Lingkaran Syukur dan Perilaku Ibadah (yang Benar)

Ibadah: Berawal dari Syukur, Berakhir dengan Syukur

1# Anugrah Nur Ilahi (Hidayah)

Ketahuilah, bahwa pertama kali hamba bergerak untuk beribadah dan menekuni jalannya adalah melalui buah pikiran yang datang dari langit, dari Allah dan pertolongan khusus-Nya.

“Apakah kau kira sama orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah dengan orang yang tidak dikaruniai kelapangan hati? Tentu tidak! Orang yang dikaruniai kelapangan hati, pasti berlaku (hidup) menggunakan dasar nur dari Tuhan.”

2# Sadar akan Nikmat Ilahi dan Keharusan Bersyukur

Pada permulaan, di hati hamba tergerak begini: “Aku ini selalu dikaruniai berbagai nikmat oleh Allah. Dzat yang memberikan kenikmatan yang beragam ini tentu menuntut kepadaku supaya aku bersyukur dan melayani-Nya. Jika aku lalai dari melayani dan bersyukur kepada-Nya, pasti Dia akan menghilangkan nikmat-nikmat itu dan akan menyiksaku.”

3# Dorongan untuk Mengetahui Apa Tuntuan-tuntutan Tuhan

Allah yang menganugerahkan segala rupa nikmat itu telah mengutus seorang utusan (Nabi Muhammad). Utusan itu sudah menceritakan kepadaku bahwa aku ini punya Tuhan… Dia telah memberikan janji dan ancaman, serta memerintahkan supaya aku senantiasa melaksanakan peraturan agama Islam.

4# Kekhawatiran akan Keselamatan Diri

Sesudah tahu apa tuntutan Tuhan lewat ajaran Nabi, hamba tersebut merasa takut, mengkhawatirkan dirinya, bagaimana seandainya nanti ada tuntutan dari Allah dan dia tidak melaksanakannya? Keadaan perasaan ini adalah gerak hati yang mengingatkan dan mendesak hamba untuk bertindak, menolak semua alasan tidak berbuat, mendorongnya agar berpikir, dan mencari dalil penguat tindakannya. Kalau sudah begitu, hamba tentu bergerak. Hatinya selalu resah memikirkan bagaimana supaya selamat, aman, dan tenteram.

5# Dorongan Memahami Ilmu Agama

Untuk selamat, jalan yang ada hanyalah merenungkan dalil dan membuat dalil tentang keberadaan makhluk yang menunjukkan adanya Pencipta, supaya memiliki ilmul yaqin, mengetahui apa yang tidak terlihat oleh mata kepala, dan mengetahui bahwa ada Allah yang memberinya tugas, memerintah dan melarang. Inilah jalan pertama ibadah: Jalan Ilmu dan Ma’rifatullah.

6# Kesadaran Punya Dosa dan Kesalahan

Setelah menyempurnakan ilmu dan tahu mana yang wajib untuk dikerjakan, baik yang lahir maupun batin, ia pun tergerak untuk bertindak dan sibuk beribadah. Namun, ia merenung kembali, ternyata dirina adalah orang yang punya berbagai kesalahan dan dosa (meski sudah beribadah seperti itu).

Ia pun bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana aku hendak beribadah, sedangkan diriku masih berbuat maksiat? Aku wajib bertaubat terlebih dahulu … sehingga aku patut melayaninya dan mendekatkan diri padanya.” Inilah jalan kedua ibadah: Jalan Taubat.

7# Kesadaran Hambatan-hambatan Ibadah

Setelah berhasil melakukan taubat yang benar, ia bersemangat kembali untuk beribadah. Namun, ia berpikir-pikir lagi bahwa melihat sekitarnya, banyak hambatan yang membuatnya malas beribadah: kepentingan duniawi, pengaruh lingkungan, godaan setan, dan pengaruh nafsunya sendiri. Ia pun memasuki perjuangan selanjutnya: membebaskan hati dari kepentingan duniawi dan pengaruh lingkungan, memerangi godaan setan, dan menggempur nafsu dan mengendalikannya. Dari empat ini, yang paling berat dihadapi adalah nafsu. Inilah jalan ibadah ketiga: Jalan Memerangi Nafsu.

8# Kesadaran Ujian-ujian Ibadah

Setelah memerangi nafsu, ia pun dicegat lagi oleh rintangan selanjutnya, terkait persoalan rizki, aneka gerak hati, macam-macam bencana dan malapetaka, dan berbagai ketentuan Allah. Ia kembali harus berusaha: bertawakal kepada Allah dalam menghadapi rintangan rizki, pasrah kepada Allah atas aka yang dikhawatirkan, sabar dengan datangnya berbagai bencana, dan ridha atas takdir Allah. Inilah jalan ibadah keempat.

