quran-nya, karena merasa diri bukan kaum ulama, bahkan merasa diri belum cukup Islami.

Di antara mereka yang berani berusaha pun tidak jarang dihantam tantangan dari rekan-rekan mereka yang merasa inferior, yang menakut-nakuti, “Daripada nanti nanti salah dan dosa, lebih baik jangan memikirkan Al Quran. Itu pekerjaan kaum cendekia, kita mengikuti saja. “ Atau, “Akal manusia itu terbatas, kita tidak mungkin bisa memahami Al Quran.” Atau, “Boro-boro memahami Al Quran, satu ayat saja butuh berhari-hari bahkan bertahun-tahun untuk dipahami maksudnya. Ulama saja butuh bertahun-tahun, apalagi kita yang cuma orang biasa.”

Perkataan-perkataan seperti di atas adalah salah dan sama sekali tidak memiliki dasar dalam ajaran Qurani. Orang-orang semacam itu berkata seperti itu karena tidak baik-baik membaca Al Quran, bahwa Allah sendiri berfirman berulang-ulang, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17, 22, 32, 40, 51) dan berulang-ulang kali pula agar manusia menggunakan akal pikirannya.

Jawaban atas berbagai pertanyaan kehidupan ada dalam Al Quran dan Al Quran itu mudah dipelajari. Prasangka-prasangka tentang Al Quran-lah yang membuat ia seakan sulit untuk dipelajari. Keyakinan seorang Muslim seharusnya adalah bahwa Allah menjadikan Al Quran mudah untuk dipelajari. Meski demikian, hal itu bukan berarti pembenaran untuk sikap meremehkan. Seseorang dapat berusaha mencari kebenaran atau hidayah, tetapi Kebenaran itu sendiri adalah pemberian (hadiah) Tuhan. Ia berada di luar daya dan upaya (termasuk luasnya pengetahuan, kompetensi, pengorbanan, dan kerja keras) manusia. Kebenaran adalah sesuatu yang menundukkan manusia, bukan ditundukkan oleh manusia. Banyak kejadian orang telah menguasai banyak ilmu agama dan keahlian, tetapi Al Quran tak memberinya apa-apa; tetapi ada orang-orang yang tulus ingin bertakwa, Tuhan Memberinya pemahaman Al Quran.

“The path to the Truth is not the true knowledge, but the cleanliness of your heart.” Pembelajaran Al Quran selain dilakukan dengan keimanan, juga dengan kesabaran dan hati yang bersih. Al Quran tidak dapat didekati dengan arogansi (termasuk merasa tidak perlu belajar dari yang lebih tahu), sifat ego-sentris, dan keinginan memperoleh keuntungan duniawi dari mempelajarinya (kekayaan material, popularitas, kekuasaan, dan sebagainya). Seorang ilmuwan Muslim adalah pembelajar Al Quran yang penuh iman, sabar, dan ikhlas. Oleh karena itu, menjadi seorang ilmuwan Muslim pada dasarnya adalah tentang menjadi seorang Muslim yang lebih baik.

***

3# Teknis Islamic Theory Building

Membangun teori yang Islami dari Al Quran pada dasarnya berkenaan sensitivitas dan kemampuan seorang Muslim memetik pemahaman atau pelajaran yang berharga secara psikologis (psychologically significant) dari ayat-ayat Al Quran. Hal yang pertama harus dilakukan adalah: mau membaca Al Quran, sekalipun tidak menguasai bahasa Arab. Bacalah terjemahan Al Quran itu, bacalah tafsir-tafsir mengenai itu, tanyalah pada ulama pada poin-poin yang tidak dimengerti. Tampaknya sesederhana itu, tetapi membaca di sini bukan “membaca begitu saja/ sambil lalu”, melainkan membaca dengan perenungan, dengan menangkap pesan-pesan utama ayat, dan menafsirkannya secara psikologis. Kita membaca Al Quran seakan-akan kita membaca transkrip wawancara. Ketika membaca Al Quran, kita menempatkan diri sedang berdialog dengan Tuhan. Firman-firman-Nya adalah “data” kita.

Dalam workshop kemarin terdapat sesi praktik “menarik pelajaran psikologi” dari Al Quran, tepatnya dari QS Ad Dhuha. Pertanyaannya: pelajaran tentang motivasi seperti apa yang bisa diperoleh dari kedua surat tersebut. Saya akan memberikan gambaran singkat bagaimana sesi tersebut berlangsung.

