Memahami Perilaku Ber-hoax Ria

kejujuran
 
Secara psikologis, sebenarnya bagaimana sih orang itu sampai mereka suka dan menyebarkan hoax? Ini menjadi pertanyaan yang masih terus dicari jawabannya. Ingin rasanya memahami mereka dari perspektif mereka sendiri.
 
Pertama kali tahu kata “hoax” adalah dari buku latihan TOEFL bertahun-tahun yang lalu. Namun, baru benar-benar melihat dan merasakan dampaknya adalah ketika Pilpres 2014 yang lalu. Ada situasi yang melatarbelakangi, yaitu kontestasi politik. Karena banyak teman di Facebook adalah pendukung Prabowo, jadi hoax yang banyak di halaman saya berkaitan dengan Jokowi. Saat itu dapat dimengerti bahwa hoax menjadi bagian dari kampanye hitam. Memang ada orang-orang tertentu yang sengaja menciptakan hoax untuk mempengaruhi pendapat dan kecenderungan publik terkait preferensi politik mereka. Hoax adalah alat untuk kampanye ataupun propaganda.
 
Ada banyak contoh hoax yang disengaja. Dari mencermati aspek-aspek dari berita yang disebar, dapat disimpulkan misalnya apa tujuan atau kepentingan di baliknya dari perkiraan hal apa yang secara logis terjadi seandainya berita ini berhasil mempengaruhi publik. Jika dapat ditebak kepentingannya, dapat ditebak pula asal hoax ini, setidaknya di level kelompok, bukan individual. Untuk mengetahui siapa individu, itu perlu penyelidikan tersendiri.
 
Contoh terbaik yang saya dapat adalah kasus e-KTP palsu yang dari tiga wajah serupa hasil olah photoshop, semua menampilkan wajah orang dari etnis tertentu. Kemungkinan pertama, memang ada orang dari etnis tersebut yang ingin punya kesempatan mencoblos lebih. Ini adalah pelanggaran serius, jika benar begitu fakta yang terkuak. Kemungkinan kedua adalah sebaliknya, ada orang yang ingin memfitnah etnis tersebut bertindak curang agar punya kesempatan mencoblos lebih banyak. Yang ini adalah hoax, jika yang disebar adalah fakta buatan yang sebenarnya tidak terjadi di kenyataan bahwa ada di antara orang dari etnis tersebut yang berbuat demikian, untuk merugikan pihak tertentu.
 
Jujur saya tidak mengikuti perkembangan kasus ini, tetapi menanti hasil penyelidikan pihak yang berwajib.
 
Jadi, hoax itu mengandung setidaknya satu hal: fakta buatan. Ini melanggar satu kriteria kebenaran paling dasar, yakni korespondensi antara realitas dan apa yang dikatakan orang. Ini seperti tidak hujan kok bilang hujan. Selanjutnya, fakta buatan ini punya latar belakang kepentingan dan tujuan.
 
Hal yang di atas itu adalah satu wajah dari hoax. Ada wajah lainnya yang mungkin lebih ringan dampaknya karena tidak ada unsur politiknya: hoax untuk mencari sensasi dan menarik perhatian. Biasanya ini berisi pembajakan atas temuan-temuan sains, yang tujuannya ingin membuat orang terkejut, tetapi terkejut asyik karena ada “misteri” yang terungkap, macam “di bulan ada kelinci”, “Candi Borobudur yang buat Nabi Sulaiman”, “orang ini datang dari masa depan”, dan sebagainya. Meski begitu, ini dapat dikatakan pembodohan publik karena klaim yang dibuat sama sekali tak didukung hasil penyelidikan ilmiah dan sama sekali tak membuat orang belajar.
 
Banyak hal menarik lainnya soal hoax. Kabar bohong ini sering disebut juga dengan kabar burung, yang serba katanya-katanya itu. “Katanya, dia itu begini lo…” Hoax berita yang tersebar tanpa sumber yang jelas. Serba katanya, sehingga mau diselidiki seperti apapun, susahnya akan setengah mati karena tidak jelas asalnya. Katanya itu kata siapa? Kata dia. Dia siapa? Teman saya, tapi dari temannya lagi, temannya lagi, temannya lagi, dan seterusnya, panjang sekali rantainya. Hoax yang seperti ini bisa jadi sebenarnya tidak murni kabar bohong. Namun, karena tidak ada sumber referensinya, entah orang, ahli, atau berita resmi, penyelidikan untuk menggali dan menguji kebenarannya jadi mustahil. Hal yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, apakah 100%, 75%, 50% atau 25%-nya saja yang benar. Jadi, ini sama saja bohong dan membuat orang tertipu. Kebenaran itu tidak bisa cuma separuh.
 