9# Mengharap Bantuan Allah, Takut akan Tindakan-Nya

Setelah melalui jalan sebelumnya, ia kembali menemukan masalah bahwa kadang-kadang ia kehilangan gairah dalam menghadapi kebaikan. Nafsunya cenderung suka lupa, suka santai-santai, suka menganggur, bahkan mengajak pada yang jelek-jelek, omong kosong, mencari celaka, dan bodoh.

Ia merasa butuh pendorong yang bisa menggiringnya pada kebaikan dan penahan yang bisa mencegahnya dari perbuatan maksiat dan perbuatan jelek lainnya. Pendorong dan pengekang itu adalah rasa raja’ dan khauf, mengharap bantuan Allah dan takut akan tindakannya. Inilah jalan ibadah kelima.

10# Kesadaran Ancaman Riya’ dan Ujub

Setelah ibadahnya baik sekalipun, ia berpikir lagi, kadang-kadang ia menampakkan ibadahnya kepada orang lain (riya’). Kalaupun tidak mempertontonkan ibadahnya, ia mengagumi dirinya sendiri (‘ujub). Dia pun menghadapi masalah lain yang besar, yang dapat membuat ibadahnya yang sudah susah-payah ia lakukan kehilangan pahala dan rusak. Ia berjuang untuk ikhlas dan ingat kembali bahwa BISA BERIBADAH PUN ADALAH ANUGERAH ALLAH. Ia mulai berhati-hati, mengandalkan pemeliharaan Allah dan bantuan kekuatan dari-Nya. Inilah jalan ibadah keenam.

11# Kesadaran Harus Senantiasa Bersyukur

Ketika ia sudah menempuh segala jalan dan ibadahnya selamat dari cacat, ia kembali merenung bahwa sesungguhnya, hidupnya dan semua amalnya, adalah anugerah dan nikmat Allah. Allah yang memberinya hidayah, pertolongan, penjagaan, tunjangan, pemeliharaan, dan kemuliaan. Ia pun jadi khawatir jika lupa bersyukur kepada Allah sehingga ia pun kembali pada kekafiran, kufur nikmat dan diturunkan kembali ke derajat yang rendah. Jika ia tidak bersyukur, ia takut nikmat-nikmatnya akan hilang. Ia pun berjuang untuk banyak-banyak bersyukur. Inilah jalan terakhir menuju kesempurnaan ibadah.

Berawal dengan syukur, berakhir dengan syukur. Itulah siklus proses ibadah.

Sumber: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. (1986). Meniti Jalan Menuju Surga: Terjemah Minhajul Abidin (Penerjemah: M. Adib Basri). Jakarta: Pustaka Amani, h. 10-28

 

 

***

Sedikit Pandangan tentang Perilaku Ibadah

 
Ibadah adalah sebentuk perilaku yang terdiri atas dua dimensi, lahir (apa yang tampak dari laku tubuh kita) dan batin (apa yang menjadi gerak hati). Tidak ada ibadah yang benar jika seseorang hanya memperhatikan dimensi lahir (misal dengan shalat), tetapi mengabaikan apa yang ada di dalam hatinya (misal shalat dengan riya’). Orang yang demikian tampak sempurna di mata, tetapi sebetulnya dia adalah pendusta agama.
 
Ibadah adalah ketetapan yang melekat sebagai jalan hidup makhluk dan fitrahnya, dan penyelewengan atas hal ini adalah suatu kezaliman, bukan pada Tuhan, melainkan pada diri sendiri, suatu penyimpangan atas tujuan penciptaan. Manusia di segala masa memiliki peribadahannya, menjadikan ini suatu perilaku yang universal. Ia dipahami berangkat dari suatu kebutuhan mencari keselamatan dari bahaya dan penderitaan, dan meminta perlindungan pada Yang Berkuasa, menurut pandangan sosiologis.
 
Meski begitu, menurut Islam, itu bukanlah hakikat ibadah yang sebenarnya. Memang ada kebutuhan akan keselamatan, tetapi ada hal yang jauh mengawali itu semua, sesuatu yang pertama dan utama, sesuatu yang menjadikan peribadahan dalam Islam adalah suatu bentuk penghambaan diri yang manis, indah, dan mesra kepada Tuhan, yakni: kebutuhan untuk mengekspresikan rasa syukur atas nikmat Tuhan, bukan rasa takut.
 