Pertama, memahami terlebih dahulu asbabun nuzul (sebab turunnya surat). Asbabun nuzul tersebut memberikan pengetahuan tentang konteks di seputar ayat dan sebab mengapa ayat tersebut turun. Dalam kasus QS Ad Dhuha, surat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan dan hinaan yang dilontarkan oleh kaum kafir Mekah yang menganggap bahwa Rasulullah sudah tidak dipedulikan lagi oleh Tuhan, sebab Nabi Muhammad sudah lama tidak menerima wahyu kenabian. Secara psikologis, kita dapat memahami “membayangkan” bahwa situasi itu sangat menekan (stressful) bagi Nabi, membuat Nabi kebingungan, bersedih, dan putus asa. Keadaan seperti ini secara umum dialami oleh semua orang yang diuji Allah dengan kesulitan-kesulitan hidup. Ketika seakan-akan Allah tidak lagi menyayangi kita karena hanya memberikan kita kesusahan demi kesusahan, Allah berfirman seperti dalam QS Ad Dhuha.

Kedua, menganalisis dengan teknik grounded-theory (open coding, focused coding). Contoh sederhana:

Ayat Open Coding (Unit Makna) Focused Coding (Inti/ Kata Kunci)
Demi waktu matahari sepenggalahan naik Adalah metafora “habis gelap terbit terang”, kemudahan ada setelah kesulitan, di tengah kesulitan apapun ada harapan hari esok lebih baik  
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu. Tuhan tidak meninggalkan

Tuhan tidak membenci

Keyakinan: Tuhan tidak zalim
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) Akhir lebih baik daripada awal Mindset positif (terkait masalah): Optimisme
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. Tuhan memberikan karunia

Tuhan menjadikan puas

Keyakinan: Tuhan itu Rahman
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Tuhan melindungi (dari kesendirian)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Tuhan memberi petunjuk (ketika kebingungan)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Tuhan memberi kecukupan (ketika kekurangan)
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Larangan perilaku sewenang-wenang Perilaku (cara hidup): tidak zalim pada orang lain (berbuat baik) & hidup bersyukur
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Larangan menghardik orang lemah
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Perintah untuk bersyukur

Ketiga, mencoba memahami temuan secara psikologis (gunakan kacamata psikologi). Orang-orang dapat berlainan pendapat, tetapi bagi saya, QS Ad Dhuha tidak hanya memuat teori motivasi yang Islami, tetapi juga membahas soal resiliensi atau ketangguhan dalam menghadapi kesulitan hidup. Untuk bisa tangguh menghadapinya, seseorang perlu:

  1. Memiliki keyakinan dan kepercayaan positif pada Tuhan bahwa: 1) Tuhan tidak zalim, sekalipun Ia memberikan ujian, 2) Tuhan Maha Penyayang, yang terus memberikan karunia, kepuasan, perlindungan, petunjuk, dan kecukupan terkait pemenuhan kebutuhan hidup
  2. Memiliki mindset yang optimistis terkait kesulitan yang dihadapi: 1) akhir itu akan lebih baik dari awal
  3. Fokus menjalani cara hidup yang positif: 1) berbuat baik kepada orang lain, 2) senantiasa bersyukur (mengingati anugerah Tuhan dan berterima kasih)

Temuan di atas adalah sebuah teori yang melahirkan berbagai hipotesis untuk diuji lewat berbagai penelitian, ataupun dibahas dengan teori-teori psikologi yang sudah ada, misalnya kaitan antara religiositas, resiliensi, dan coping stress, peran optimisme dan harapan, peran kebaikhatian dan kebersyukuran. Namun, selain itu, temuan tersebut juga mengandung tantangan bagi teori psikologi saat ini yang sifatnya condong mementingkan individu dan ego-sentris.

Dalam pembahasan bersama Pak Bagus Riyono, surat ini menganjurkan bahwa fokus hidup seseorang seharusnya adalah syukur (gratitude to God) dan berbuat baik pada sesama manusia (be kind to others). Namun demikian, dalam realitas kehidupan, masyarakat cenderung untuk mengutamakan fokus-fokus yang hedonistik dan materialistis, seperti ingin hidup yang menyenangkan dan berlimpah kekayaan material. Dalam acara-acara motivasi, yang berulang-ulang diperdengarkan adalah bagaimana menjadi orang “sukses” dalam arti yang hedonistis-materialistis, bukan takwa (be kind and thankful). Dua hal ini adalah cara hidup yang membantu seseorang menghadapi kesulitan hidupnya dan mencapai kebahagiaan, bukan dengan mengejar kesuksesan.