Ketika memikirkan hoax jenis ini, jadi teringat kebiasaan sebagian anggota masyarakat yang senang ngrumpi dan kasak-kusuk tak jelas, mengobrolkan dan meributkan sesuatu yang nyata tidaknya dipertanyakan. Karena andalannya adalah katanya dan katanya, keakuratan berita pun dipertanyakan karena tidak ada konsistensinya. Si A bicara ZX, si B yang meneruskan bicara XY, si C bicara YX, si D bicara XZ. Setiap orang punya persepsi, pemahaman, dan interpretasi mereka sendiri-sendiri. Selama tidak ada pihak yang memberikan klarifikasi, sesatlah mereka ditipu pikiran mereka sendiri. Inilah makanya berita tertulis dan resmi menjadi penting, untuk setidaknya mengatasi masalah yang terkandung dalam komunikasi yang seperti ini, dan penting pula tak setiap orang bisa menjadi kantor berita.
 
Yang di atas itu tidak murni pembicaraan tentang sisi psikologis hoax, saya mengakuinya. Ada sisi politik, budaya, dan komunikasi. Meski begitu, sebentar lagi akan sampai ke sana.
 
Upaya yang sekarang mulai ramai untuk mengklarifikasi aneka macam hoax mengambil metode, kalau tidak mengembalikannya pada ahli atau pejabat agar mereka yang berbicara dengan otoritas mereka, menggunakan metode membandingkan berita-berita, mendeteksi titik-titik penyimpangan-penyimpangannya, sampai ditemukan fakta yang konsisten atau berkorespondensi dengan realitas.
 
Ketika sudah menerima klarifikasi, banyak orang akhirnya sadar. Meski begitu, tetap ada orang yang menolak klarifikasi apapun dan kukuh dengan pendapat mereka bahwa yang salah, bohong, dan palsu itu benar. Ini terjadi pada orang yang mana kabar yang mereka yakini berkaitan dengan nilai pribadi atau kelompok yang mereka anut. Di satu sisi, mereka orang-orang dengan standar mereka sendiri dalam menentukan status hal-hal. Namun di sisi lain, mereka orang-orang yang menipu diri mereka sendiri.
 
Orang yang tidak tahu sesuatu itu salah akan yakin keyakinannya benar. Masalah pertama tentu ada di luas dan sempitnya pengetahuan. Ini awal segalanya. Contoh, saya orang abad pertengahan, sezaman dengan Galileo dan Copernicus. Saya tidak pernah tahu bahwa bumi itu mengelilingi matahari. Penyelidikan fisika belum sampai ke sana. Maka ketika Galileo bicara heliosentris, sontak saja saya akan menolak karena bagi saya itu kebohongan dan kesalahan.
 
Contoh lainnya, yang saya tahu Islam itu agama damai, tidak pernah disebarkan dengan pedang. Ada ahli sejarah yang kemudian menyelidiki perang-perang yang dilakukan Muslim yang di dalamnya ada juga kampanye bersenjata untuk menyebarkan dan mengajarkan agama. Wajar saya yakin dia bohong karena dia bertentangan dengan keyakinan saya dan apa yang saya tahu. Pengetahuan saya membatasi mana realitas yang bisa saya terima dan mana yang tidak. Yang tidak bisa saya terima, itulah kebohongan bagi saya.
 
Selain itu, ada pula orang yang tetap meyakini hoax karena pengaruh bias-bias kognitifnya. Misalnya pengaruh bias kognitif adalah “attentional bias”. Persepsi kita akan hal-hal dipengaruhi apa yang terus-menerus kita pikirkan. Kita mbutek di satu hal, sehingga tidak bisa melihat yang lain. Ada yang namanya “bias blind spot”, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Kita merasa diri kita tidak bias, sangat objektif; orang lainlah yang bias. Ada yang namanya “confirmation bias”. Kita hanya mencari dan hanya mau percaya pada informasi yang mendukung atau membenarkan konsepsi-konsepsi awal yang sudah kita punya. Jadinya, kita melihat apa yang ingin kita lihat saja.
 