Kebersyukuran adalah motivasi paling fundamental dari perilaku ibadah. Tanpa ada unsur ini, apa yang tampak sebagai ibadah sejatinya bukan ibadah. Dari perspektif ini, ibadah adalah pengakuan dan penyaksian atas tindakan baik Tuhan kepada diri. Perilaku ibadah diawali dengan kesadaran akan suatu kebaikan dan Tuhan yang Maha Penyayang, sehingga buah dari kesadaran itu pun adalah perilaku baik yang termanifestasi dalam perilaku ibadah.
 
Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa “perilaku ibadah” adalah masalah umat manusia abad ini. Begitu banyak kezaliman, kekacauan, kehancuran, dan pertumpahan darah disebabkan oleh orang-orang yang (merasa dirinya sedang) beribadah lantaran dia menyatakan dan menjadikan Tuhan adalah tujuan perilakunya, bahwa semua yang dilakukannya adalah “untuk Tuhan”. Ia menjadikan aspek tujuan sebagai satu-satunya paramater bahwa perilakunya adalah ibadah.
 
Dua orang yang berbeda dapat sama-sama menujukan perilakunya pada Tuhan, tetapi berbeda perjalanan yang akan ditempuh keduanya ketika yang satu terdorong oleh rasa syukur atas nikmat, yang lain terdorong oleh rasa marah atas masalah, bencana dan penderitaan yang melanda manusia di bumi. Lantaran rasa syukur nikmat itu yang satu ingin menyebarluaskan rahmat Tuhan di bumi, sementara lantaran rasa marah yang lain ingin menciptakan surga di bumi dan mengenyahkan para anti-Tuhan.
 
Motif orang kedua sesungguhnya adalah sebentuk kufur nikmat yang tersamar. Jika kita jeli, kufur nikmat di antaranya diekspresikan lewat kecenderungan hati melihat sisi gelap dan pahit dari takdir Ilahi dan perilaku “mengeluh”. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, tidak ada bedanya antara nikmat dan ujian. Dalam nikmat terkandung ujian, dalam ujian terkandung nikmat Tuhan. Apapun yang terjadi, selalu ada jalan untuk bersyukur.
 
Banyak orang menyalahkan lemahnya keimanan dan takwa sebagai penyebab penderitaan dan musibah (baca: dicabutnya nikmat Allah dari kehidupan), tetapi tidak jitu menyadari bahwa persoalan sesungguhnya adalah kekufuran. Nikmat dicabut bukan karena tidak beriman dan bertakwa, tetapi karena orang yang mengaku beriman dan bertakwa itu tidak bersyukur. Nikmat kehidupan pun tidak bertambah juga karena tidak bersyukur. Jika ibadah yang benar adalah kunci kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat, bagaimana bisa ia benar beribadah jika seseorang tidak benar dalam bersyukur?
 
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu mengubah keadaan yang ada pada dirinya sendiri.”
 
Apa yang pertama kali perlu diubah bukan sistem yang mengatur dunia eksternal, bukan penampilan fisik, bukan perilaku menjadi religius, melainkan rasa yang ada di dalam qalbu: adakah kebersyukuran di sana? Seberapa besarkah kebersyukuran di dalam sana? Seberapa murnikah kebersyukuran itu tanpa tercemar kekufuran?
 
Ketika seseorang bersyukur, benar-benar adakah yang salah dari jalannya kehidupan yang digariskan Tuhan ini? Ia akan mensucikan Tuhan, bahwa sempurna perilaku Tuhan termasuk dari menzalimi hamba-Nya. Ia akan meminta ampunan dan merendahkan diri karena terhadap nikmat Tuhan yang sedemikian besar dan tak terkirakan, ia tidak mampu membalas apapun selain melaksanakan apa yang diminta Tuhan agar dilaksanakannya: beribadah kepada-Nya. Ia akan mengakui kebesaran Tuhan sejak menyadari kelemahan dan kerendahan dirinya.
 
Rasa syukur yang menyentuh hati itulah yang kiranya hilang dari dalam jiwa ini. Jika kita mampu mengajarkan dan mengajak orang-orang untuk menjadi ahli syukur, tentu itu akan lebih baik, insya Allah, ketimbang mengajaknya untuk melawan sesama manusia dan menjerumuskan dirinya sendiri lantaran kemarahan, kekecewaan, kebencian, dan apapun kepada sesama makhluk. Sungguhkan orang seperti itu yakin bahwa balasan Allah pasti di akhir perjalanannya?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s