Apakah temuan (teori Islami) ini adalah Kebenaran? Agaknya adalah ya. Dalam khazanah psikologi positif, Martin Seligman mengemukakan tentang tiga dimensi kebahagiaan: 1) pleasant life (bisa berdamai dengan masa lalu, optimis akan masa depan, hidup bahagia dan beremosi positif saat ini), 2) good life (memelihara enam kebajikan, yaitu: kebijaksanaan & pengetahuan, keberanian, rasa cinta & kemanusiaan, keadilan, ketenangan, dan spiritualitas; dan membangun kekuatan pribadi untuk mewujudkan enam kebajikan tersebut), dan 3) meaningful life (mampu menggunakan kebajikan diri untuk melayani hal-hal yang lebih besar dari diri/ tidak egoistis, seperti sesama manusia, memelihara lingkungan dan alam, dan mengabdikan diri pada Tuhan).

Jika diperhatikan, temuan dari Al Quran (teori original) dan temuan psikologi modern sangat sesuai. Dan perlu diketahui, persoalan ini pun telah dibahas berabad-abad yang lalu oleh filsuf Aristoteles. Antara pemikiran akal (filsafat), penelitian empiris sains psikologi modern, dan ajaran dalam Kitab Suci tidak bertentangan. Maka, di dalam pemahaman tentang kualitas-kualitas hidup yang menyenangkan, baik dan bermakna tersebut, terkandung Kebenaran. Semua orang dari segala zaman mengakuinya.

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa perjalanan membangun teori tentu tidak sesederhana yang dicontohkan di atas. Dalam “bertanya pada Al Quran”, seseorang perlu mawas diri dan tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia perlu berkonsultasi dengan ulama, tidak hanya satu ulama, melainkan berbagai ulama. Selain itu, ia pun perlu memeriksa kebenarannya pada kenyataan di lapangan dengan melakukan penelitian empiris. Teori yang bersumber dari Al Quran pun adalah buah karya pemikiran (konstruksi) manusia, karena itu tetap perlu diperiksa validitasnya. Jika teori tersebut mendapatkan kritik dan tantangan dari sana-sini, seorang ilmuwan Muslim tidak perlu marah dan merasa kritikan tersebut menghina agamanya. Ada saatnya hasil pekerjaan sains dipisahkan dari kebenaran agama yang absolut, meski keduanya idealnya berhubungan positif. Jika terdapat ketidaksesuaian, maka ilmuwan tersebut perlu memeriksa kembali temuannya dan proses kerjanya, bukan membela dirinya dan merasa sudah benar.

***

4# Yang Sekular dan yang Islami

Satu hal yang membuat psikologi Barat ditolak adalah karena sekularitasnya. Ini bersangkutan dengan persoalan worldview, cara pandang terhadap dunia dan bagaimana realitas diinterpretasi. Islamic worldview memiliki penekanan pada keberserahan diri pada Tuhan, “reliance to God”, tergambar dari keyakinan yang terkandung dalam syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya. Allah adalah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu; bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Sementara itu, psikologi modern yang sekuler cenderung memusatkan diri pada manusia. Bagi psikologi modern, diri manusia adalah penentu segalanya dalam hidupnya; “reliance to self as human”.

Worldview ini bagi seorang Muslim lebih dari sekadar teori ataupun paradigma sains yang membimbing generasi teori dan metodologi riset. Ini adalah perspektif yang melandasi Psikologi Islam, tetapi ia juga adalah jalan hidup dan etika bagi seorang ilmuwan Muslim. Apa yang disebut sebagai teori-teori Islami lantas bukan hanya teori-teori yang memiliki nama Islam (misal, teori motivasi Islami, teori pengasuhan Islami, teori kepribadian Islami) atau teori-teori yang membahas topik-topik yang Islami (misal, syukur, sabar, tawakkal, dan sebagainya), tetapi juga teori-teori yang membenarkan ajaran Islam, sekalipun teori-teori tersebut tidak lahir dari rahim ilmuwan Muslim. Tujuan pencarian ilmu tidak berhenti pada dikonstruksinya teori-teori Islami, melainkan pencarian Kebenaran yang mendekatkan manusia pada Tuhan dan membuat manusia lebih mengenal Tuhan. Itulah tujuan utama Islamic scientific endeavor.