Bukan karena informasi yang benar dan datanya tidak ada, tetapi kita secara tidak sadar membatasi apa yang bisa kita terima demi macam-macam kepentingan kita. Bagi sebagian orang, keberhasilan tergantung pada apa yang diyakini sebagai benar. Jadi, buat apa mempertimbangkan alternatif lain yang berpotensi menunjukkan kesalahan dan membuat diri ragu? Dan karena kita tidak ingin orang lain berjalan ke arah yang salah menurut kita, kita berikan dia juga hal-hal yang bisa meyakinkannya tetap di jalannya. Karena itulah berita-berita yang benar tapi tidak benar kita sebarkan. Sering ini bukan karena faktanya benar, tetapi keyakinan kita bahwa itulah yang benar.
 
Orang yang menyebarkan hoax pakai perasaan mungkin juga akan marah atau tersinggung jika ada orang mengingatkannya. Ya, bersama kesukaan pada berita itu, tidak bisa dipungkiri ada ego yang bermain, terutama rasa ingin jadi yang benar dan rasa cinta pada diri sendiri. Kita kadang tidak mau dibuat malu karena ternyata kita percaya pada hal yang salah, karena ternyata sebenarnya kita tidak tahu banyak, karena sebenarnya kita salah paham, dan kurang pakai otak.
 
Hoax agaknya dibuat juga dengan prinsip yang sama. Pertama, bisa jadi memang ada kepentingan sehingga fakta-fakta dipelintir sedemikian rupa. Kedua, bisa jadi yang membuat kabar memang tidak tahu secara lengkap dan sempurna. Ia merasa sudah benar, tetapi sebenarnya ia melewatkan macam-macam hal. Bagi orang dia membuat berita bohong, bagi dirinya, dia sudah benar. Ketiga, bisa jadi ya masalah bias kognitif. Masalahnya sudah ada sejak prosesnya mencari data dan informasinya yang dibimbing oleh bias-biasnya, apakah itu konsepsi awalnya, keyakinan awalnya, dan sebagainya. Jadi, datanya adalah data kesukaannya saja. Keempat, bisa jadi dia cuma bercanda dan ingin membuat orang kecele, lalu tertawa.
 
Sedikit penutup. Sebenarnya, perlu dipahami bahwa kebenaran itu barang berharga yang tidak murah harganya. Upaya menghasilkan kebenaran ilmiah misalnya, dapat berlangsung berpuluh-puluh tahun di kalangan para ilmuwan. Belajar dari mereka, produk yang bermanfaat bisa dipastikan adalah keluaran proses yang benar, meski proses yang benar kadang kala tidak berhasil menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan terus-menerus hanya kesalahan yang diproduksi.
 
Upaya kita memahami realitas sama saja seperti itu. Kita ingin kebenaran, tetapi kebenaran didekati orang dengan cara yang berbeda-beda. Hasilnya dapat bermacam-macam, tetapi cara yang benar untuk mendapatkan kebenaran itu adalah yang penting. Selain itu, kebenaran yang bisa kita pahami dengan kemanusiaan kita tidak pernah sempurna. Mau memerangi berita bohong seberhasil apa, pasti ada celah di mana kita akan bisa menggugat alternatifnya karena perbedaan sudut pandang dan tujuan, misalnya.
 
Bagi saya pribadi, semua ini sebenarnya pelajaran untuk merendahkan diri. Klaim-klaim kebenaran itu tidak pernah benar. Mengakui kesalahan itu bukan sikap yang salah. Sadar kekurangan diri itulah yang bijak sembari belajar dari kebenaran yang ada pada orang lain.
 
Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar mengajak orang agar tidak menyebarkan hoax dan tidak membuat hoax, tetapi membantu mereka berpikir kritis, evaluatif, dan introspektif terutama pada diri sendiri. Situasi di luar diri yang kacau-balau karena kebohongan adalah dunia yang sebenarnya memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih bernilai. Kata sebagian ahli kuncinya adalah dengan literasi media, tetapi bagi saya kuncinya adalah dengan melek akan harkat diri sebagai manusia. Manusia yang punya integritas dan harga diri tidak akan mau disentuh kebohongan dan kebodohan.
 
🙂
 
*Ditulis berdasarkan pengamatan, sedikit pengetahuan, dan pengalaman pribadi.
Advertisements

2 thoughts on “Memahami Perilaku Ber-hoax Ria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s