Dalam Islamic worldview, sains bertemu dengan iman sehingga hasil kerja sains pun seyogyanya menyentuh hati seorang ilmuwan atau ‘alim di bidang psikologi, dan membuatnya lebih takut dan tunduk pada Tuhan. Ini tidak hanya adalah sikap keilmuan yang membimbing caranya melakukan riset, tetapi juga sikap hati seorang ilmuwan Muslim terhadap ilmu dan Tuhan-Nya yang Mengusai seluruh pengetahuan. Tidak ada pengetahuan, teori, ataupun metodologi yang tabu bagi ilmu-ilmu Islami ketika semua adalah Milik Tuhan. Ketika pandangan dunia Islam telah tertanam dalam diri dan menjadi kacamatanya untuk melihat fenomena dan membaca teori, insya Allah, atas izin Allah, ia akan dimudahkan untuk melihat ilmu-ilmu Ilahi yang membawa pada Kebenaran.

Paradigma ini jelas-jelas adalah paradigma yang membebaskan seorang intelektual untuk bereksplorasi, tetapi tetap dalam perlindungan Tuhan. Seluruh metode adalah sah baginya, baik kuantitatif maupun kualitatif, karena semuanya adalah jalan saintifik menuju Kebenaran. Seluruh teori adalah kendaraannya untuk mengungkap Kebenaran Ilahi yang universal dan tak lekang oleh waktu. Semua ilmuwan dan ulama adalah “guru”, pertolongan Tuhan, yang membantunya belajar dan memahami. Semua buku adalah Ilmu Allah yang dapat dibacanya tanpa takut. Dan di atas semua itu, Allah adalah Guru Terbesarnya, yang tidak hanya membimbing menuju ilmu yang baik, tetapi juga pertumbuhan diri untuk lebih baik dalam takwa kepada-Nya.

Ketika yang di atas itu telah dipahami dengan betul, sesungguhnya, ironisnya, “sangat mudah” seorang ilmuwan berubah menjadi sekular. Hal itu terjadi ketika ia meneliti topik-topik Islami dan membangun teori-teori dengan nama Islam, tetapi hati dan kepribadiannya tidak demikian. Ia tidak menjaga kebersihan hatinya untuk tetap memelihara keyakinan akan Kemahakuasaan Allah, ia menjadikan ilmu sebagai jalan mencapai nafsu-nafsunya, untuk kekayaan, kebesaran nama, popularitas, dan kemuliaan di antara manusia. Ia terjebak dalam sikap berbangga diri atas banyaknya gelar, keahlian, pengalaman, karya ilmiah, jabatan, dan relasi. Ia merasa benar dengan semua yang telah dikuasai dan diketahuinya. Sekularitas bermula dari hati yang melupakan Tuhan, dan ini lebih berbahaya ketimbang ilmu psikologi modern yang telah jelas berkualitas sekular sehingga mudah diantisipasi.

Banyak orang yang mungkin merasa rendah diri karena kurang berilmu, kurang berkemampuan, kurang berpengalaman dalam ilmu pengetahuan, tetapi segala kekurangan dan keterbatasan itu bukan penghalang bagi Kebenaran jika Tuhan menghendakinya bagi kita. Hal yang lebih penting adalah apa yang ada di dalam hati ketika seseorang tetap berusaha untuk belajar dan memahami hal-hal secara lebih baik. Hati yang menginginkan kebaikan dan pelajaran tentu tidak luput dari Penglihatan Tuhan. Jika Kebenaran itu baik bagi kita, Tuhan akan memudahkan itu bagi kita. Namun, jika kita cenderung bersikap menyia-nyiakan pelajaran dan lebih mementingkan nafsu-nafsu rendah kita, kebenaran yang paling sederhana pun tidak akan sampai pada kita. Kita akan dibiarkan dalam kegelapan dan kebingungan, dibiarkan terbimbing oleh nafsu-nafsu kita, dan tanpa sadar telah berbuat kerusakan.

Wallahu’alam

 

research

One thought on “Membangun Teori Psikologi yang Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s